Oleh: Tammasse Balla

Ada perjalanan yang sekadar berpindah tempat, dan ada pula perjalanan yang menumbuhkan jiwa. World Stroke Congress (WSC), 22 s.d. 24 Oktober 2025 di Barcelona, Spanyol bukan sekadar pertemuan ilmiah, tetapi sebuah ziarah batin yang membangunkan rasa persaudaraan dan kebersamaan. Dari langit Jakarta hingga ufuk Barcelona, transit di Doha selama 2 jam, lima belas jam di udara menjadi lorong waktu yang membuka tabir kenangan baru.

Barcelona menyambut kami tengah malam dengan sinar lampu warna-warni di ufuk Mediterania. Di kota ini, laut berbicara dalam bahasa angin, dan sejarah berbisik melalui tembok tua Sagrada Familia. Dua malam di kota ini terasa seperti sekejap mimpi yang disulam oleh canda dan tawa keluarga besar PERDOSNI.

Namun perjalanan tak berhenti di sana. Dari Barcelona, bus besar yang setia menanti menjadi saksi langkah-langkah kami menelusuri daratan Spanyol yang luas. Menuju Girona, lalu ke negeri kecil Andorra—tempat gunung-gunung seolah-olah memeluk langit, dan udara membawa aroma salju yang jauh.

Andorra menjadi persinggahan yang sunyi namun penuh makna. Di sanalah kami merasa kecil di hadapan ciptaan Tuhan yang megah. Satu malam di sana seperti sepotong waktu yang diciptakan hanya untuk merenung: bahwa hidup adalah perjalanan dari satu keindahan menuju keindahan berikutnya.

Zaragoza menyambut dengan wajah klasiknya. Kami bermimpi semalam di kota ini, dan setiap dindingnya terasa berbicara dalam bahasa masa lalu. Dari jendela kamar hotel, lampu-lampu kota menari lembut, bagai menyapa kami yang datang membawa semangat ilmu dan kebersamaan.

Lalu Madrid menanti dengan megah. Di kota ini, setiap langkah terasa seperti denting musik yang mengiringi tarian kehidupan. Kami hanya semalam di sana, namun rasanya cukup untuk meneguk sedikit dari pesona ibukota negeri matador itu. Stadion Real Madrid, Santiago Bernabeu, selama ini hanya bisa disaksikan melalui layar kaca, di depan mata terpampang jelas. Madrid mengajarkan bahwa waktu yang singkat pun bisa berarti dalam bila hati turut berjalan bersama.

Segovia dan Avila menjadi halaman berikutnya dari buku perjalanan ini. Kami singgah, kami menatap, dan kami belajar bahwa keindahan tidak hanya ada pada gedung dan batu, melainkan pada tawa yang pecah di antara keletihan, pada cerita yang dibagikan di kursi bus panjang.

Salamanca menyapa malam kami dengan keheningan yang elegan. Kota universitas tua ini memantulkan semangat belajar yang tak lekang waktu. Di sana kami melepas lelah, namun jiwa tetap menyala oleh semangat kebersamaan. Ilmu dan perjalanan berpadu menjadi satu harmoni yang indah.

Dari Salamanca menuju Badajoz, lalu menepi semalam di Sevilla. Kota yang harum dengan bunga oranye itu menyuguhkan pesona yang sukar dilupakan. Suara gitar flamenco seperti menyapa dari kejauhan, mengalun seperti doa yang terlantun di antara dinding waktu. Kami menginap di Hotel Novotel Sevilla, sekitar 100 meter dari Estadio Ramon Sanchez-Pizjuan, stadion milik klub sepak bola FC Sevilla.

Bus kami melaju dari satu etape ke etape berikutnya. Lima hingga delapan jam di jalan bukanlah perjalanan biasa—itu adalah ujian kesabaran dan keteguhan hati. Di dalamnya, kami belajar menertawakan rasa lelah, menahan keinginan seperti ingin BAK bahkan BAB yang tiba-tiba datang menggoda. Dalam kebersamaan ini, kiita menemukan makna persahabatan dalam ruang sempit yang bergerak.

