Oleh Rosmawati

Seperti biasa, setiap pagi dimulai dengan ritual yang sama: saya berdiri di antara aroma kertas tua dan sunyi yang akrab. Di selasar Dinas Perpustakaan, saya menyimak bagaimana cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui jendela, menerangi rak-rak yang sejenak tadi masih tertidur. Di sinilah, sebelum dunia menjadi bising, saya menerima asupan literasi pertama saya—sebuah “pemanasan” jiwa sebelum mesin kreativitas saya benar-benar bekerja.

Rutinitas harian ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan sebuah tarian jemari di atas panggung imajinasi. Setiap buku yang saya tata dan setiap pengunjung yang saya temui adalah bait-bait narasi yang sedang menunggu untuk digubah. Bagi saya, bekerja di perpustakaan adalah cara terbaik untuk tetap berada di episentrum ilmu, menjaga agar langkah pikir saya tidak pernah kehilangan arah.

Di sela kesibukan itu, saat saya membuka WhatsApp, sebuah pesan muncul di layar. Sang maestro penggerak, Ruslan Ismail Mage, baru saja memposting sebuah foto dengan pesan yang seketika menghentak kesadaran: “Bengkel Narasi menyala terus tanpa syarat, tanpa batas!” Kalimat itu seolah menjadi dentum perkusi yang memicu adrenalin saya untuk segera menggerakkan jemari di atas tuts keyboard.

Pesan dari beliau memiliki kedalaman makna yang luar biasa bagi saya. Sebagai penulis buku “Ensiklopedia Sang Penggerak Pemikiran Inspiratif: Ruslan Ismail Mage”, kalimat itu adalah pengingat bahwa api perjuangan literasi tidak boleh padam. Menulis adalah tarian yang dilakukan tanpa syarat. Ia tidak menuntut panggung yang sempurna; ia hanya menuntut ketulusan untuk terus bergerak dan mengabadikan setiap jejak pemikiran yang mencerahkan.

Sebagai bagian dari keluarga besar Bengkel Narasi, saya menyadari bahwa mesin kreativitas kami memang harus menyala terus. Tidak ada ruang untuk berhenti, karena tugas kita adalah menjaga agar gerak pemikiran inspiratif tetap hidup dan relevan sepanjang zaman. Di bengkel ini, bara api literasi tidak pernah dibiarkan redup; ia terus ditiup oleh semangat untuk melahirkan narasi-narasi baru yang mampu menjadi kompas bagi pembaca.

Membaca kemudian menjadi gerakan penyeimbang yang sakral dalam rutinitas harian saya. Lewat lembaran buku di perpustakaan, saya menyelami kedalaman gagasan para tokoh, memastikan bahwa setiap tarian narasi yang saya suguhkan memiliki landasan yang kokoh. Bagi saya, membaca adalah cara terbaik untuk memperlebar cakrawala sebelum saya menuliskannya kembali menjadi sebuah inspirasi yang mampu menggetarkan batin banyak orang.

Sifat narasi yang saya perjuangkan adalah tanpa batas. Saya menolak untuk mengurung diri dalam satu genre atau terbatas oleh sekat birokrasi. Menulis memberikan saya sayap untuk melompat melampaui rutinitas kantor, membawa pembaca menjelajahi dunia pemikiran yang luas—sebuah perjalanan lintas ruang yang hanya bisa ditempuh melalui kekuatan kata-kata yang merdeka dan jujur.

Saya berharap, kehadiran saya di dunia literasi dapat mendorong setiap orang agar tidak hanya menjadi penonton di balik rak buku, tetapi tergerak untuk menjadi pelaku sejarah. Saya ingin setiap pengunjung perpustakaan dan pembaca karya saya berani masuk ke “lantai dansa” literasi, mengambil pena mereka, dan mulai menuliskan jejak pengabdian mereka sendiri. Satu tulisan yang lahir dari ketulusan adalah cahaya yang tak akan pernah padam.

Pada akhirnya, hidup saya adalah perpaduan antara mekanik di bengkel, penjaga gudang ilmu, dan penari aksara. Selama hayat dikandung badan, mesin di Bengkel Narasi akan tetap berderu dan tarian di Dinas Perpustakaan akan terus berlanjut. Karena bagi saya, hidup yang paling bertenaga adalah hidup yang terus menyala tanpa batas, membagikan energi penggerak bagi siapa saja yang haus akan perubahan lewat kekuatan aksara. 

Pada akhirnya, hidup saya adalah perpaduan antara mekanik di bengkel, penjaga gudang ilmu, dan penari aksara. Selama hayat dikandung badan, mesin di Bengkel Narasi akan tetap berderu dan tarian di Dinas Perpustakaan akan terus berlanjut. Karena bagi saya, hidup yang paling bertenaga adalah hidup yang terus menyala tanpa batas, membagikan energi penggerak bagi siapa saja yang haus akan perubahan lewat kekuatan aksara. 

(Visited 15 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.