“Eh Bapak gombalin cewek. Dia cocoknya untuk saya,” kata Aprianto saat melihat atasannya bicara dengan seorang perempuan cantik, malam itu, pertengahan Agustus 2025.
Cerita ini dimulai sekitar 2015, ketika Alepu dan Ricky bekerja bersama di satu kantor, yang gedungnya baru pindah ke komplek perkantoran, agak jauh dari kota. Ricky punya anak perempuan bernama Aisya, siswi SMP, yang sering datang ke kantor ayahnya, membuat banyak teman kerja Ricky mengenal Aisya. Tak terkecuali Alepu.
Teman Ricky melihat anaknya sebagai seorang yang periang, ramah dan sepertinya pintar. Bahkan ada yang terucap, ternyata Ricky punya properti yang selama ini disembunyikan. Waktu berlalu, Alepu dan Ricky sama-sama pindah ke instansi yang berbeda, dan secara otomatis Aisya pun terlupakan.
Sepuluh tahun kemudian.
Alepu yang jadi pimpinan sebuah sub-unit organisasi kedatangan seorang pegawai baru. Namanya Aprianto. Lajang, pintar. Alepu melihat potensi pada diri Aprianto sebagai calon orang hebat dan bisa memajukan daerah. Sayang sekali, Aprianto berasal dari daerah lain. Besok atau lusa atau tahun depan, bisa saja dia mengajukan pindah. Kembali ke daerah asalnya.
Ada satu cara yang bisa membuatnya jadi warga permanen atau permanent resident, yaitu mencarikan pasangan hidup dari warga lokal, atau indigenous girl. Ini sebenarnya menjadi domain keluarga, namun orang lain bisa saja membantu asalkan tidak mengambil hak keluarga yang bersangkutan, apalagi orang tua. Alepu diam-diam mencari cara agar ini terwujud, meski tidak juga terlalu ngoyo.
Hingga suatu saat, Agustus 2025. Ricky mengundang Alepu di acara malam pagelaran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Alepu datang bersama teman kerja, termasuk Aprianto. Tidak ada yang istimewa pada malam itu, sampai mata Alepu tertuju ke sebuah titik yang menurutnya memiliki daya tarik.
Di dalam ruangan yang digunakan Ricky sebagai sekretariat, duduk seorang gadis dengan rambut terurai. Sesekali melihat kesibukan melalui jendela kaca, lalu berselancar di dunia maya. Dia juga tersenyum manis kepada anggota Ricky yang sebentar-sebentar masuk ke ruangan itu, entah untuk urusan apa.
Kelihatan jelas, gadis ini bukan bagian dari panitia UMKM. Dia tidak memakai seragam, dan tidak ikut bersibuk ria. Ia hanya duduk dan menonton. Salah seorang anak buah Ricky menghampiri Alepu dan berbisik: itu anaknya pak Ricky. Namanya Aisya. Baru lulus kuliah dan masih single. Alepu tersenyum simpul, penuh arti. “Mungkin ini saatnya,” batinnya.
Kegiatan itu selesai hampir tengah malam. Alepu beserta kru langsung pamit kepada Ricky dan pulang. Saat berjalan menuju parkir, sebagian besar teman Alepu mempercepat langkah menuju mobil di seberang jalan. Hanya Aprianto yang tertinggal. Lalu Alepu melihat Aisya berjalan di belakangnya. Tak lama mereka jalan beriringan dan mengobrol. Alepu mencoba memperpanjang obrolan dan menahan Aisya selama mungkin, hingga Aprianto menyusul mereka. Bahkan menahannya di parkiran sepeda motor.
Saat tiba, Aprianto langsung bicara setengah protes. Eh Bapak gombalin cewek. Dia cocoknya untuk saya, seumuran. Alepu tersenyum dalam hati, lalu berkata dengan nada bergurau: “silakan ambil.” Namun Aprianto hanya sebentar bersama mereka. Setelah basa basi, dia langsung berlari menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di mobil.
Alepu juga pamit kepada Aisya dan mereka berpisah. Namun Aprianto yang buru-buru langsung pulang membuat Alepu kurang puas malam itu. Dalam perjalanan pulang, dia mencari cara untuk mempertemukan mereka. Salah satunya dengan mengajak bertemu di café, lalu meninggalkan mereka berdua. Rencana licik.
Namun ini tidak pernah terjadi. Karena rupanya, cinta menemukan jalannya sendiri. Beberapa hari kemudian, Aprianto melapor ke Alepu bahwa dia sudah punya akun instagram Aisya. Dan mereka sudah mengikuti satu sama lain.
Beberapa pekan berikutnya, Alepu tetiba melihat di status WhatsApp Aprianto ada foto berdua dengan Aisya. Alepu langsung mengirim pesan singkat berbunyi: “segerakan. Jangan lama-lama nanti masuk angin.”
Dalam hitungan detik, muncul dua centang biru, lalu di layar ada tulisan mengetik. Muncul balasan: “kata Aprianto, kalau kami menikah, bapak nyumbang apa?” Rupanya Aisya yang membalas.
Tanpa pikir panjang Alepu memberikan balasan bahwa kalau menikah tahun itu juga maka mereka akan mendapatkan kado seperangkat tempat tidur lengkap dengan CCTV empat penjuru angin. Tentu saja ini lelucon dan tidak akan pernah terjadi di belahan bumi manapun.
Karena sudah saling cocok, mereka sepakat dan bertekad segera menyatukan dua hati dalam satu ikatan suci. Sehingga sebelum akhir tahun, kedua keluarga bermufakat melangsungkan acara tunangan di rumah Aisya. Mereka mengundang Alepu memberikan sambutan.
Dan, akhirnya, pada 18 April 2026, keduanya terikat secara resmi dalam ikatan pernikahan. Alepu didaulat sebagai saksi bersama seorang tokoh nomor dua di daerah itu.
Selamat menempuh hidup baru. Semoga kalian selalu rukun dan bahagia, tuntung pandang, ruhui rahayu, damai sentosa, sehidup-sesurga, live happily ever after.
Ini adalah kisah nyata, berdasarkan penuturan Alepu. Namun semua nama tokoh di dalam cerita ini adalah nama samaran.
Paser-Kaltim, 28 April 2026
