Oleh: Muhammad Sadar*

Sejak tercapainya program swasembada beras pada era orde baru pada tahun 1984 silam yang dimotori
Departemen Pertanian kala itu, maka kecukupan pangan bagi rakyat Indonesia terbilang terpenuhi walaupun diakui bahwa pada masa itu importasi beras dari luar negeri tetap berlangsung. Capaian swasembada tak terlepas dari berbagai macam kegiatan intensifikasi padi seperti insus, atau supra insus, bimas dan yang paling familiar dikenang hingga saat ini yaitu pola panca atau sapta usaha tani. Tak ketinggalan pula kegiatan ekstensifikasi dan diversifikasi turut melengkapi program swasembada pada zaman tersebut.

Pada bagian yang lain, keikutsertaan berbagai penyedia sarana agroinput seperti pupuk an-organik, benih padi unggul dan pestisida pabrikan dengan kandungan bahan kimia beracun disertai pula dukungan alat mekanisasi pertanian modern yang turut mensupport capaian swasembada pada masa orde baru. Termasuk didalamnya adalah bantuan kredit usaha tani lazimnya disebut KUT melalui koperasi-koperasi yang ada di desa yaitu KUD (Koperasi Unit Desa).

Selanjutnya, dukungan hirarkis yang bersifat komando dalam meraih swasembada pangan tahun 2025 adalah keterlibatan semua pemangku kepentingan baik dari tingkat pusat hingga pemerintah daerah. Beberapa unsur pemerintah didalam suksesi swasembada adalah fungsional Penyuluh Pertanian Lapangan yang disingkat PPL, PBT, POPT, Peneliti, dan unsur TNI-Polri. Struktur penugasan PPL saat ini yang telah berada didalam rentang kendali Kementerian Pertanian adalah bagian dari peran diplomat swasembada pangan yang bermarkas di setiap kecamatan pada suatu wilayah pemerintahan daerah.

Misi diplomasi swasembada yang dijalankan para PPL di wilayah kerjanya adalah membina, mengawal, dan melaksanakan amanah program swasembada pangan nasional. PPL memiliki tugas menghimpun data potensi wilayah untuk kegiatan pengembangan komoditas pertanian, melakukan pendampingan kepada petani didalam menyusun kebutuhan sarana produksi seperti RDKK. Selain itu PPL juga dituntut mengelola usulan CPCL dan mengawal kegiatan diseminasi varietas unggul yang menjadi domain suatu wilayah. PPL memfasilitasi ruang diskusi kelompok bagi petani agar informasi kebijakan dan inovasi pertanian tersampaikan lebih awal.

Peran PPL berikutnya adalah mengkomunikasikan kebijakan swasembada pangan di tingkat grass root petani melalui pendekatan personal atau kelompok diskusi, baik di rumah petani, di sawung tani, di area kantor desa atau di rumah ibadah sekalipun. Fungsional penyuluh pertanian yang bertindak selaku komunikator harus mampu memberi keyakinan para komunikan terhadap informasi kebijakan pemerintah yang sedang dijalankan. Sebagai seorang diplomat pertanian wajib menguasai strategi komunikasi agar sasaran penerima manfaat meyakini dampak implementasi kebijakan pemerintah terhadap kemajuan petani dan keluarganya.

Selain PPL, petugas yang tak kalah pentingnya didalam melaksanakan visi swasembada yaitu
Pengawas Benih Tanaman atau PBT. Fungsional PBT bertugas menyelenggarakan pengawasan, pemeriksaan, pengujian mutu, dan monitoring didalam proses produksi calon benih tanaman baik pada tingkat lapangan, di gudang prosesing usaha penangkaran hingga di ruang laboratorium balai sertifikasi dan mutu benih. Petugas PBT berupaya memastikan peredaran benih tanaman yang diperdagangkan utamanya padi dan jagung adalah barang bermutu, bersertifikat, dan bukan produk palsu. Aparat PBT menegakkan supremasi legal standing produksi benih berdasarkan Permentan Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Tanaman.

Diplomat swasembada pangan yang lain yang memiliki tugas dan fungsi dalam pengamatan, peramalan dan pengendalian OPT adalah petugas POPT. Fungsional POPT yang bersentuhan langsung kepada pelaku petani padi menawarkan solusi pengamanan dan perlindungan tanaman agar tanaman budidaya memberikan produksi optimal. Aparat POPT menggagas gerakan pengendalian OPT secara serentak ketika laporan hasil pengamatan dan peramalan memungkinkan adanya potensi peningkatan serangan OPT padi. Gerakan pengendalian bertujuan untuk menghentikan atau spot stop penyebaran gejala serangan OPT agar skala kerusakan tanaman tidak meluas.

Arah dan kebijakan gerakan pengendalian atau disebut gerdal OPT padi adalah lebih menekankan kepada fungsi pengendalian secara mandiri oleh petani dengan penerapan prinsip-prinsip PHT. Penggunaan pestisida kimia merupakan pilihan terakhir ketika semua metode pengendalian lain dinilai kurang efektif, namun perlu dilakukan dengan bijaksana dan terukur. Poin yang sangat penting diperhatikan dalam pengendalian OPT ialah pemenuhan unsur lima tepat yaitu tepat bahan aktif, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara dan tepat sasaran OPT yang dituju. Implementasi gerdal tetap pada spektrum penanggulangan dan pencegahan eskalasi serangan OPT tanpa memusnahkan sistem predatori di eksosistem padi sawah.

