Di sebuah sudut kecil bernama Simpang Kapuak, nama Afdal Lusra bukan sekadar nama biasa.

Bagi kami, para kemenakannya, nama itu adalah sinonim dari keberanian.

Setiap kali angin laut berhembus kencang hingga ke telinga kami di daratan, kami selalu membayangkan beliau sedang berdiri tegak di anjungan kapal, menantang cakrawala.

Kapten Afdal adalah tipe pelaut yang tidak pernah gentar oleh amuk samudra.

Kami sering mendengar cerita bagaimana kapal yang dikomandoinya membelah ombak raksasa, baik di perairan nusantara yang hangat hingga ke samudera jauh yang dingin dan asing.

Saat nakhoda lain memilih untuk memutar haluan karena cuaca buruk, Sang Kapten tetap tenang. Baginya, laut bukan musuh, melainkan kawan lama yang kadang sedang ingin menguji nyali.

Dengan seragam putihnya yang selalu rapi—lambang wibawa yang tak tergoyahkan—beliau membaca koordinat dan mengendalikan kemudi dengan tangan besi namun hati yang sabar.

Bagi kami para kemenakan, sosoknya adalah inspirasi hidup.

Beliau membuktikan bahwa seorang putra dari Simpang Kapuak bisa menaklukkan dunia. Setiap kali beliau pulang, aroma laut seolah ikut masuk ke rumah.

Beliau tidak pernah sombong; meski telah melihat megahnya pelabuhan-pelabuhan di luar negeri, hatinya tetap tertambat pada tanah kelahiran.

“Sejauh mana pun ombak membawamu pergi, jangan pernah lupa arah pulang ke dermaga asalmu,” ucapnya suatu kali sembari menepuk bahu kami.

Mata beliau yang tajam, yang terbiasa menatap ufuk tanpa batas, selalu melunak saat melihat kami.

Kami bangga, bukan hanya karena pangkat kapten yang ia sandang, tapi karena keberaniannya membawa nama baik keluarga dan kampung halaman hingga ke ujung dunia.

Kini, setiap kali kami melihat peta dunia, kami tidak lagi melihatnya sebagai sekumpulan garis dan warna. Kami melihatnya sebagai taman bermain Sang Kapten.

Afdal Lusra telah mengajarkan kami bahwa ombak setinggi apa pun bisa dilewati asalkan kita punya keberanian sebagai kompas dan integritas sebagai jangkar.

Kami, kemenakanmu, berdiri dengan kepala tegak, bangga memiliki mamak seorang pejuang samudra.

Teruslah berlayar, Kapten! Doa kami selalu menyertai setiap mil perjalananmu.

(Visited 21 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.