Pak Tung, sang pemandu, menjelma seperti stand up comedy. Ia menabur tawa di setiap kilometer yang kami tempuh. Dengan kelakarnya yang lembut dan jenakanya yang cerdas, ia membuat perjalanan panjang terasa singkat. Kami menyebutnya bukan sekadar guide, tapi betul-betul seorang PAKAR—Pandai Kelakar, wkwkwkwk ………

Perjalanan ini tak akan berarti tanpa kehadiran PT Pyridam Farma Tbk. yang dengan tulus menjadi sponsor utama. Dalam langkah kami, ada jejak kebaikan mereka yang menyatukan neurolog senior dari seluruh Indonesia. Ada profesor, doktor, dosen, dokter militer, internis, hingga ahli bedah saraf—semua menyatu tanpa sekat, tanpa hierarki, dalam harmoni yang sukar digambarkan.

Inilah keluarga besar PERDOSNI, bukan hanya perkumpulan para ilmuwan neurologi, tetapi keluarga yang sejati. Di setiap kota yang kami singgahi, kami membawa semangat persaudaraan yang tak bisa diukur dengan jarak. Tak ada senior, tak ada yunior—hanya ada tawa, doa, dan rasa syukur yang tulus; berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Ketika akhirnya kami menapaki tanah Lisbon, ibu kota Portugal yang anggun, perjalanan ini mencapai puncaknya. Dua malam di sini terasa seperti bab penutup yang manis. Angin laut membawa pesan: bahwa setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Namun, kenangan akan tetap abadi di hati.

Kini, ketika pesawat akan membawa kami kembali ke tanah air, kami tahu: yang kami bawa bukan hanya foto dan oleh-oleh, melainkan rasa syukur yang tak bertepi. Terima kasih sekali lagi kepada PT Pyridam, Smiling Tour, Pak Tung, Bu Rey, Pak Hendra, dkk. dan seluruh sahabat seperjalanan yang “smart and humble.” Semoga Alllah memberikan kita umur panjang dan kesehatan. Suatu waktu kita akan menulis kembali buku sejarah perjalanan baru. Sampai jumpa di WSC 2026 di Seoul, atau di WCN 2027, Cape Town, Afrika Selatan. Hingga waktu itu tiba, biarlah memori indah di Spanyol ini tetap hidup—bagai sajak yang tak pernah usai dibacakan oleh waktu.

Ketika langkah terakhir meninggalkan tanah Spanyol dan Portugal, hati seolah-olah enggan beranjak. Ada rasa yang menetes pelan seperti embun di ujung fajar—rasa rindu yang belum sempat tumbuh, tapi sudah menyesak. Dalam setiap tawa yang pernah pecah di dalam bus, dalam setiap pandangan mata yang menatap jendela di tengah perjalanan panjang, tumbuh bunga-bunga persahabatan yang indah. Ia mekar tanpa janji, tapi wangi kehangatannya akan tetap tinggal, bahkan ketika waktu telah berlalu jauh.

Persahabatan ini bukan sekadar kisah perjalanan; ia adalah lukisan perasaan yang hidup di antara kami. Dari gelak kecil di pagi hari di tempat makan, hingga senyum lelah menjelang malam, semuanya menjelma menjadi kenangan indah yang akan menjadi kenangan kalbu—telaga hati yang jernih tempat kami akan kembali suatu hari nanti. Bila usia dan jarak memisahkan, biarlah kenangan di Spanyol ini menjadi cahaya kecil yang menyala di sudut jiwa, mengingatkan bahwa kebersamaan sejati tak pernah padam, hanya berpindah tempat: dari dunia nyata ke taman kenangan yang abadi.
—–‐—————————-‐——-‐———-
Lisbon, Portugal, 1 November 2025
Pk. 02.00 Waktu Lisbon
[………… detik-detik kepulangan ke.tanah air]

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.