Oleh: Muhammad Sadar*
Sejak revolusi hijau dimulai pada tahun 1960, intensifikasi dunia pertanian menghendaki pertumbuhan produksi pangan khususnya komoditas beras mampu mengimbangi laju pertambahan jumlah penduduk yang kian meningkat. Disinyalir, jika proporsi quantum penduduk sebagai konsumen jumlahnya lebih besar, dibandingkan dengan pangan yang terproduksi, maka dikhawatirkan dunia akan mengalami ancaman kekurangan pangan atau insiden kelaparan bagi warga dunia terus mengintai.
Oleh karena itu, kebijakan global untuk memaksimalkan produksi pangan pada setiap negara diupayakan melalui intervensi teknologi high input utamanya penggunaan sarana produksi berbasis agrokimia terlebih lagi dilengkapi dengan peralatan dan mekanisasi pertanian modern. Pendekatan modernisasi usaha tani yang disimbolkan pertanian padat energi hingga kini dipenuhi dengan pemanfaatan alat berat pertanian yang digerakkan oleh tenaga mesin dan elektrifikasi operational system.
Alat dan mesin pertanian yang menjadi pelengkap budidaya tanaman khususnya komoditas padi masa kini antara lain tractor roda 2 atau roda 4, rice transplanter/seeder, combine harvester, vertical and flat dryer, rice milling unit, cultivator, chopper machine, hingga drone agricultural. Drone saat ini bukan hanya digunakan pada sektor strategis pertahanan militer, informatika atau geospasial, dunia film/fotografi/foto udara, atau bidang space lainnya, namun operasional drone di ranah pertanian sudah sangat pesat dimanfaatkan didalam meringankan penyelenggaraan kegiatan budidaya tanaman.
Struktur drone sebagai mode pesawat yang dikendalikan dari operator di darat dengan jangkauan terbang dan radius tertentu yang membawa perlengkapan strategis untuk melakukan suatu operasi pengintaian, perekaman atau penembakan pada sasaran yang telah dikunci. Tetapi drone pada sektor pertanian berbeda dari sisi fungsional alat dibanding dengan drone untuk kepentingan militer dan kebutuhan lain diluar sektor pertanian.
Ruang kapasitas drone untuk kebutuhan pada sektor pertanian meliputi fungsi sebagai power sprayer dalam penyemprotan pupuk atau pestisida berbentuk cair termasuk didalamnya penebaran benih sebagai model tanam langsung pada lahan skala luas atau sistem pesemaian tanam pindah. Sistem kerja drone juga bisa dimanfaatkan untuk pengamatan spot atau gejala gangguan hama penyakit dan performa tanaman yang diduga kahat hara pada hamparan besar. Drone pertanian sebagai alat bantu patroli udara bisa juga dioptimalkan untuk menahan serbuan burung dari langit yang akan menyerang pertumbuhan padi.
Operasional drone di bidang pertanian yang lain yaitu melakukan penginderaan jarak dekat untuk sistem pemetaan lahan basah atau lahan kering, memonitoring jenis tanaman, maupun memantau kondisi eksisting posisi standing crop melalui perbedaan dari gradasi warna umur tanaman yang menandai fase tumbuh vegetatif atau generatif. Kapasitas operasi sebuah drone bisa diamati spesifikasi produk dari asal pabrikannya. Daya jelajah dan kemampuan angkut bahan cair tentunya memiliki keunggulan berbeda pada setiap produsen drone pertanian.
Obsesi besar dari petani masa kini adalah sebuah drone pertanian yang memilki kekuatan untuk memobilisasi hasil panen di sawah atau di kebun manapun dengan berat hingga lebih satu kuintal per karung. Tantangan tersebut akan menjadi inspirasi bagi peneliti dan pabrikan untuk menciptakan sebuah karya drone angkut gabah agar memudahkan petani didalam mengumpulkan hasil panen dan angkutannya lebih ringan lagi cepat utamanya ketika musim hujan.
Dengan penggunaan alat dan mesin pertanian modern akan memberikan peningkatan efisiensi, akurasi yang lebih tinggi, dan menggandakan profitabilitas, sambil bekerja untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh industri pertanian, termasuk kekurangan tenaga kerja, penghematan biaya, perolehan teknik produksi oleh petani baru, dan peningkatan skala operasi yang lebih luas. (Yanmar Diesel Indonesia, 2026).
Agricultural drone sebagai salah satu hasil riset mutakhir di bidang pertanian akan membawa manfaat besar ketika alat yang dikendalikan dengan remote control tersebut bekerja dengan tepat dan presisi. Sasaran lahan atau tanaman atau hasil produksi yang menjadi obyek operasi akan terjangkau dengan aman, efektif, dan terkendali. Kemudahan pekerjaan yang diperoleh petani atau pengguna jasa lainnya, dengan melalui pemanfatan teknologi drone sebagai faktor pengurang biaya operasional berusaha tani.
Teknologi drone pertanian kerap kali menjadi dambaan para pelaku pertanian didalam memodernisasi cara berusahatani. Pelayanan jasa drone dari pihak lain terkadang dilakukan hanya bersifat sementara pada kegiatan power sprayer untuk bahan fertilizer atau item proteksi OPT semata. Operasional drone pertanian di lapangan juga biasa dilakukan sebagai uji terbang atau atraksi akrobatik penyemprotan tanaman atau pemantauan lahan dalam skala tertentu.
Kebijakan sistem drone khususnya dalam pelayanan pemeliharaan budidaya tanaman pertanian tentunya akan terus dikaji besaran nilai out putnya terhadap sektor ini. Petani sebagai penerima manfaat sekaligus sebagai badan usahatani yang akan mengeluarkan pembiayaan faktor produksi sebaiknya dikalkulasi dari sisi kelayakan penggunaan dan skala usahatani. Drone pertanian pada hakikatnya adalah untuk meringankan beban kerja dan menghemat waktu pekerjaan bagi petani serta mempermudah atau melancarkan mobilisasi dan aplikasi sarana produksi maupun hasil panen nantinya.
Barru, 02 Pebruari 2026
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, TPH dan Perkebunan Kabupaten Barru
