Oleh : Tammasse Balla
Cinta itu seperti taman yang tak boleh ditinggal musim. Ia harus disirami, dijaga dari ilalang prasangka, dan disinari dengan matahari kesabaran. Istri bukan hanya teman sebantal, tapi separuh napas yang Allah titipkan dalam bentuk manusia. Ia bukan sekadar tubuh yang memeluk, tapi jiwa yang merawat luka suaminya tanpa pernah mengeluh. Dalam diamnya, ia menyulam hari-hari menjadi pengorbanan. Dalam senyumnya, ada langit yang ditopang air mata.
Kau pasti pernah tergila-gila padanya. Waktu mempertemukan pandangan kalian seperti rembulan yang jatuh di pelupuk senja. Kau dekap dia dalam doa, dalam angan, dalam harap yang tak henti. Siang-malam me jadi impianmu. Lalu kini, ketika usia mulai mengubah rona wajahnya, apakah cintamu ikut memudar? Ketika jengkel datang seperti angin panas di ladang gersang, jangan biarkan hati menjadi tanah retak. Bukalah album masa lalu. Pandang matanya yang dulu merebut jantungmu dari dada.
Istri itu langit yang tak pernah meminta awan agar memujinya. Ia rela menjadi tanah tempat pijakan anak-anakmu tumbuh. Perutnya pernah membuncit demi membawa darahmu dalam rahimnya. Punggungnya pernah remuk oleh lelah, tapi bibirnya tetap mengeja doa untuk rumah ini. Ia bukan bidadari, tapi cintanya lebih tulus dari khayalan surga.

Air matanya adalah bahasa yang tak perlu terjemahan. Sekali jatuh, itu bukan karena lemah, tapi karena terlalu kuat menyimpan luka yang tak ingin menyakitimu. Jangan kau nodai kesetiaannya dengan sikap acuh. Jangan kau bunuh harapannya dengan diam yang membeku. Istri adalah doa yang hidup, ia tidak pernah lelah menanti suaramu dalam setiap sunyi.
Cinta tidak boleh tua, sekalipun rambut telah memutih dan tangan keriput. Ia seperti angin yang tak terlihat namun dirasa. Rawat ia seperti kau rawat kenangan saat pertama kali menggenggam tangannya di pelaminan. Jangan biarkan waktu mencuri kelembutanmu. Sebab istri bukan sekadar pasangan, tapi takdir yang harus disyukuri.
Kadang ia hanya ingin didengar. Bukan disela. Kadang ia hanya ingin ditatap. Bukan diabaikan. Kadang ia hanya ingin kau genggam tangannya tanpa bicara, sebab dalam genggaman itu ia tahu, cintamu belum pergi. Bila suaramu tinggi, ia akan tetap diam—bukan karena kalah, tapi karena tak ingin rumah ini roboh oleh amarah.
Ia tak meminta intan. Tak menagih emas. Ia hanya ingin rasa aman. Hanya ingin tahu bahwa bila malam menua, ada tangan yang tetap setia menyelimuti pundaknya. Ia tak minta disanjung. Hanya ingin dikenang. Bahwa dulu, ia pernah jadi gadis yang kau puja setengah mati.
Istri adalah musim semi yang tak pernah lelah menyambutmu pulang, meski langkahmu membawa jejak hujan. Ia adalah tempat di mana segala kesombonganmu boleh runtuh, segala tangismu boleh meledak. Di hadapannya, kau bukan siapa-siapa—hanya seorang lelaki yang pernah berjanji tak akan pergi, meski dunia berubah.
Jadi, bila nanti waktu membawa kalian ke gerbang tua, dengan tangan gemetar dan mata yang rabun, tetap genggam tangannya. Ucapkan, “Aku mencintaimu,” walau terbata-bata. Jangan tunggu pusara memisahkan, baru kau menyesal tak cukup mencintainya. Rawat cintamu hari ini—sebab cinta, seperti bunga di tepi jendela, hanya mekar jika diberi cahaya dan percikan air.
Makassar, 15 Juli 2025
Pk. 18.07 WITA
