Oleh : Rosmawati*
Banyak dari kita terlalu asyik memainkan peran di atas panggung jabatan. Kita menikmati tepuk tangan, fasilitas, dan silaunya lampu sorot, sampai terkadang lupa bahwa setiap pertunjukan pasti ada durasinya. Ada waktu di mana kita harus melangkah mundur dan membiarkan lampu panggung itu benar-benar padam.
.
Tulisan ini lahir secara spontan saat meresapi pemikiran inspiratif Bang RIM (Ruslan Ismail Mage) yang mengatakan, “Hampir semua orang sibuk mengurus hidup dan mengabaikan kehidupan, padahal sesungguhnya hidup bukan hanya untuk hidup tetapi untuk kehidupan”.
Menurut sang inspirator ini, orang yang hanya sibuk mengurus hidup (dirinya sendiri) akan menangis di usia senjanya. Sementara orang yang mengurus hidup dan juga kehidupan (lingkungan sosialnya), maka akan tersenyum damai di usia senjanya, karena semesta akan menjaganya.
Membaca quote di atas terasa ada energi getar yang membuat saya terdiam sejenak berkomunikasi dengan batinku, bagaimana seharusnya kita “mengurus kehidupan” melalui tulisan dan tindakan. Seringkali kita terlalu sibuk menata karier hingga lupa menata hati yang sebenarnya menjadi rumah sejati.
.
Sesungguhnya, jika diri sudah tertata, kita akan sadar bahwa jabatan hanyalah sebuah “kostum”, bukan “kulit”. Saat kostum itu harus dilepas, jati diri kita tetap utuh karena selama kita menjabat memilih jalan norma. Walau jalan sunyi tetapi damai, bahagia dan rasa syukur menyelimuti jiwa.
Jadi sebelum lampu padam (habis jabatan), mari kita mulai melakukan wisata ke dalam diri. Belajar melepaskan keterikatan agar saat tiba waktunya turun gunung kita tidak terjerembab, melainkan mendarat dengan anggun. Saat lampu padam, kita tidak kebingungan cari cahaya, karena jalan norma yang kita pilih selama menjabat telah merawat cahaya dalam jiwa, dan menyadarkan, “Jabatan itu Berbatas”.
*BNsiana dan Koordinator Pena Anak Indonesia Kolaka Utara
