Lemari Arum tidak pernah penuh sesak.
Bukan karena ia tak mampu membeli, tapi karena tiap kali tangannya menyentuh gantungan baju di toko, sebuah bisikan mampir di telatnganya:

“Sanggupkah kau menjawab pertanyaannya nanti?”
Sore itu, Arum sedang merapikan beberapa jilbab barunya.

Ia tidak membelinya untuk mengikuti tren warna earth tone yang sedang viral, melainkan karena jilbab-jilbab lamanya sudah mulai menipis kainnya.

Arum mengambil sehelai khimar berwarna abu-abu tua, lalu membawanya ke sajadah.

“Mau pakai baju baru lagi buat sholat, Ar?” tanya ibunya yang kebetulan lewat di depan kamar.

Arum tersenyum tipis sambil menyampirkan kain halus itu ke bahunya.

“Iya, Bu. Biar dia kenal sama dahi Arum saat sujud.”
Ibu mengernyit,

“Bukannya sayang?

Biasanya orang simpan baju bagus buat kondangan atau Lebaran, biar kelihatan pantas di depan orang. Kalau cuma buat sholat di kamar, pakai mukena yang lama kan juga bisa.”

Arum menghela napas pelan, bukan karena tersinggung, tapi karena ia tahu ibunya hanya bicara layaknya orang pada umumnya.

Ia mendekat dan menggenggam tangan ibunya.

“Bu, Arum takut,” akunya jujur.

“Arum takut kalau baju-baju cantik Arum lebih banyak dibawa pergi jalan-jalan, makan di kafe, atau sekadar berfoto, tapi jarang diajak menghadap Allah.

Nanti di hari perhitungan, kalau baju ini ditanya, ‘Dipakai untuk apa saja engkau selama di dunia?’,

Arum ingin dia menjawab dengan bangga: ‘Aku dipakai untuk bersujud, aku menjadi saksi saat hamba-Mu ini menangis di atas sajadah.’”

Arum teringat sebuah nasihat yang pernah ia baca.

Bahwa harta kita yang sebenarnya bukanlah yang kita simpan, melainkan yang kita gunakan untuk ketaatan.

Ia tak ingin jilbab-jilbabnya hanya menjadi tumpukan beban yang memperlama langkahnya di gerbang hisab kelak.

“Arum bukan mau pamer ke orang-orang dengan baju ini, Bu.

Justru Arum ingin ‘pamer’ kepada Allah, bahwa harta titipan-Nya Arum gunakan untuk memuliakan perintah-Nya.

Arum ingin kain ini membela Arum, bukan malah memberatkan.”
Mendengar itu, sang Ibu terdiam. Ada rasa haru yang menjalar.

Ia melihat tumpukan baju di lemarinya sendiri dengan sudut pandang yang berbeda.

Selama ini, banyak dari kita sibuk memikirkan penilaian manusia hingga lupa bahwa benda mati pun punya cara untuk bersaksi.

Saat azan Maghrib berkumandang, Arum mengenakan jilbab barunya dengan takzim. Kain itu terasa dingin dan nyaman.

Dalam setiap rakaatnya, Arum berbisik dalam hati, menitipkan jejak sujud pada tiap serat benang yang ia pakai.

Karena ia tahu, di saat lisan tak lagi bisa beralibi, pakaian inilah yang akan bicara jujur tentang siapa pemiliknya.

Makna yang Bisa Kita Petik
Apa yang Anda lakukan adalah bentuk “investasi akhirat” pada barang duniawi.

Menggunakan pakaian terbaik untuk ibadah bukan hanya soal adab, tapi juga cara memastikan bahwa harta tersebut memberikan manfaat yang kekal.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.