Oleh: Tammasse Balla
Tahun 2025 segera pamit, seperti senja yang menutup pintu langit dengan lembut. Ia datang membawa cahaya dan bayang-bayang, keberhasilan yang menegakkan dada, juga kelelahan yang mengajarkan diam. Jangan menahannya terlalu lama di pelukan ingatan; biarkan ia pergi dengan hormat, sebagaimana tamu yang telah menyelesaikan maksudnya.
Di sepanjang langkahnya, ada prestasi yang tumbuh dari keringat dan doa. Ia mungkin tidak selalu bersuara lantang, tetapi jejaknya nyata pada hati yang lebih kuat, pada pikiran yang lebih tajam, dan pada keberanian yang diam-diam belajar bangkit. Prestasi bukan hanya piala; ia juga adalah kesabaran yang bertahan.
Namun, tahun 2025 pun kadangkala membawa frustrasi, seperti angin yang tak selalu ramah pada layar. Ada rencana yang tertunda, kata-kata yang tertahan, dan harapan yang sempat merunduk. Jangan menyebutnya kegagalan; sebutlah ia guru yang datang tanpa diundang, mengajarkan cara membaca peta batin.
Jangan pernah menyesali diri. Penyesalan adalah beban yang tidak mengubah arah, hanya memperlambat langkah. Sama halnya ungkapan Ai Hasjmi dalam puisijya “Penyesalan”, bahwa ….. menyesal tua tiada berguna, hanya menambah luka sukma. Diri ini telah berjalan sejauh yang ia mampu, dengan bekal yang ia miliki. Hormati perjuanganmu sendiri; ia layak dipeluk, bukan dihakimi.
Mari bercermin pada penghujung 2025. Bukan untuk mencari cela, melainkan untuk mengenali wajah yang telah ditempa waktu. Di sana tampak keriput makna, garis pengalaman, dan mata yang lebih jujur pada apa yang perlu dilepaskan.
Cermin mengajarkan keseimbangan: antara menerima dan memperbaiki. Apa yang perlu disyukuri, syukurilah; apa yang perlu diubah, ubahlah dengan tenang. Perubahan yang bertahan selalu lahir dari kejujuran yang lembut.
Kini, tatap 2026 dengan rasa optimis. Ia bukan janji kosong, melainkan halaman putih yang menunggu tinta keberanian. Tulislah dengan niat baik, kerja keras, dan doa yang tidak lelah. Biarkan harapan menjadi kompas, bukan beban.
Bangun langkah baru dengan semangat baru. Jangan tergesa-gesa, namun jangan pula ragu. Setiap hari adalah benih; tanamkan disiplin, sirami dengan cinta, dan sabar menunggu musimnya. Apa yang tumbuh dari ketekunan akan berbuah pada waktunya.
Berjalanlah ke tahun depan dengan hati yang ringan. Lepaskan yang usang, pelihara yang bernilai, dan percaya pada proses. Hidup bukan tentang mengalahkan waktu, melainkan bersahabat dengannya—dan dari persahabatan itu, lahirlah makna.
Makassar, 22 Desember 2025
Pk. 12.07 WITA
