Sejak masa pandemia Covid -19 aku justru merasa tak ada ketakutan meskipun di lingkungan aku menetap semua orang merasa ketakutan bahkan trauma karena terpengaruh oleh situasi pendemia Covid-19 di negara Eropa dan Amerika serta Asia. Kala itu masyarakat lebih trauma jika Kaabah di Mekah Jadi Sepi dan Gereja di Roma pun demikian, membuat semua masyarakat global benar-benar trauma. Aku justru berpikir kala itu mengapa harus takut kematian, jika ada kehidupan tentu akan ada kematian. Mengapa semua orang di muka bumi ini menjadi fanatik bagi virus, bukan fanatik mendalami iman ? Itu yang terus menjadi pertanyaan aku kala itu.
Waktu terus berjalan Graz yang awal mula begitu bejuang mati-matian berkomitmen pun menjadi aneh sendiri di tempatnya. Sejak pertemuan awal ia tidak pernah berhenti berkomunikasi. Aku lalu mencoba pertanyaan kedua baginya. Siapa nama asli/Lengkap kamu Graz? Apakah aku yang Security serta amal ini sekarang sudah bisa masuk ke dalam agendamu? Hingga kamu serius bertanya nama lengkapku, ujar Graz. Hmm aku cuman mau tahu saja karena sudah banyak Mafia Psikologi di era ini Graz dan aku tidak ingin kamu salah satu dari mereka. Hahaha aku sudah tahu Art profesiku untuk membrantas para mafia bagaimana mungkin aku jadi subjek lagi untuk profesi itu ujar Graz. Okey kasih tahu sudah jangan basa -basi malas, kata Art. Nama aku berinsial DA cukup aku kasih insial saja okey. Hmmm DA itu artinya apa coba! Ujar Art lagi. Simpan saja si benak kamu Art suatu saat jika Tuhan mengabulkan doa-doaku akan aku beritahukan kamu siapa aku sesungguhnya. Keras kepala juga Art Jengkel. Tiap hari saling bertegur lewat chat hingga hubungan persahabatan kami hampir tiga bulan.
Aku benar merasa nyaman sama keafiran Graz dalam hidup aku. Meskipun ia orang yang sederhana tapi terlalu jujur pada dirinya. Ah apakah dia juga sama berpikir kayak aku? Tanya aku dalam hati. Lalu terus menerus seperti itu relasi kami.
Suatu ketika di masa pandemia Covid- 19 di mana aturan makin tegas tiba-tiba Graz menelfon tapi aku tidak terima karena sibuk. Akhirnya ia meningglakan pesan lewat chat WA. Art I Miss You sambil mengedit foto aku dan dirinya. Ketika aku usai dari kesibukan dan hendak mencek notifikasi justru chat pertama dari WA adalah Graz sambil mengirim foto-foto aku dan dia seindah mungkin. Aku terkejut membaca kata yang Ia rangkaikan kala itu I Miss You. Kok bisa ya Graz melakukan semua itu pikir aku dalam hati. Aku langsung membalasnya apa maksud dari kata-kata itu Graz ? Ya aku merindukan kamu Art apa ada yang aku salah ketik ? Graz balik bertanya.
Graz kita bukan lagi anak ingusan yang baru mau menjaling hubungan cinta monyetkan? Kita semua sudah dewasa dan selama ini aku akui kamu sahabat terbaik yang aku punya, serta kamu adalah orang yang penuh perhatian ke aku selama pandemia Covid-19. Aku salut Graz atas perjuangan kamu memilih aku menjadi temanmu.
Kita tidak harus kayak anak kecil yang baru mau belajar merangkai kata I miss you dan aku sudah benaran anggap kamu sebagai teman terbaik aku. Tidak Art jujur sejak melihat fotomu pertama kali di facebook kamu, aku ingin ungkapin perasaan aku ke kamu Art, hanya menunggu konfirmasi tapi tidak pernah memperoleh jawaban yang pasti. Ketika kamu sudah ada di depan mata dan di saat komunikasi kita sudah berjalan lancar mengapa kamu terus memberikan aku alasan yang tidak masuk akal Art, ujar Graz.
Graz jujur siapa diri kamu sebenarnya. Aku tidak mau kita berlagak kayak orang gila di belakang layar HP karena sebagai manusia kita harus tahu cara menggunkan HP bukan cara HP menggunakan kita Graz. Sesungguhnya aku jujur pada hatiku, mengapa kamu sampai mau senekad ini di saat aku sudah menganggap kamu adalah teman bahkan sahabat terbaik aku Graz, aku bingung. Usia bukan anak belia atau anak remaja dan aku sadar jika kamu bukan seperti foto-fotomu yang pertama kamu kirimkan buat aku Graz. Ingat kamu adalah foto terahkir itu berarti kamu bukan anak muda lagi.
Aku paham kata-kata kamu aku tahu aku salah tapi jujur aku sudah terlanjur menyukai kamu dan aku nekad sejak dulu di hari pertama melihat foto-fotomu Art. Stop Graz jangan ulangi lagi kata-kata itu aku jenuh jawab Art.
Part 3
