Oleh: Lolita Eka Putri

Gerimis tipis di luar jendela seolah ikut mengiringi rasa haru yang membuncah di dada ini.

Saya memandangi selembar ijazah dan foto anak gadis sulung saya yang terpajang di ruang tamu.

Di sana, ia tersenyum manis dengan balutan seragam khas MTsM Muhammadiyah Pasar Surantiah.

Hari ini, putri kecil yang dulu sering saya bonceng dengan sepeda motor, resmi menamatkan babak sekolah menengah pertamanya.

Alhamdulillah, Ya Allah. Kalimat itu tak henti-hentinya mengalir dari hati saya. Rasa syukur ini begitu membumbung tinggi, memenuhi sudut-sudut rumah kami yang sederhana di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan ini.

Melihatnya tersenyum itu, ingatan saya langsung melompat ke masa-masa tiga tahun belakangan.

Setiap pagi, saat matahari bahkan belum sepenuhnya bangun, kesibukan kami sudah dimulai.

Dan siang harinya, di bawah terik matahari Pesisir Selatan yang kadang begitu menyengat, saya kembali bersiap.

Saya bukanlah ibu yang bergelimang harta. Peran saya setiap hari adalah menjadi “tukang ojek” setia bagi putri sulung saya.

Masih teringat jelas bagaimana tangannya yang kecil memeluk pinggang saya erat-erat dari belakang saat motor kami membelah jalanan menuju Pasar Surantiah. Kami menembus angin pagi, menerjang gerimis, dan sesekali tertawa bersama di atas motor menghindari lubang jalanan.

Menjadi penjemput dan pengantar setianya adalah momen terbaik saya. Di atas jok motor itulah, kami saling bercerita tentang impian-impiannya.

Sebagai seorang mama, saya tahu betul bahwa kelulusan MTs ini bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.

Ini justru menjadi gerbang pembuka, sebuah awal langkah baru bagi anak gadis saya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Jalan di depannya masih panjang dan pasti akan lebih menantang.

Saya sadar, saya adalah seorang ibu yang jauh dari kata sempurna. Saya tidak bisa memberikan kemewahan, pun tidak memiliki semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dunia.

Namun, kekurangan itu selalu saya bayar di atas sajadah.

Di setiap sepertiga malam, di setiap embusan napas setelah salat, saya selalu memanjatkan doa-doa terbaik untuknya:

Agar ia selalu dijaga langkahnya oleh Allah SWT.

Agar ia tumbuh menjadi wanita yang salihah, kuat, dan rendah hati.

Agar ilmu yang didapatnya di MTsM Pasar Surantiah menjadi pondasi iman yang kokoh untuk menghadapi dunia luar.

Terbanglah Tinggi, Sulungku…

Kini, seragam putih-biru itu akan disimpan rapi di dalam lemari, digantikan dengan seragam baru yang menandakan ia sudah beranjak dewasa.

“Terima kasih ya, Ma, sudah setia mengantar Kakak sekolah,” bisiknya lirih sore itu sambil mencium tangan saya. Air mata saya hampir tumpah, namun saya tahan dengan senyuman terbaik.

Gadis sulungku, mamamu yang tidak sempurna ini akan selalu ada di belakangmu. Melangkah dan terbanglah lebih tinggi untuk mengejar cita-citamu.

Doa Mama dan Ayah akan selalu menjadi bahan bakar yang tak pernah habis, menuntun setiap langkah barumu ke masa depan. Selamat atas kelulusanmu, Nak. Perjuangan baru kita dimulai hari ini!

(Visited 27 times, 27 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.