Catatan batin: Ruslan Ismail Mage

Saat mendengar kabar duka ini, aku sedang berbaring di bangsal rumah sakit daerah Cibubur. Aku tiba-tiba membisu, berusaha menahan butiran kristal yang menyeruak di sudut mataku. Semakin kutahan, semakin deras mengalir membasahi jiwaku.

Istri di sampingku sampai kaget melihat mataku basah. Belum sempat ia bertanya kenapa, aku sudah memperlihatkan foto ucapan duka di ponselku. Ia pun ikut membisu, karena kenal baik dengan almarhum. Awal tahun 2000, ia pernah datang ke rumah di Jakarta Utara mengurus pekerjaan adiknya.

Sambil menghapus air mata dengan tisu, ingatan terlempar jauh ke masa masa awal kami bertemu di Kota Padang, tahun 1994. Ada dua belas orang penerima beasiswa TID dari berbagai kampus di Indonesia yang ditempatkan bertugas di kampus Universitas Ekasari Padang.

Kami sempat mengontrak rumah bersama di belakang kampus. Hari hari awal di Kota Padang kami lalui di kontrakan Bandar Purus. Teringat, sarapan almarhum sering membuat mi direbus lalu digoreng dicampur telur dadar. Enak sekali rasanya sarapan sambil bercanda tentang siapa pendamping hidup nanti.

Tiga minggu lalu, aku masih sempat mengirim pesan ke ponselnya, menanyakan tulisan terbarunya di beberapa media daring, karena aku sudah berjanji ingin menerbitkan kumpulan tulisannya menjadi sebuah buku elegan sebagai kartu namanya di dunia akademik.

Sebagai sahabat seperjuangannya di kampus, aku bangga setiap kali almarhum mengirimkan tulisannya yang sudah diposting di media daring. Sebagai akademisi, almarhum menyadari bahwa proses pencerdasan tidak boleh hanya dibatasi dinding kampus, tetapi gagasan dan pemikiran juga harus disebarkan ke ruang ruang publik.

Namun, hari Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, tiba tiba aku mendapat berita duka berpulangnya ke pangkuan Ilahi saudaraku, H. Tarma Sartima, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ekasari Padang. Sahabat terbaik yang pernah kumiliki, intelektual sejati yang rendah hati, akademisi yang penuh dedikasi. Puluhan tahun bersamanya, tidak pernah sekali pun kulihat ia kesal, apalagi marah kepada seseorang. Kalau ada masalah di sekitar kampus, ia hanya tersenyum sambil berkata bahwa setiap efek perbuatan pasti kembali kepada diri masing masing.

Selamat jalan, saudaraku. Maaf, belum sempat kuterbitkan kumpulan tulisanmu menjadi buku.

*Akademisi Unes

(Visited 53 times, 53 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.