Oleh: Muhammad Sadar*

Setiap musim tanam padi akan tiba, para pelaku pertanian khususnya petani menyibukkan diri dalam menyiapkan benih yang cocok di lingkungannya. Petani sangat berhati-hati memutuskan pilihan varietas untuk budidayanya terutama pada musim tanam pertama. Untuk keberlanjutan musim tanam berikutnya, penggunaan sarana benih sebagai faktor penentu produksi, maka opsi bahan tanam berkualitas harus efektif dan tepat dengan mempertimbangkan berbagai sisi seperti umur tanaman, potensi hasil, ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan maupun anjuran ekosistem atau ketinggian tempat.

Benih padi memiliki peran sentral dalam budidaya tanaman pertanian. Kontribusi benih terhadap produktivitas tanaman sebagai garansi atau menjadi unsur pilihan untuk menghasilkan produksi yang optimal. Beberapa jenis benih padi yang tersebar dalam berbagai varietas unggul baru diantaranya adalah varietas yang tergolong padi non hibrida serta berbasis genjah atau yang memiliki umur matang fisiologis paling lama 105 hari setelah semai atau bahkan tidak cukup 100 hari lapangan seperti Inpari 11,12,13, 18,19,20,34,35, M70D, dan Inpari Sidenuk maupun Cakrabuana Agritan dan Padjajaran Agritan.

Diantara varietas genjah tersebut diatas, Inpari 13 merupakan seri Inbrida Padi Irigasi atau lazim disebut Inpari yang hanya berumur 99 hari dan telah dilepas pemerintah melalui SK Menteri Pertanian Nomor 2143/Kpts/SR. 120/6/2010 Tanggal 03 Juni 2010. Selain dari sisi umur tanaman yang pendek, keunggulan lain Inpari 13 adalah tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 1, 2, dan 3, namun agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, IV, dan VIII, serta tahan penyakit blas ras 033, agak tahan ras 133, 073, dan 173 tetapi rentan tungro.

Aspek lain dari Inpari 13 yaitu jika dinikmati dari unsur tekstur nasi akan terasa pulen yang merupakan indikator mutu olahan beras konsumsi. Kadar amilosa sebesar 22,40 persen dengan indeks glikemik (IG) 45 yang berkategori rendah. Beras yang tergolong IG rendah, baik dikonsumsi bagi penderita diabetes dalam melaksanakan diet. Rata-rata hasil mencapai 6,6 ton per hektare GKG dengan potensi produktivitas per hektare mampu dicapai 8,0 ton GKG. Sedangkan anjuran tanam cocok pada eksosistem sawah tadah hujan dataran rendah hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2022).

Pada akhir tahun 2021 atau musim tanam rendengan 2021/2022, dilakukan uji coba pengembangan varietas Inpari 13 seluas 5,0 hektare di Desa Bojo Kabupaten Barru, benih sumber berasal dari PT. Pertani pada kelas benih pokok/BP. Sejak hambur mulai tanggal 11 Desember 2021 hingga panen tanggal 20 Maret 2022 memerlukan waktu pertumbuhan vegetatif sampai fase generatif dan masak fisiologis tanaman hanya 99 hari. Produksi yang dihasilkan berdasarkan survei ubinan plot yang diparalelkan dengan metode ubinan petak langsung diperoleh angka timbang seberat 7,72 kilogram atau setara 12,3 ton per hektare gabah kering panen. Jika hasil tersebut dikonversi ke status gabah kering giling, maka Inpari 13 memiliki produktivitas sebesar 10,3 ton per hektare. Angka tersebut mencatat rekor produktivitas tertinggi di daerah ini dan jauh melampaui rata-rata maupun potensi pada deskripsinya.

Pengembangan selanjutnya Inpari 13 di Kabupaten Barru adalah ketika menjadi sarana produksi pada program Optimalisasi Peningkatan Indeks Pertanaman (OPIP) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2022 untuk masa tanam ketiga. OPIP menghendaki adanya penambahan frekuensi penanaman padi pada bidang lahan sawah yang sama dan berpengairan intensif atau pompanisasi dengan sumber air permukaan atau air bawah permukaan tanah yang dipompa. Kegiatan OPIP padi pada intinya adalah mendorong pemanfaatan lahan sawah yang sudah ditanami padi satu kali dan dua kali bahkan di intervensi hingga tiga kali atau empat kali ditanami dalam setahun.

Penyebaran varietas Inpari 13 di Kabupaten Barru pada program OPIP tahun 2022 lalu dengan menyasar target tanam seluas 240 hektare dalam 15 kelompok tani pelaksana yang dimulai dari Desa Bojo, Nepo, Manuba, Kiru-Kiru, Kamiri, Tompo, Mangempang, Sepee, Tanete, Tellumpanua hingga Lompo Tengah.
Dari realisasi sasaran tanam tersebut diatas, oleh pihak penyedia benih sumber didaftarkan seluas 110 hektare sebagai lokus penangkaran dengan kelas benih pokok di BSMB Maros untuk diproduksi menjadi benih sumber kembali dengan kualifikasi benih sebar yang akan dihasilkan.

