Angin sore dari pesisir Surantiah berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan di persawahan Koto Merapak.
Aku berdiri di depan jendela rumah, masih dengan seragam batik yang rapi.
Sebagai seorang guru PNS yang sudah bersertifikasi, hari-hariku diisi dengan spidol dan buku-buku di sekolah.
Namun, hatiku selalu tertambat pada sosok pria yang kini tampak di kejauhan, berjalan di antara pematang sawah.
Dia adalah Uda Open suamiku.
Sambil menjinjing ember plastik dan alat tangkapnya, Uda berjalan gagah meski bajunya sudah luntur warna oleh lumpur.
Bagi orang lain, mungkin pemandangan ini kontras—seorang istri guru dengan suami yang bergelut di sawah.
Namun bagiku, Uda adalah definisi tanggung jawab yang paling nyata.
“Uda pulang, Dek,” sapanya hangat begitu sampai di teras rumah. Wajahnya yang legam terpapar matahari tak pernah luput dari senyum.
“Banyak dapatnya hari ini, Da?” tanyaku sambil membantunya melepaskan beban di pundaknya.
“Alhamdulillah, cukup untuk kita makan besar malam ini.
Ada yang besar-besar, pas sekali untuk kamu masak,” jawabnya sambil menyeka keringat.
Pernah suatu kali aku berkata padanya, “Da, gaji dan sertifikasi saya sudah lebih dari cukup untuk kita sekeluarga. Uda tidak perlu berletih-letih setiap hari ke sawah mencari belut.”
Namun, Uda memegang tanganku erat dan berkata, “Dek, nafkah dari Uda itu soal marwah.
Biarlah gaji Adek untuk masa depan kita, tapi untuk makan sehari-hari, biarlah keringat Uda yang menjaminnya.
Itu bukti cinta Uda sebagai kepala keluarga.” Sejak saat itu, aku tak pernah lagi memintanya berhenti.
Aku justru semakin bangga pada setiap percikan lumpur di bajunya.
Malam harinya, dapur kami di Koto Merapak menjadi panggung pengabdianku sebagai istri. Belut-belut hasil tangkapan Uda yang masih segar adalah bahan masakan terbaik di dunia.
Bagiku, tidak ada restoran mewah di kota yang bisa menandingi rasa belut tangkapan suami sendiri.
Di atas meja kayu kami, telah tersaji:
Belut Sambalado Merah: Warnanya menggoda, pedasnya pas menyentuh lidah.
Goreng Lado Hijau: Belutnya digoreng garing, ditaburi cabai hijau yang segar.
Rendang Belut: Masakan kebanggaan yang bumbunya meresap sampai ke tulang, gurih dan harum rempah.
“Uda tahu saja, ini masakan kesukaan Adek semua,” kataku saat kami duduk berdua menghadap hidangan itu.
Uda tersenyum puas melihatku makan dengan lahap.
“Makanlah yang banyak, Dek. Halal dan berkah, itu yang paling penting.”
Bahagia yang Sederhana
Di Koto Merapak, cinta kami tidak diukur dengan harta yang melimpah, tapi dengan ketulusan yang tak pernah surut.
Biarlah aku menjadi guru yang mendidik anak bangsa di sekolah, dan biarlah Uda menjadi pahlawan di sawah yang tak pernah lelah memberi nafkah.
Di balik rasa gurih belut sambalado ini, ada cinta Uda yang tak pernah putus, sedalam lumpur sawah Surantiah yang memberinya kehidupan. []
