Oleh Besse Rismawati

Hati mendua itu menyiksa, terlebih kalau dua-duanya baik. Seperti  yang pernah kualami, Selama delapan tahun berada dalam kebingungan, memilih yang mana terbaik bersamaku. Keduanya sama, memberiku kedamaian, dan tidak pernah muncul konflik satu sama lain. Keduanya memahamiku penuh perhatian, mau menerima aku apa adanya. Itulah yang membuatku susah untuk  memilih salah satunya.

Jika Sejak  awal aku bisa memilih, pasti hatiku memilih fokus hanya satu. Namun keadaan  waktu itu membuatku harus mendua, karena keduanya benar-benar butuh aku. Beberapa kali kucoba mengambil sikap demi kebaikan semua pihak,  tetapi selalu ada kesedihan menyelimuti jiwaku. Aku  Benar-benar laksana berdiri di persimpangan jalan, Maju atau mundur, ke kiri atau ke kanan. Aku benar-benar berada pada kebingungan teramat dalam,  hingga pada akhirnya aku  tersadar  bahwa aku  harus memilih. Sebagai wanita aku tidak mungkin selamanya hidup membagi dua hatiku dan cintaku.

Sejak awal tinggal dan menetap di desa ini, sejak itu pula rasanya aku mulai bertarung dengan keadaan, dengan mengemban amanah sebagai aparat desa. Sebagai orang yang dipercaya dengan tugas sebagai  bendahara desa, tentu keberadaanku tidak serta merta diterima baik oleh semua warga. Namun seiring bergulirnya waktu, keadaan pun mulai berdamai denganku, hingga membuatku merasa nyaman meniti hari.

Sejak itupun aku memilih satu pekerjaan lagi yaitu berjuang di dunia pendidikan, tepatnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Saya merintis dari awal dengan benar-benar memulai dari nol. Semakin hari semakin berjalan dengan baik, hingga aku memutuskan untuk terus mendua. Maksudnya tetap pada pekerjaan awalku sebagai bendahara desa, sambil mengembangkan terus PAUD yang sudah memperlihatkan perkembangan.

Awalnya kedua-duanya berjalan mulus, tetapi lama-kelamaan sudah mulai muncul ketidakadilan bagi salah satunya. Membagi waktu bersamaan untuk keduanya tentu tidak mungkin. PAUD dan DESA, aku mencintai bekerja di keduanya. Keduanya baik bagiku dan kami saling membutuhkan. Apakah aku egois? Rasanya aku tidak egois,!  karena aku ikhlas mencintai keduanya dan memaksimalkan pekerjaanku di keduanya.

Guru yang ada di PAUD sangat memahami keadaanku, mereka merasakan bagaimana sibuknya aku di pelayanan desa, sehingga waktuku  terbagi ke PAUD hanya mulai Jam 7 sampai Jam 9 Pagi. Setelahnya itu aku melaksanakan tugas di kantor desa hingga siang.

Tiba saat aku menerima SK baru dari kepala desa yang baru sebagai Sekertaris Desa. Tentunya semakin bertambah banyak tugasku yang akan berdampak semakin sulitnya mengatur dan menyiapkan waktu pagiku di PAUD.

Hatiku yang mendua saya jalani sudah kurang lebih Enam tahun. Hingga pada akhirnya di akhir tahun 2019 aku terpaksa menentukan pilihan melepaskan pekerjaanku di desa, dan lebih fokus mengelola dan membesarkan PAUD. Alhamdulillah selama dua tahun terakhir fokus hanya satu amanah, Nampaknya terus memberikan harapan. Aku benar-benar mencintai pekerjaan sebagai tenaga  kependidikan. Sahabat, hidup ini pilihan, dan aku sudah memilih menjadi seorang guru sebagai pengabdian dan ladang amalku.

(Visited 313 times, 1 visits today)
7 thoughts on “Maafkan Aku Pernah Mendua”
      1. Paling mudah memang menulis ttg apa yg kita alami, dlm hidup memang harus menentukan pilihan maka disinilah perlunya ketika kita menjalanx amanah sebisa mungkin kita juga menyiapkan kader yg akan mampu menggantikan amanah yg kita jalani di kemudian hari. krn segala sesuatu ada masax. sukses selalu bu.

  1. Dalam hidup memang harus menentukan pilihan maka disinilah perlunya ketika kita menjalanx amanah sebisa mungkin kita juga menyiapkan kader yg akan mampu menggantikan amanah yg kita jalani di kemudian hari. krn segala sesuatu ada masax. sukses selalu bu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.