Judul: Fort Rotterdam, Benteng di Simpang Masa
Penulis: Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Editor: Iwan Sumantri
Penerbit: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: xvii + 312
ISBN: 9786239909208
Benteng Fort Rotterdam atau biasa juga disebut Benteng Ujungpandang adalah salah satu cagar budaya di kota Makassar yang berperingkat Nasional. Fort Rotterdam adalah benteng di simpang masa, antara masa lalu dan masa kini, simpang antara arsitektur Nusantara dan Eropa, simpang politik kolonial dan Indonesia, dan simpang fungsi pertahanan, politik, ekonomi dan budaya.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau bunga rampai yang membahas tentang benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspeknya, mulai dari sejarah, fungsi, cagar budaya, arsitektur, tata ruang sampai pengelolaannya.
Ada sebelas judul tulisan dalam buku ini diawali dengan tulisan Iwan Sumantri yang berjudul ‘Fort Rotterdam Undercover’ yang berkisah tentang bagaimana masa kecil penulis yang sering berkunjung dan bermain main di Fort Rotterdam, dan juga kutipan sejarah Fort Rotterdam. Misalnya, Arung Palakka pernah dilantik sebagai Raja di Fort Rotterdam, namun tidak memilihnya sebagai istananya. Speelman juga pernah berkantor di benteng ini. Ada juga kisah horor yang diungkap dalam tulisannya.
Prof. Muhlis Hadrawi menulis tentang serba serbi Benteng Ujungpandang dalam Narasi Lontara. Pembahasannya antara lain, istilah ‘benteng’ dalam bahasa Makassar dan Bugis, benteng dalam sumber sumber lokal dan gagasan pendirian benteng benteng di Makassar dan lain lain. Yang menarik, banyak foto lama benteng Fort Rotterdam dalam tulisan ini.
Tulisan lainnya adalah ‘Kawasan Benteng Rotterdam sebagai “Urban Heritage’’‘ oleh La Ode Muhammad Aksa, ‘Peranan dan Penamaan benteng Ujungpandang dari masa ke masa’ oleh Muhammad Ramli, ‘Bermula dari Benteng Ujungpandang: Telisik Nilai Penting dibalik Fort Rotterdam’ oleh Yadi Mulyadi, ‘Fort Rotterdam: Pelabuhan Terakhir Sang Pangeran Diponegoro’ oleh Nusriat, ‘Sistem Penataan Ruang Situs Cagar Budaya benteng Rotterdam Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan’ oleh Iswadi, ‘Arsitektur Fort Rotterdam’ oleh Adang Sujana dan Nafsiah Aswawi, ‘Vandalisme di benteng Rotterdam: Eksistensi Keliru Generasi Muda’ oleh Yusriana, ‘Pengelolaan Benteng Ujungpandang dimasa Mendatang’ oleh Andini Perdana, dan terakhir tulisan berjudul ‘Benteng Rotterdam sebagai Public Space’ oleh Anggi Purnamasari.
Buku ini membahas benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspek dan persfektif, sehingga pembaca dapat memahami seluk beluk benteng secara menyeluruh. Buku ini juga dilengkapi dengan dokumentasi foto, baik foto lama maupun yang baru, ada foto hitam-putih dan adapula yang berwarna.
Karena buku ini diterbitkan oleh lembaga pemerintah yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, maka kemungkinan besar pembaca diluar Sulawesi Selatan akan kesulitan dalam mengakses buku ini. Buku ini juga tercetak dengan jumlah terbatas, sehingga hanya di Perpustakaan tertentu yang memiliki koleksi buku ini.
Pada Festival Literasi yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, 21-22 Oktober 2025, pada Stand Pameran Balai Pelestarian Cagar Budaya, buku juga di pajang, namun informasi yang didapatkan bahwa buku ini belum diterbitkan ulang atau dicetak ulang.
Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

