Di antara retakan tubuh dan jiwa,
Tuhan datang diam-diam menyapa.
Bukan dalam tawa, bukan dalam pesta,
Tapi dalam luka yang tak bersuara.
Sakitku bukan amarah langit,
Tapi surat cinta yang Tuhan tulis.
Lewat denyut yang perih dan lirih,
Ia memelukku dalam kasih yang bersih.
Setiap tetes air mata yang jatuh,
Adalah doa yang tak pernah rapuh.
Setiap napas yang terasa berat,
Adalah irama kasih yang tak tersesat.
Sakit mengajariku untuk diam,
Mendengar suara-Nya dalam malam.
Mengikis ego, membentuk hati,
Menjadi tanah bagi benih kasih sejati.
Tuhan tak menjauh dalam derita,
Ia hadir di peluh dan air mata.
Memanggil lembut dari balik pilu,
“Anak-Ku, Aku menyertaimu.”
Kini kutahu, sakit bukan akhir,
Tapi awal dari cinta yang lahir.
Sekolah cinta yang kudalami,
Bersama Tuhan yang abadi.
by profa Elvira P.Xim’25
