Acapkali datang bulan suci Ramadan takjil menjadi menu utama menjelang berbuka puasa, sebelum menyantap hidangan berat lainnya.

Bukan karena pelet ilmu hitam loh, bagi saya barongko ini menjadi pilihan utama waktu berbuka puasa. Selain kelembutan olahan pisangnya, takjil Barongko di bulan suci ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, lebih dari sebuah simfoni aroma.

Saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat dan langit Makassar mulai berubah jingga, ada satu aroma spesifik yang selalu berhasil mencuri perhatian, perpaduan antara wangi daun pisang yang dikukus, manisnya pisang matang, dan gurihnya santan kental begitu menggiurkan.

Diatara aneka macam takjil yang di jual, selain kurma, bagi kami tidak ada takjil yang bisa menandingi posisi Barongko adalah primadonanya. Tanpanya, ritual berbuka puasa dengan barongko rasanya seperti ada satu kepingan puzzle yang hilang.

Kue Barongko bukan sekadar camilan manis. Ia adalah identitas. Berasal dari tanah Sulawesi Selatan, kue basah tradisional ini telah melewati perjalanan waktu yang sangat panjang. Konon, pada zaman dahulu, Barongko adalah hidangan eksklusif yang hanya disajikan untuk para raja dan bangsawan di kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar.

Namun kini, kelezatannya telah menjadi milik semua orang. Ia adalah simbol kerakyatan yang tetap membawa martabat kemewahan rasa dalam kesederhanaannya. Bahan-bahannya jujur dan tidak neko-neko, yakni pisang kepok yang sudah sangat matang, santan segar, gula pasir, telur dan daun pisang sebagai pembungkusnya.

Namun, saat keempat bahan ini bersatu dalam sebuah harmoni, mereka menciptakan tekstur yang begitu lembut, hampir menyerupai pudding atau custard tradisional yang lumer di lidah.

Dari resep-resep yang beredar di jagad maya, membuat Barongko adalah sebuah ritual. Barongko yang enak tidak bisa dibuat dengan terburu-buru. Semuanya dimulai dari pemilihan pisang. Pisang kepok yang digunakan haruslah yang sudah benar-benar matang, kulitnya kuning kecokelatan, namun dagingnya masih padat. Pisang ini kemudian dihaluskan, tapi tidak sampai menjadi bubur cair—masih ada tekstur serat-serat halus yang memberikan karakter saat dikunyah.

Kami tidak membuat barongko sendiri, melainkan membeli dipenjual kue langganan kami. “Barongko itu seperti kejujuran. Apa yang di luar (daun pisang), harus mencerminkan apa yang di dalam (adonan pisang). Itulah kenapa namanya Barongko, dari kata ‘Barang ko’ yang dalam filosofi Bugis berarti apa yang dikatakan di mulut, itulah yang ada di hati.”

Betapa pentingnya peran daun pisang tersebut. Daun pisang bukan sekadar pembungkus atau wadah ramah lingkungan. Ia adalah “nyawa” kedua bagi Barongko.
Saat dikukus, pori-pori daun pisang melepaskan minyak alami dan aroma khas yang meresap ke dalam adonan. Itulah sebabnya Barongko yang dikukus di dalam cetakan plastik tidak akan pernah bisa menandingi rasa Barongko yang dibungkus daun. Ada rasa smoky, segar, dan sedikit sepat yang menyeimbangkan rasa manis dari gula dan pisang.

Bentuk bungkusannya pun unik, mirip seperti tumis namun dengan lipatan yang lebih rapi dan kokoh. Kalau di Jawa bungkusannya mirip bothok. Membukanya saat waktu berbuka tiba adalah sebuah seni tersendiri. Begitu semat lidi dicabut dan daun dibuka, aroma khas barongko akan mengundang kita untuk segera menyantapnya. Rasanya membawa serta janji manis untuk memulihkan energi setelah belasan jam berpuasa.

Salah satu alasan mengapa Barongko selalu ada di meja kami adalah sifatnya yang “inklusif”. Ia disukai oleh semua generasi. Anak-anak menyukai teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang tidak menyengat. Bagi mereka yang baru belajar berpuasa, Barongko adalah hadiah kecil yang paling ditunggu. Menikmati Barongko sebagai teman minum teh atau kopi setelah azan maghrib berkumandang.

Rasanya yang mengenyangkan namun tidak membuat perut begah menjadikannya takjil yang ideal. Tekstur Barongko yang sangat lembut membuatnya mudah disantap oleh para sesepuh yang mungkin sudah kesulitan mengunyah makanan keras. Bagi mereka, setiap gigitan Barongko adalah perjalanan nostalgia ke masa muda.

Pertanyaannya, manakah cara terbaik menyantap Barongko?
Sebagian dari kami, termasuk saya, lebih suka menyantapnya dalam keadaan dingin. Setelah kami membeli kue Barongko, lalu dimasukkan ke dalam lemari es. Saat berbuka, sensasi dingin yang bertemu dengan tekstur lembut yang creamy terasa sangat menyegarkan tenggorokan.

Namun, ada juga yang tetap teguh pada pendiriannya, Barongko harus dinikmati hangat-hangat, sesaat setelah diangkat dari kukusan. Katanya, saat masih hangat, aroma santan dan telurnya jauh lebih kuat dan “nendang”. Apapun pilihannya, satu hal yang pasti, piring Barongko akan selalu licin dalam hitungan menit.

Di tengah serbuan takjil kekinian mulai dari minuman boba hingga dessert box yang viral—Barongko tetap kokoh berdiri. Ia adalah pengingat akan akar budaya kita. Di dalam setiap suapannya, terkandung doa-doa ibu yang memasaknya, ada tawa saudara yang membantu membungkusnya, dan ada rasa syukur yang membuncah saat azan berkumandang.

Barongko adalah simbol kasih sayang keluarga. Ia mengajarkan kita bahwa sesuatu yang berharga terkadang tersembunyi di balik bungkus yang sederhana. Ia mengajarkan tentang kesabaran dalam mengukus dan ketelitian dalam meracik. Saat Ramadan berakhir nanti, kerinduan akan Barongko biasanya akan menetap hingga tahun berikutnya.

Namun, itulah yang membuatnya spesial. Ia bukan sekadar makanan sehari-hari; ia adalah tamu kehormatan yang datang setahun sekali untuk mempererat ikatan kami di meja makan.
Jadi, jika sore ini kita melihat sebungkus kue Barongko tersaji di depan mata, ingatlah bahwa kita tidak hanya sedang menyantap kue pisang semata, tetapi sedang merayakan sebuah tradisi luhur dari Sulawesi Selatan, menikmati hasil karya tangan yang penuh cinta, dan meresapi manisnya momen kebersamaan yang tak ternilai harganya.

(Visited 4 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.