Oleh: Suharman Sumpala*
Perjalanan seseorang ke suatu negeri terkadang untuk kunjungan keluarga atau berwisata terlebih lagi apabila sebuah traveling dilakukan pada waktu penugasan lapangan untuk mensupervisi program sekaligus menikmati suasana suatu wilayah yang jauh dari kampung halaman. Dalam perjalanan tentunya akan ditemui berbagai ragam budaya masyarakat lokal, cara hidup penduduk, potensi daerah hingga panorama alam unik yang bisa jadi nuansanya berbeda dengan atmosfer yang biasa disaksikan di tempat lain.
Trip yang dilakukan penulis kali ini adalah kunjungan kerja ke salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah yaitu pada sebuah lembah eksotis yang menghadirkan pesona dataran tinggi dan terbuka luas yang memanjakan mata pengunjung. Spot wilayah ini berlatar keragaman sektor pertanian yang dikelola masyarakat setempat. Daerah tersebut oleh penduduk lokal disematkan dengan nama Lembah Napu.
Lembah Napu adalah area yang berada dalam wilayah Kabupaten Poso yang terdiri atas 4 Kecamatan yaitu Lore Utara, Lore Timur, Lore Tengah dan Lore Piore yang berada pada ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut. Lembah Napu menawarkan pemandangan savana hijau, hutan pinus dan situs megalitik purbakala dan dikelilingi perbukitan yang indah serta iklim alam yang sejuk. Wilayah ini di sisi barat berbatasan langsung dengan enclave kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan di sebelah Timur adalah bentangan hutan produksi dan hutan lindung.

Kawasan Napu terkenal sebagai penghasil hortikultura seperti sayuran kol, bunga kol, tomat, buncis dan lain-lain. Produknya mensuplay kota Palu, Kalimantan dan terserap diberbagai daerah termasuk kebutuhan konsumsi di areal park industri Morowali. Selain produk hortikultura, kakao menjadi salah satu komoditas sumber pendapatan utama masyarakat. Kesejahteraan penduduk terlihat dari berbagai aktivitas ekonomi dan penampakan secara visual pada kepemilikan rumah warga yang cenderung lebih modern dibandingkan dengan daerah lainnya.
Seiring dengan pengembangan hilirisasi sektor perkebunan utamanya penguatan kembali komoditas kakao rakyat, maka penulis melakukan perjalanan di Lembah Napu walaupun hanya kunjungan singkat beberapa jam saja dalam rangkaian fokus grup diskusi bersama petani kakao setempat. Pada mediasi kali ini memungkinkan mengunjungi beberapa petani kakao untuk melihat lebih dekat kondisi kakao di wilayah ini yang notabene masih potensial dengan tanaman mayoritas hybrida di atas 15 tahun. Petani menyampaikan masalah kakao yang dihadapi seperti tingkat serangan hama penggerek buah kakao atau PBK yang relatif tinggi dan penyakit busuk buah hitam di musim penghujan.
Hama dan penyakit tanaman kakao adalah momok utama bagi para petani kakao yang berdampak terhadap menurunnya produktivitas tanaman. Adapun upaya perlindungan yang dilakukan oleh petani adalah metode GAP atau praktek budidaya tanaman yang baik meliputi pemangkasan, pemupukan dan sanitasi kebun serta pemanenan rutin, namun perlakuan tersebut tidak signifikan memberikan hasil yang maksimal karena penerapan panen secara serentak dan berkala belum sepenuhnya dilakukan petani.

Beberapa petani mempraktekkan cara pengendalian OPT kakao dengan mengoles insektisida pada permukaan buah. Perlakuan ini mulai marak dilakukan oleh petani, namun demikian praktek ini tidak diperbolehkan karena menyalahi aturan penggunaan pestisida yang seharusnya dilakukan dan kemungkinan residu pestisida akan terbawa pada buah kakao apalagi jika sifatnya sistemik.
Sedangkan pemasaran biji kakao atau produksi pertanian lainnya pada umumnya diserap oleh pedagang lokal namun ada juga petani mengumpulkan hasilnya kemudian mengantar langsung ke Kota Palu atau daerah lain. Lembah Napu dengan segala keindahan panorama alamnya, segenap kesuburan lahannya, hingga dukungan iklimnya, ternyata sangat besar kontribusinya di dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk yang mendiami lembah ini. Ekosistem kakao atau komoditas pertanian lainnya akan sangat identik kehadirannya ketika berada di lembah yang subur sebagai habitat beragam flora dan fauna seperti Lembah Napu yang sarat dengan sejarah peradaban manusia.
Lembah Napu, 09 Maret 2026
*Pegiat Kakao Nasional, Geng Cinta 93 yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda
