Kemarin, di Pantai Berova Pasir Putih, riuh semangat Mubes HMJ Prodi Kewirausahaan terlaksana, setelah sehari sebelumnya Mubes HMJ Prodi Majamemen. Saya tidak berdiri sebagai Dekan saat menyampaikan sambutan, tetapi sebagai orang tua yang menyaksikan proses pendewasaan mahasiswa kami.
Melihat mereka. Saya teringat bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal bureng (buru rengking) dan mengejar angka diatas transkrip nilai. Menjadi mahasiswa adalah tentang keberanian untuk berbuat sesuatu yang lebih besar dari kepentingan pribadi.

Terima kasih atas warna-warna indah, yang telah teman-teman lukis di prodi kita ini. Saya menyaksikan lelah yang kalian sembunyikan dibalik senyuman saat ada perintah melaksanakan kegiatan.
Terkhusus ucapan terima kasih kepada pengurus periode saat ini, yang telah memberikan detak jantung bagi HMJ, dan telah menjaga rumah kita agar tetap hangat. Saya tahu dibalik kesuksesan setiap proker, ada malam-malam tanpa tidur, ada diskusi yang menguras energi dan ada ego yang kadang merenggut kepercayaan diri.
Dipenghujung masa bakti ini, saya ingin kita semua belajar dari sebuah filosofi spidol dan penghapus. Sebelum kalian benar-benar melangkah keluar ketengah masyarakat, maka perhatikanlah dua benda sederhana yang selalu menemani perjalanan akademik kita.
Dunia seringkali terpukau pada Spidol. Ia tampak hebat karena ia yang menuliskan teori, ia yang menunjukkan arah, dan tintanya terlihat jelas memenuhi papan tulis. Ia adalah simbol dari eksistensi, kepemimpinan, dan keberanian untuk memancarkan cahaya kebenaran. Kita butuh banyak spidol di negeri ini, dimana anak muda yang berani menuliskan visi-visi besar untuk bangsa.
Namun. Ingat!! Jangan pernah kalian sepelekan keberadaan Penghapus.
Penghapus seringkali diletakkan di sudut yang berdebu. Ia jarang dipuji, ia bahkan rela terkikis habis dan kotor demi satu tujuan. Yaitu sekadar membersihkan papan yang penuh sesak agar ruang baru bagi ilmu bisa tercipta. Ia adalah simbol dari kerendahan hati, sebuah kekuatan yang sanggup meluruskan kekeliruan, menghapus noda ketidakadilan, dan merapikan kekacauan tanpa perlu dikenal namanya.
Teman-teman mahasiswa.
Kelak di masyarakat, kalian harus memilih peran mana yang akan kalian mainkan.
Apakah menjadi spidol yang menulis dan meluruskan kebaikan serta memberikan arah. Ataukah kalian akan menjadi Penghapus, yang dengan berani mengoreksi apa yang salah, menghapus kebijakan yang tak bersesuaian dengan nurani, dan meluruskan jalan yang bengkok meski dalam kesunyian.
Keduanya adalah tugas mulia. Jadilah pemimpian kolektif kolegial, yang tahu kapan harus tampil bicara, menulis, dan kapan harus rendah hati bekerja dibalik layar sebagai penghapus.
Ada kalanya kita harus tajam seperti spidol untuk menetapkan aturan, namun ada kalanya kita harus lembut dan tulus seperti penghapus untuk memaafkan, merangkul kembali, dan memperbaiki kesalahan bersama.
Teruslah berkolaborasi. Karena ditangan generasi muda seperti kalian, kewirausahaan bukan sekadar bisnis dan jurusan, melainkan manifestasi dari karakter kepemimpinan yang humanis dan memanusiakan manusia.
