Oleh: Tun Ahmad Gazali, SH., M.Eng., Ph.D.
“Pernahkah terlintas di benakmu, bagaimana rasanya berdiri di ujung sebuah negeri—tempat matahari pertama kali menyapa sebuah bangsa, sementara seluruh dunia masih terlelap?”
Sabtu, 13 September 2025, pukul 18.00 JST.
Tidak ada seorang pun yang ingin ikut padahal sudah saya ajak dalam undangan rerbuks di beranda FB saya. Mungkin bagi mereka, perjalanan sejauh enam jam ke ujung negeri Jepang hanyalah buang waktu. Bagi saya, itu seperti menjemput takdir. Dari Super Hotel Ishikari, saya menyalakan mesin, menyalakan doa, lalu melaju sendiri menyusuri Tol E5, Tol E38, dan Route Nasional 44. Angin dingin, hujan tipis, jalan panjang tanpa teman. Tapi justru di situlah petualangan terasa murni, antara saya, jalanan, dan tekad yang tak bisa ditawar.
Minggu, 14 September 2025, pukul 04.32 JST.
Langkah saya berhenti di Tanjung Nosappu, Nemuro; titik paling timur Jepang yang bisa dijangkau manusia biasa. Mercusuar mungil berdiri di ujung tebing batu, menatap laut yang muram dan masih temaram di pagi yang masih menjadikan Sang Mentari tak terlihat lengkap sinarnya karena tertutup mendung tebal. Dari sinilah Jepang menjuluki kota Nemuro, yang membawahi wilayah Mercusuar mini ini sebagai “kota yang paling dekat dengan matahari.” Koordinatnya tidak pernah berbohong: 43°23’07”N, 145°49’01”E.
Nama Nosappu berasal dari bahasa Ainu: not-sam, yang artinya “di sisi tanjung.” Dahulu laut di depannya dipenuhi bongkahan es yang hanyut. Kini, perubahan iklim merampas pemandangan itu. Saya hanya bisa berdiri di antara dingin dan angin, membayangkan sejarah yang perlahan menghilang, dimana katanya ada perubahan iklim itu bisa jadi benar atau memang karena saat ini masih belum musim salju.
“Di tempat yang terasa seperti tepi dunia, saya sadar: bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah batas dalam diri kita sendiri.”
Nasib baik mempertemukan saya dengan Bapak Deny Wahyudi, orang Indonesia yang telah menorehkan kisahnya sebagai interpreter di Kota Kushiro yang saya singgahi dalam perjalanan balik ke Kota Ishikari. Dalam dingin yang mulai terasa di pagi itu, beliau membawa hangat yaitu sebuah Silaturahmi Sesama Anak Negeri di tepi dunia. Itu bukan kebetulan, melainkan hadiah perjalanan.
Satu tahun sebelumnya, saya sudah berdiri di Tanjung Sōya, Wakkanai—titik paling utara Jepang. Dari sana, Rusia hanya berjarak 43 km, seolah bisa dijangkau dengan tatapan. Titik barat dan selatan pun sudah lebih dulu saya jejaki. Kini, dengan langkah kecil di Nosappu, lengkap sudah puzzle perjalanan saya ke empat ujung ekstrem Jepang.
“Pada akhirnya, bukan mercusuar atau koordinat yang paling saya bawa pulang. Yang tertinggal adalah keyakinan: bahwa manusia hanya benar-benar hidup jika berani menjejak di ujung keraguannya sendiri.”
Maka saya percaya, seseorang belum benar-benar “mengelilingi Jepang” bila belum menjejak keempat ujung negeri ini. Bukan untuk pamer, bukan untuk gelar. Melainkan untuk merasakan betapa luas dunia, betapa rapuh kita, dan betapa teguh semangat bisa membawa langkah sampai ke tempat yang bahkan matahari pun memilih memulai hari.
Di bawah hujan tipis dan angin kencang Tanjung Nosappu, saya merasa menang.
Bukan melawan dunia.
Bukan melawan orang lain.
Tapi melawan keraguan yang pernah berkata: “Kamu tidak akan sanggup.” [CTun]
