Oleh : Ruslan Ismail Mage
Judul tulisan ini terinspirasi dari cerpen fenomenal A.A. Navis berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerpen yang dinilai sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia ini bercerita tentang seorang kakek penjaga surau (masjid ukuran kecil) yang protes kepada Tuhan karena ternyata ketekunannya merawat surau dan beribadah setiap waktu tidak menolongnya masuk surga. Pada hari penghitungan, ia dimasukkan ke dalam neraka. Ia pun protes dan menganggap Tuhan keliru. Dijelaskanlah kepadanya alasan ia dimasukkan ke dalam neraka. Kamu tinggal di bumi Indonesia yang mahakaya raya, tapi engkau abaikan semua kekayaan negerimu, hingga anak cucumu teraniaya semua.
Lalu apa hubungan dengan judul tulisan ini? Untuk mendeskripsikan hubungannya, saya akan memulai dengan meminjam pemikiran Antropolog Mataram Dr. Alfisahrin, M.Si. yang mengutip buku provokatif berjudul “Dark Academia: How Universities Die” karya Peter Fleming yang menyoroti semakin melemahnya daya tahan universitas akibat gelombang kapitalisme yang menyapu bersih hampir semua elemen kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak terkecuali jantung dan rahim etik-ideologis perguruan tinggi.
Narasi-narasi provokasi dan sarkastik yang diuraikan Fleming sangat kontekstual dengan situasi psikososial sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Terlebih setelah berlakunya PTN-BH yang secara perlahan-lahan berkemungkinan kampus bertransformasi menjadi korporasi yang menghidupi dirinya. Negara memberikan hak otonom mengatur rumah tangga sendiri khususnya berkaitan dengan kemandirian dalam tata kelola keuangan, termasuk kesempatan mencari sumber-sumber pembiayaan mandiri setelah pemerintah menyiapkannya dana abadi 7 T.
Akibat kondisi itu, ada kekhawatiran idealisme kampus sebagai tempat memproduksi pikiran kritis dan ide-ide besar, menjadi dipertaruhkan. Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat pengalaman pemberian otonomi daerah kepada daerah untuk mengurus rumah tangga sendiri akhirnya berimbas juga terciptanya desentralisasi korupsi. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan ke depan akan melihat banyak pimpinan perguruan tinggi menjadi pasien KPK.
Bergesernya Fungsi Kampus
Kekhawatiran itu sesungguhnya sudah digambarkan oleh intelektual Prancis Pierre Bourdieu yang mengatakan, “Kampus tidak lagi menjadi produsen gagasan produktif untuk pembelaan terhadap sejumlah alienansi dan marginalisasi, tetapi hanya sekadar menjadi peternak bidak korporasi atau kekuasaan”. Saya tidak mengatakan pemberian dana abadi 7 T itu secara tidak langsung menjadi alat kontrol penguasa untuk memandulkan salah satu fungsi kampus sebagai tempat tersemainya pemikir-pemikir kritis, atau sebagai terminal pergerakan intelektual. Namun tidak juga harus dinafikan.
Kampus yang sejatinya tempat para akademisi menguji gagasan, memperdebatkan rumus-rumus ilmiah, penemuan nilai-nilai baru lewat kajian-kajian akademik, tumbuh suburnya pemikir-pemikir kritis, dan menjadi panggung munculnya karya-karya besar, mulai direduksi fungsinya bergeser menjadi ladang perburuan rente ekonomi, tempat destinasi penjilat, pembisik, dan pencari muka berbulan madu, sementara penyuara kebenaran diasingkan ke balik dindìng kampus (kampus merdeka yang bersuara dalam goa). Belum lagi jurnal sinta dengan varian tingkatan dan scopus lagi-lagi dimasuki juga paham kapitalisme karena disinyalir jurnal ilmiah berbayar. Lalu di mana letak nilai-nilai kompetisi ilmiahnya?
Ada kecenderungan kesuksesan dan kehebatan dosen diukur seberapa banyak jurnal ilmiah dilahirkan, atau seberapa sering namanya bertengger di scopus. Bukan dinilai seberapa banyak gagasan besarnya menyuarakan penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Bukan seberapa sering muncul ke ruang-ruang publik melakukan advokasi kepada kaum terpinggirkan dan termarginalkan sistem kapitalis. Bukan seberapa banyak menawarkan solusi-solusi alternatif pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat.
Kalau kekhawatiran Pierre Bourdieu terbukti, tentu saya lebih khawatir lagi jangan-jangan mengikuti jejak kakek penjaga surau seperti paragraf pertama tulisan di atas. Kekhawatiran saya muncul karena belum maksimal memupuk nilai-nilai idealisme sebagai akademisi, dan terlambat menyadari pentingnya mengeksplor pemikiran kritis mahasiswa untuk bangkit menjaga negerinya dari kapitalisme yang melakukan perampokan kekayaan alam secara besar-besaran.
Tentu tidak ada yang ingin mengikuti jejak sang kakek masuk neraka. Nasihat untuk diriku sendiri, saya akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menemukan kembali momentum intelektual dalam menjaga dan merawat ibu pertiwi. Saya tidak memilih diam dan akan terus bersuara, minimal melalui karya-karya buku. Saya tidak ingin idealisme jiwa mudaku ikut roboh. Kalau pun sudah roboh karena termakan usia, saya akan memungut satu per satu puing-puing berserakan itu untuk saya rekonstruksi ulang menjadi akademisi yang istikamah memilih jalan norma. Walau saya sadar jalan norma adalah jalan sunyi di tengah keramaian orang mengabaikan norma, tetapi saya menyakini jalan norma yang sunyi senyap itu adalah jalan menuju taman-taman surgawi. Bagaimana dengan Anda? Apa idealismenya masih berdiri tegak, semi roboh, atau sudah ikut roboh tertimpa robohnya idealisme kampus?
*Akademisi, inspirator, dan penggerak, penulis buku-buku motivasi

Saya akan menjadi pribadi yang mempertahankan nilai nilai idelisme serta meningkatkan akademis saya, supaya kelak masa depan saya cerah dan memiliki arah tujuan yang benar dan tidak melakukan hal yang diman cerit tentang kakek diatas yang tidak memikirkan akhir dan masa depan nantinya.