Setelah pertanaman Inpari 13 melalui proses bertumbuh dan berkembang selama musim tanam ketiga tahun 2022, maka profil pertanaman tangkaran yang dinyatakan lulus lapangan seluas 35 hektare dan produksi yang dihasilkan khususnya calon benih sumber Inpari 13 sebesar 43,4 ton yang berhasil diokupasi oleh PT. Harmoni Mega. Sedangkan produksi secara umum pada setiap lokasi kelompok tani berbeda antara 4,8 hingga 8,5 ton per hektare.

Sebagai catatan pengingat bahwa Inpari 13 ketika pertama kali dibudidayakan di Bojo, produksinya tergolong tinggi yang dilaksanakan pada musim tanam rendengan tanpa gangguan hama dan penyakit berarti. Sedangkan Inpari 13 yang dibudidayakan pada program OPIP di musim tanam ketiga terhadap 15 lokasi lainnya mengalami anomali gangguan hawar daun bakteri. Postur Inpari 13 termasuk gen agak rentan terdampak penyakit utamanya bakteri hawar sehingga produktivitasnya berbeda nyata dengan potensinya.

Namun demikian, Inpari 13 telah menjadi salah satu varietas yang dianjurkan di Kabupaten Barru karena sifat genjahnya tergolong cepat dalam masa panen hingga produktivitas tinggi yang menjanjikan.
Keunggulan dari bentukan karakter varietas sebagai suatu jaminan kepada pembudidaya untuk digunakan pada setiap musim tanam. Lebih bijaksana lagi, jika para petani melakukan perbanyakan sendiri terhadap varietas-varietas unggul baru tersebut secara sederhana agar ketersediaan benih dalam menghadapi musim tanam akan tetap terpenuhi.

Point penting dari OPIP yaitu memanfaatkan varietas padi genjah atau kegiatan padi lainnya adalah program tersebut harus simultan dan berkelanjutan dalam rangka menggerakkan petani untuk mengoptimalkan potensi lahan sawah yang selama ini hanya monoton digunakan satu atau dua kali tanam setahun. OPIP akan mendorong stake holder perbenihan untuk melestarikan benih sumber melalui kegiatan pemberdayaan penangkaran kepada petani pelaksana program.

Program OPIP sangat relevan dengan perluasan areal tanam didalam mengakselerasi LTT harian, mingguan, bulanan atau tahunan suatu wilayah. Dengan meningkatnya luas tanam setiap musim melalui pendekatan OPIP dan penggunaan varietas yang lebih singkat masa tumbuhnya, maka potensi luas panen juga ikut bertambah sehingga peluang peningkatan produksi padi sangat besar. Dukungan varietas umur pendek seperti Inpari 13 akan sangat membantu para pelaku pertanian dalam menyiasati setiap musim tanam, utamanya pada musim ketiga atau keempat pada tahun berjalan.

Strategi OPIP sangat layak dijalankan ditengah sorotan dan gerakan peningkatan luas tambah tanam padi yang nyaris tidak mengenal waktu dan musim sebagaimana diluar adat kebiasaan petani. Kata kunci OPIP
adalah ketersediaan benih padi inbrida yang memiliki umur tidak lebih dari 100 hari lapangan. Tekanan OPIP dan sikap on fight petani moderat akan berbarengan jika materi varietas yang dibutuhkan selalu tersedia. Inpari 13 maupun varietas genjah lainnya untuk terus menjadi pilihan utama dalam mensukseskan program OPIP atau kegiatan intensifikasi padi inbrida lainnya di seluruh pelosok tanah air.

Pendekatan OPIP akan mematahkan pandangan kaum tradisionalis yang hanya bermazhab dua kali tanam setahun, padahal ketersediaan sarana benih genjah saat ini maupun kesiapan infrastruktur air yang sudah dibangun, sangat memungkinkan untuk penyelenggaraan masa tanam ketiga dalam setahun. OPIP akan terus mendorong penerapan frekuensi penanaman potensi sawah baik tadah hujan yang berpengairan, lahan rawa atau non rawa, apalagi lahan sawah irigasi teknis atau semi teknis hingga intensitas tanam tiga atau empat kali dalam hitungan dua belas bulan. OPIP bersifat fungsional strategis dalam metode tiga Si yaitu adaptasi, antisipasi dan mitigasi pada setiap perencanaan musim tanam padi yang akan dilakukan para pelaku pertanian.

Tepat tiga tahun lalu tanggal 01 September 2022 sebagai batas akhir penanaman padi program OPIP dan dipanen secara umum pada tanggal 01 hingga 05 Desember 2022 oleh segenap kelompok tani pelaksana OPIP. Pesan program adalah OPIP telah membuka cakrawala petani dan para pelaku pertanian lainnya bahwa peningkatan indeks pertanaman hingga tiga kali di lahan sawah baik sawah irigasi maupun sawah non irigasi bisa dilakukan. Kepada segenap petani penerap OPIP dijamannya, mulai dari Labucai, Mamminasae, Pucuk Mekar, Masseddiadae, Darmabakti, Ajuara, Warue, Sepee I, Laleng Tedong, Abbekkae, Amanah, Pattembang, Samalewae, Soreang Jaya, dan Makkawaru, penulis mendedikasikan artikel ini sebagai bagian dari perintisan penggunaan varietas Inpari 13 dalam mensukseskan program Optimalisasi Peningkatan Indeks Pertanaman secara nasional.

Barru, 01 September 2025

*Pemerhati Varietas Padi Nasional.

(Visited 77 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.