Di sebuah sudut Simpang Kapuak, suara mesin jahit tua seringkali beradu dengan riuh rendah cemoohan tetangga. “Mimpi kok ketinggian, mau jadi penulis katanya? Sekolah saja putus,” bisik mereka. Namun, bagi Ibu, kata-kata itu hanyalah angin lalu yang mendinginkan peluhnya.
Masa remaja Ibu terenggut saat orang tuanya berpisah. Di saat teman-temannya menggenggam ijazah, Ibu harus menggenggam kayu bakar dan beban dapur.
Umi Nurasmi ( umi itam)dan Pak Radias (die) bercerai meninggalkan lima orang anak. Ilal Apri ,Elmiati, Imda Wati , M.Jamal dan Indal Mahdi. Pak die kemudian menikah lagi dengan Murni dan memiliki dua anak Lisnawati dan Mafaza Nalla Hamdi .
Cita-citanya menjadi penulis terkubur di balik tumpukan cucian dan tanggung jawab keluarga. Namun, di matanya, ada api yang tak pernah padam. Api itu ia tiupkan ke dalam jiwa putrinya, Chilot.
Ibu tidak ingin Chilot bernasib sama. Dengan sisa tenaga dan doa-doa di sepertiga malam, ia menyekolahkan Chilot setinggi mungkin.
Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jembatan untuk menjemput mimpi yang dulu ia tinggalkan di gerbang sekolah yang tertutup.
Kerja keras itu berbuah manis. Alhamdulillah, kini Chilot telah berdiri tegak sebagai seorang ASN di Surantiah. Sebuah pencapaian yang membungkam keraguan banyak orang di Simpang Kapuak.
Namun, bagi Ibu, kebanggaan terbesarnya bukan hanya seragam yang dikenakan anaknya, melainkan pena yang kini digenggam erat oleh Chilot.
Kini, di setiap kesempatan, di depan khalayak luas maupun dalam diskusi kecil, Chilot selalu memperkenalkan diri dengan binar mata yang sama dengan ibunya.
“Cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis. Saya ingin mengikuti jejak Buya Hamka, yang karyanya abadi—sukses tidak hanya di dunia, namun juga menjadi amal jariyah di akhirat.”
Mimpi “gila” perempuan dari Simpang Kapuak itu kini mulai terwujud satu per satu. Bukan lewat tangannya sendiri, melainkan lewat jemari putrinya yang lincah menari di atas kertas.
Setiap kata yang ditulis Chilot adalah detak jantung ibunya yang sempat tertunda.
Ibu hanya tersenyum melihat Chilot dari kejauhan.
Baginya, menjadi penulis bukan hanya soal menerbitkan buku, tapi soal memastikan bahwa kebenaran dan keindahan terus tertulis, melampaui usia dan rasa sakit masa lalu.
Mungkin tulisan Chilot tidaklah sehebat Asma Nadia atau Mira W yang hampir semua novelnya sudah dibaca kak Chilot. Namun setidaknya sudah memujudkan mimpi ibu untuk menjadi seorang penulis.
Terimakasih atas doa’ aba dan ibu. Sekarang anakmu ini sudah resmi menjadi penulis. tanpa doa’ terbaik darimu aku bukanlah siapa -siapa.