Pada bagian organik pertanian yang lain namun bekerja dalam sunyi senyap dan berbasis sainstifik dengan penuh kajian ilmiah yang menghasilkan inovasi teknologi pertanian yang tiada henti adalah fungsional peneliti. Ruang peneliti pertanian terletak pada sistem rancangan uji coba, perlakuan dan ulangan bolak-balik, penggunaan metodologi, pengujian di laboratorium hingga penyusunan laporan dan rilis hasil penelitian. Atas jasa peneliti, ditemukan berbagai jenis varietas unggul padi atau komoditas pertanian lainnya, termasuk rekayasa sistem tanam produktif dan penggunaan dosis pupuk yang tepat.
Inovasi pengendalian hama penyakit maupun pengolahan hasil panen yang efisien merupakan hasil riset para peneliti.

Diseminasi beragam varietas padi bersama dengan uji adaptasi di berbagai tipologi lahan dan iklim hingga pengembangan atau penerapan di tingkat lapang adalah merupakan kinerja kaum peneliti. Peneliti sangat berdedikasi atas dorongan untuk terus menemukan item kebaruan utamanya di dalam menggenjot produksi pangan dalam mendukung swasembada. Peneliti tetap konsisten berupaya menemukan varietas padi unggul baru yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim maupun sifat resisten pada hama penyakit tanaman.

Lebih dari daya cipta tersebut diatas, peneliti telah menemukan beragam varietas padi yang toleran terhadap cekaman salinitas pada lahan yang dipengaruhi oleh interusi air asin utamanya pada sawah-sawah yang berada dekat perairan pantai atau rawa. Penelitian terkait bioteknologi terus dilangsungkan oleh para peneliti melalui peran biofertilizer, amelioran atau bioremediasi lahan untuk perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan aktivitas mikroorganisme. Agensi pengendali hayati seperti beauveria bassiana, metharizium anisoplae atau trichoderma dan biopestisida lainnya sebagai bahan untuk mengendalikan patogen penyakit dan serangga hama, tak lepas dari kontribusi pengkajian peneliti.

Dalam penguasaan ilmu rekayasa genetika, para professor riset telah berhasil menciptakan varietas padi khusus seperti padi biofortifikasi dimana disisipkan unsur zinc yang mampu menanggulangi pertumbuhan stunting pada anak. Begitu pula perubahan sisi umur padi menjadi genjah serta komponen indeks glikemik beras moderat yang cocok bagi penderita diabetes, juga include komoditas lain yang menjadi target swasembada adalah jagung dimana dihasilkan sejumlah varietas berproduksi tinggi, toleran lahan kering dan tahan terhadap penyakit momok tanaman jagung yaitu bulai, termasuk spesifikasi jagung QPM (Quality Protein Maize) untuk memenuhi unsur protein bagi masyarakat, yang kesemuanya merupakan bagian dari temuan peneliti.

Partisipasi aparat yang lain dalam misi swasembada pangan antara lain unsur TNI-Polri yang bertugas masing-masing di desa yaitu Babinsa dan Babinkamtibmas. Segenap petugas tersebut melakukan pembantuan didalam proses budidaya tanaman padi. Sejak distribusi dan pembagian benih kepada petani, penanaman, hingga panen bahkan pengawalan serapan gabah petani atau pipilan kering jagung oleh Bulog turut dihadiri aparat.

Manajemen penguasaan gabah petani oleh Bulog dilakukan berdasarkan target serapan yang direncanakan sebanyak 4,0 juta ton setara beras pada musim panen pertama tahun 2026. Penyusunan prognosa panen lebih awal telah disusun bersama oleh tim kerja Bulog dengan pihak Dinas Pertanian setempat. Tak kalah pentingnya yang disiapkan adalah ready gudang, sarana dryer dan armada angkut untuk kelancaran mobilitas hasil panen. Kesiapan aparat yang bergelar diplomat swasembada akan sigap mengawal suksesi target swasembada padi- jagung-gula-dan protein hewani berikutnya.

Mandat swasembada pangan telah berada di pundak masing-masing petugas, baik yang berstatus PPL, PBT, POPT, Peneliti, atau TNI-Polri untuk seterusnya mengawal atau membimbing serta memastikan sistem produksi padi- jagung petani tetap beroperasi. Upaya pendekatan kontinyu dilaksanakan sebagai wujud tanggungjawab menjadi abdi negara. Sekiranya peran diplomat swasembada terus memberikan keyakinan dan petunjuk jalan hidayah kepada para pelaku pertanian agar istiqamah berada dalam koridor upaya dan cita-cita swasembada pangan berkelanjutan.

Peta jalan swasembada pangan telah digariskan didalam kebijakan negara sehingga pengabdian para diplomat swasembada akan dicatat pada sejarah capaian program ketahanan pangan nasional dan reputasi ini akan melesatkan kemampuan pemerintah untuk memenuhi pangan domestik hingga dunia. Semoga tetap terjaga semangat kinerja yang penuh dedikasi bagi segenap petugas pertanian maupun aparat TNI-Polri di dalam kemitraan strategis swasembada pangan.

Barru, 10 Februari 2026

*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, TPH dan Perkebunan Kabupaten Barru

(Visited 95 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.