Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar beranjak. Ia seolah menggantung di pelupuk mata, mengaburkan pandangan, dan terus mengganjal di sudut hati yang paling dalam. Sebuah pertanyaan singkat namun menyayat: Mengapa manusia harus diciptakan dengan kemampuan untuk merasakan sakit?.
Andai saja raga ini kebal terhadap kerusakan, mungkin kita tidak perlu bersusah payah mengantre di koridor rumah sakit yang dingin, berhadapan dengan jarum suntik, atau menjalani pemeriksaan medis yang melelahkan. Kita tidak perlu bergantung pada asupan zat kimia jangka panjang yang, meski menyembuhkan satu sisi, sering kali terasa seperti “pedang bermata dua” yang merusak sisi tubuh yang lain.

Lebih jauh lagi, andai hidup manusia bebas dari rasa sakit, tatanan ekonomi dunia mungkin akan berubah drastis. Bayangkan jika dana raksasa yang dialokasikan untuk operasional rumah sakit, dan industri farmasi dialihkan untuk sektor pendidikan. Mungkin tidak akan ada lagi anak bangsa yang putus sekolah. Biaya pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, bisa menjadi gratis sepenuhnya. Sebuah utopia yang nampaknya sangat indah untuk dibayangkan, namun sulit dibuktikan.

Namun, jika kita mencoba membedah keresahan ini dari berbagai sudut pandang, kita akan menemukan ruang untuk memahami “mengapa” hal ini terjadi. Secara biologis, rasa sakit sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang paling jujur. Ia adalah sistem peringatan dini yang diciptakan Sang Pencipta dengan sangat presisi.

Tanpa rasa sakit, kita tidak akan pernah tahu jika ada bagian tubuh yang sedang mengalami kerusakan atau infeksi. Bayangkan jika seseorang kehilangan sensor rasa sakitnya; ia mungkin tidak sadar saat tangannya sedang terpanggang api atau saat jantungnya berada di bawah tekanan hebat. Tanpa peringatan itu, pertolongan tidak akan pernah datang, dan semuanya akan terlambat. Sakit adalah cara tubuh “berteriak” agar kita berhenti sejenak, menanggalkan ego, dan memberikan perhatian pada diri sendiri.

Keresahan mengenai ketergantungan pada obat kimia jangka panjang adalah hal yang sangat manusiawi. Dalam dunia medis, efek samping adalah kenyataan pahit yang sering kali sulit dihindari. Namun, dokter biasanya berada dalam posisi dilematis untuk memilih risiko terkecil. Obat diresepkan karena manfaatnya untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah kerusakan organ yang lebih permanen dianggap jauh lebih besar daripada risiko efek sampingnya.
Ini adalah bagian dari keterbatasan manusia. Kita terus berupaya mencari formula pengobatan yang semakin hari semakin ramah bagi tubuh, namun kesempurnaan tetaplah milik Tuhan. Di sinilah letak ujian kesabaran bagi mereka yang harus bersahabat dengan rutinitas obat-obatan.

Dalam pandangan iman, khususnya Islam, penyakit bukanlah sekadar penderitaan fisik yang sia-sia. Penyakit dipandang sebagai bentuk ujian, pengingat, bahkan penggugur dosa bagi mereka yang menjalaninya dengan rida. Namun, meyakini Allah SWT sebagai Al-Syaafi (Maha Penyembuh) tidak berarti kita harus berpangku tangan.
Allah menciptakan dunia ini dengan hukum sebab-akibat (sunnatullah). Ketika Dia menurunkan penyakit, Dia juga menyertakan “kunci” penyembuhannya di alam semesta. Kunci itu bisa tersebar di dalam tanaman herbal, dalam kecerdasan para ilmuwan yang meneliti vaksin, maupun dalam tangan terampil para tenaga medis. Mengabaikan pengobatan dengan dalih kepasrahan justru bisa dianggap mengabaikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang ada di bumi.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari). Hadis ini adalah fondasi mental yang sangat kuat bagi seorang pasien. Secara medis, keyakinan akan adanya kesembuhan dapat merangsang pikiran positif yang secara langsung meningkatkan sistem imun tubuh. Optimisme adalah setengah dari penyembuhan.

Meski teknologi medis kini telah mampu melakukan rekayasa genetika atau transplantasi organ yang sangat canggih, ada dua hal yang tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan: penuaan dan kematian. Keduanya adalah pengingat mutlak akan hakikat kita sebagai makhluk yang fana.
Penuaan adalah proses biologis alami yang menandakan berkurangnya fungsi sel secara bertahap, sementara kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi. Menyadari batasan ini membantu manusia untuk tetap rendah hati. Seberapa pun hebatnya manusia mencoba “memperbaiki” tubuhnya, kita tetap tidak akan pernah bisa melampaui garis akhir yang telah ditetapkan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Secara filosofis, keberadaan penyakit sering kali menjadi guru terbaik dalam kehidupan. Penyakit memaksa kita untuk meruntuhkan keangkuhan. Saat sehat, manusia cenderung lupa diri dan merasa berkuasa atas segalanya. Namun, saat sakit, setiap detik waktu sehat yang pernah dilalui tiba-tiba menjadi harta yang paling berharga di dunia.
Rasa sakit juga mengajarkan empati. Hanya mereka yang pernah merasakan perihnya luka atau lemasnya raga yang bisa benar-benar memahami penderitaan orang lain. Penyakit mengubah cara kita memandang sesama; dari yang semula penuh penghakiman menjadi penuh belas kasih.

Sakit yang dialami seseorang bisa menjadi sarana penggugur dosa, jika dihadapi dengan rasa sabar dan ikhlas.

Memang sangat melelahkan jika harus terus berurusan dengan rumah sakit dan segala kerumitannya. Namun, barangkali pertanyaan “mengapa ada sakit” muncul agar manusia tidak pernah berhenti belajar. Kita belajar untuk terus meneliti ilmu pengobatan yang lebih baik, belajar tentang kekuatan doa, serta belajar tentang hakikat sabar dan syukur.

Pandanglah sakit dengan kacamata yang optimis namun tetap realistis. Tanamkan iman bahwa kesembuhan selalu mungkin bagi Allah. Berikhtiarlah melalui perantara hamba-hamba Nya, baik itu dokter, herbalis, maupun peneliti. Dan pada akhirnya, terimalah dengan lapang dada bahwa tubuh kita hanyalah titipan sementara yang memiliki “masa berlaku”.

Rasa sakit bukanlah kutukan, melainkan cara Tuhan mengajak kita berdialog agar kita kembali mengenali jati diri kita sebagai manusia yang lemah, namun tetap dicintai-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Visited 8 times, 8 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.