Oleh: Dr. Ir. Baharuddin Burhan, M.Si., M.M., M.H., CEIA., IPU.ASEAN, Eng.

Singgasana alam sarat dengan aneka macam ciptaan Tuhan baik berupa benda padat, cair, gas atau yang bergerak hidup statis dan tak bergerak permanen namun bertumbuh berkembang. Relief alam yang disematkan kepada bumi berupa sungai yang bermuara di lautan atau perairan danau, dataran rendah hingga dataran tinggi di pegunungan yang menjulang sebagai pasak bumi. Dari dimensi alam tersebut akan membentuk siklus musim yang berefek terhadap suasana temperatur panas atau dingin, maupun rasa sejuk, kelembaban yang kering dan basah.

Di kaki Gunung Bawakaraeng, pada ketinggian sekitar 1650 mdpl, di Linoa Glamping Lembanna, cerita ini bermula. Bukan sekadar perjalanan menuju alam, tetapi sebuah awal-awal perkenalanku dengan sesuatu yang selama ini hanya kulihat, namun belum benar-benar kurasakan: alam itu sendiri.

Hari itu, udara terasa lebih dingin dari yang biasa kukenal. Kabut turun perlahan, menyelimuti pepohonan, seakan menyembunyikan rahasia yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau diam dan merasakan. Di kejauhan, suara air mengalir jernih terdengar begitu alami tanpa rekayasa, tanpa kepura-puraan. Di situlah, tanpa kusadari, aku mulai belajar.

Gunung Bawakaraeng berdiri kokoh, seolah menjadi saksi bisu dari setiap langkah kecil yang kuambil. Ia tidak berbicara, tidak memberi arahan, namun kehadirannya cukup untuk membuatku mengerti bahwa hidup tidak selalu harus keras untuk menjadi kuat.

Di tempat ini, aku mengenal arti mengalir. Air yang turun dari pegunungan tidak pernah memilih jalan yang mudah, namun ia tidak pernah berhenti. Ia tidak melawan batu yang menghadang, tidak pula memaksa arah agar sesuai keinginannya. Ia hanya mengalir tenang, jernih, dan setia menuju tujuannya.

Dari sanalah kalimat itu menemukan maknanya dalam diriku:
“Biarlah hidup mengalir seperti air tidak melawan, tidak memaksa, namun tetap setia menuju arah yang pasti.”
Dulu, mungkin itu hanya terdengar seperti kata-kata indah. Namun di kaki Gunung Bawakaraeng ini, semuanya menjadi nyata. Aku belajar bahwa tidak semua hal harus dikejar dengan tergesa. Tidak semua rencana harus berjalan sesuai keinginan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah berhenti sejenak, menerima, lalu melanjutkan langkah dengan hati yang lebih lapang.

Di sinilah awal aku mengenal alam. Awal aku memahami bahwa ketenangan tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam ketika kita berhenti melawan hal-hal yang memang tidak perlu dilawan.

Angin yang berhembus pelan, suara dedaunan yang bergesekan, dan gemericik air yang terus mengalir menjadi pengingat sederhana: bahwa hidup selalu bergerak, dengan atau tanpa kita sadari. Tugas kita bukan mengendalikan segalanya, tetapi belajar berjalan seirama dengannya.

Dan ketika senja mulai turun di Linoa Glamping Lembanna, langit berubah menjadi jingga yang hangat. Dalam diam, aku tersenyum—karena akhirnya aku mengerti, bahwa perjalanan ini bukan tentang seberapa jauh aku melangkah, tetapi tentang seberapa dalam aku belajar memahami.

Di kaki Gunung Bawakaraeng ini, aku tidak hanya menemukan keindahan alam, namun aku menemukan cara baru untuk hidup lebih tenang, lebih jernih, dan lebih setia pada arah yang telah ditentukan.
Standing posisi tersebut berada pada koordinat Linoa Glamping untuk selalu ready camping setiap waktu.

Lembanna Kabupaten Gowa, 06 Juni 2026

*Akademisi, Praktisi, dan Konsultan Proyek Lingkungan, Pertanian, Sipil dan Hukum.

(Visited 12 times, 12 visits today)
Avatar photo

By Admin

Admin Bengkel Narasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.