Oleh : Rosmawati
“Untuk hati yang sedang ditenangkan waktu dalam pelukan semesta”
Beberapa hari ini beranda saya jadi lebih hening. Ada teman yang biasanya ramai, kini memilih jeda. Ada yang postingannya berubah menjadi doa-doa pendek. Ada juga yang tiba-tiba lebih suka menyapa lewat senyum saja.
Saya paham, Kawan. Ada musim di hidup kita ketika semesta meminta kita rehat sejenak dari riuh. Ketika langkah kita diarahkan ke jalan yang berbeda dari peta yang kita gambar sendiri.
Perasaan itu wajar. Hati kita memang bukan mesin. Ia boleh lelah, boleh bertanya, boleh butuh waktu untuk memahami ulang.
Tapi bolehkah saya menitip pesan kecil? Sepelan bisikan yang menenangkan.
Kamu tidak berkurang sedikit pun. Nilai dirimu tidak diukur dari satu nama ruangan. Jejak kebaikan yang kamu tinggalkan, tidak ada angin yang bisa menerbangkannya. Ia sudah menetap di hati orang-orang yang pernah kamu bantu.
Kadang, kita dipindahkan bukan karena kita kurang. Tapi karena tempat baru itu sedang menunggumu untuk kamu terangi. Di taman lama, bungamu sudah mekar semua. Di taman baru, mungkin tanahnya sedang menyiapkanmu untuk tumbuh lebih tinggi.
Jangan habiskan energimu untuk menjelaskan pada yang belum paham. Simpan tenagamu untuk menyapa tugas baru dengan dada yang lapang. Seperti kata sang inspirator dan akademisi, founder Bengkel Narasi Indonesia, Ruslan Ismail Mage: “Sembunyikan kemarahanmu dalam keramahanmu agar orang lain tidak bisa mengukur hargamu.”
Karena orang yang tenang, langkahnya lebih sampai. Begitu pula orang yang ikhlas, cahayanya lebih terang. Lebih dari itu orang yang merendahkan hati, semata akan menariknya ke permukaan.
Kamu tahu daun yang jatuh dari ranting? Ia tidak marah pada angin. Ia percaya, jatuhnya dia hari ini adalah untuk menyuburkan pohon yang baru besok.
Mungkin hari ini terasa seperti jeda. Tapi bisa jadi ini adalah cara terbaik semesta untuk melindungimu dari lelah yang tidak terlihat, dan menyiapkanmu untuk peran yang lebih indah.
Tidak apa-apa beristirahat sebentar. Tarik napas. Peluk dirimu. Lalu saat kamu siap, melangkahlah lagi. Meja baru itu tidak butuh orang yang sempurna. Ia hanya butuh kamu yang kembali membawa hati.
dan percayalah, tulisan paling bijak lahir dari tangan yang pernah diam-diam menguatkan dirinya sendiri.
Kita sama-sama belajar ya, hatiku. Jangan bersedih, jangan melawan, jangan pongah, karena engkau telah kutanam ke bumi.
*BNsiana yang ikhtiar memposisikan diri sebagai murid kepada setiap orang yang ditemui.
