Oleh: Muhaimin
Terdiam membisu di keheningan malam,angin dan debu berhembus menyapa tubuh yang gemetar kelaparan
Bintang bintang menjadi saksi menetesnya air mataku
Ribuan tangisan orang menjadi teman yang tak terjelma
Namun rasanya tetap sunyi, sepi dan hampa, berharap ada suara dari langit yang meyemangatiku untuk hidup
Aku senasib dengan mereka
yang ayah dan ibunya telah tiada karena ulah manusia yang serakah itu
Namun kesedihan yang ku rasa ini lebih besar dari mereka senasibku
Aku tak punya senjata untuk melawan
Aku tak punya pesawat untuk menjatuhkan bom dari langit
Hanya gertakan marah, yang seolah olah tidak berguna untuk mereka yang menindas
Doa yang kupanjatkan pun belum terkabulkan
Menangis hati ini, entah kebahagiaan apa yang dipersiapkan tuhan di ujung sana
Aku tak berdaya
Air mata menetes ini hanya menjadi bahan candaan mereka
Teriakan marah ini adalah kebahagiaan mereka
Tapi aku tetap berharap
Bahwa doa dan keikhlasan hati yang ku panjatkan
Akan di kabulkan tuhan suatu saat nanti
Saat ini aku hanya menunggu saat-saat itu
Entah kebahagiaan itu akan kudapatkan di sini, atau di akhirat nanti.
Kolaka Utara, 31 Desember 2025
