Oleh: Tammasse Balla

Hidup ini tak ubahnya seperti pedati tua yang berjalan di jalan tanah berdebu. Rodanya berputar tanpa kenal lelah, menggelinding di atas jalan yang kadang halus, kadang berlubang. Di atasnya ada manusia, membawa beban harapan, kadang pula membawa kesombongan. Namun, pedati tetap berjalan—tak peduli apakah tuannya sedang tertawa atau menangis, karena tugasnya hanyalah bergerak, bukan menghakimi.

Ketika kita miskin, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kemiskinan bukan aib, ia hanya keadaan. Ia ibarat roda yang sedang berada di bawah—melewati lumpur, menanggung beban berat, di situlah ujian keikhlasan diuji. Orang yang tetap tersenyum saat hidup serba kekurangan, sejatinya sedang menambal kekayaan jiwanya, bukan menagih kasihan dunia.

Lalu ketika kaya, jangan pula terlalu euforia. Euforia sering kali membuat kita lupa bahwa roda itu tak selamanya di atas. Hari ini mungkin engkau makan di meja panjang, esok bisa saja makan di dapur kecil atau di warung pojjok pinggir jalan. Harta bukan jaminan bahagia, hanya pinjaman yang akan diambil sewaktu-waktu. Orang bijak tahu, bahwa kekayaan sejati bukan pada isi dompet, melainkan pada isi hati yang lapang.

Ketika engkau tak punya pekerjaan, jangan galau. Pengangguran bukan kutukan, melainkan jeda dari langit. Di sanalah waktu memberimu ruang untuk menata diri, menajamkan doa, memperbaiki arah. Tidak bekerja bukan berarti tak berguna—justru saat itulah engkau belajar mengabdi kepada kehidupan dengan cara lain: bersyukur tanpa pamrih.

Ketika kelak engkau dilantik jadi pejabat, jangan lupa diri. Jabatan itu bukan puncak, tapi persinggahan. Bukan singgasana, tapi ladang ujian. Banyak yang dulu merunduk waktu miskin, kini menegakkan kepala terlalu tinggi waktu kaya. Padahal, angin yang meniup roda pedati bisa berbalik arah kapan saja, menjungkirkan yang di atas ke bawah tanpa pemberitahuan.

Putaran pedati mengajarkan bahwa waktu itu adil. Ia memberi giliran pada setiap manusia untuk merasakan suka dan duka. Tak ada yang abadi di atas, tak ada pula yang kekal di bawah. Bersikaplah sewajarnya, karena hidup yang seimbang adalah hidup yang tak mudah terhempas oleh perubahan arah roda.

Lihatlah, pedati tua itu tetap berjalan, meski bannya aus, meski kuda penariknya mulai letih. Ia tak pernah berhenti hanya karena lelah. Berhenti berarti mati, dan pedati tahu bahwa kehidupan sejatinya ada pada perjalanan, bukan pada tujuan. Begitu juga manusia, hidup bukan tentang sampai di mana, tapi bagaimana cara berjalan dengan benar.

Ketika engkau berada di atas, jangan memandang rendah yang sedang di bawah. Ketika engkau di bawah, jangan iri pada yang di atas. Pada akhirnya, semua akan bertukar posisi dalam waktu yang ditentukan Tuhan. Itulah keadilan langit yang tak bisa disuap dengan emas, tak bisa ditawar dengan doa yang penuh pamrih.

Hidup, adalah putaran pedati yang terus bergerak di jalan tak tentu arah. Yang bijak akan belajar dari debu yang menempel di roda, dari peluh kuda yang menariknya, dari sinar mentari yang mengiringi langkahnya. Di ujung perjalanan nanti, saat pedati berhenti di pangkalan terakhir, hanya satu yang akan tersisa: seberapa banyak kebaikan yang kita tabur sepanjang putaran itu berlangsung.

Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada masa di mana roda kehidupannya berhenti berputar. Saat itu, jabatan, harta, dan gelar hanyalah serpihan debu yang tertinggal di jalan panjang kehidupan. Yang dikenang bukan seberapa tinggi engkau pernah berdiri, tetapi seberapa dalam engkau pernah menunduk untuk menolong sesama. Hidup tak menanyakan siapa engkau di atas, melainkan siapa yang engkau bantu ketika engkau di bawah.

Biarlah roda pedati terus berputar membawa kisahmu ke arah takdir. Jangan takut pada perubahan posisi, karena yang tetap hanya satu: kejujuran hati. Jika engkau hidup dengan hati yang jernih, maka di manapun roda berhenti—di atas atau di bawah—engkau akan tetap merasa tenang. Ketenangan sejati bukan terletak pada arah roda, tapi pada pengemudi yang tahu ke mana harus pulang.

Lisbon, 31 Oktober 2025
Pk. 07.27 Waktu Lisbon [+8 WITA]

(Visited 8 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.