Media olahraga dunia sepakat menyoroti satu nama di awal September 2026, yaitu Elena Rybakina. Bintang tenis asal Kazakstan resmi mengunci posisi sebagai petenis nomor 1 dunia setelah menumbangkan wakil China Qinwen Zheng untuk mengamankan tiket ke babak semifinal Grand Slam US Open 2026.
Sorotan media kian tajam seiring keberhasilannya menjuarai turnamen dengan menumbangkan para petenis papan atas dunia. Setelah mengalahkan juara US Open 2023, Coco Gauff (Amerika Serikat) di semifinal, ia tampil perkasa di partai puncak dengan mengalahkan Aryna Sabalenka (Belarus), pemegang gelar US Open 2024 dan 2025.
Lewat kemenangan ini, ia sukses merebut gelar juara sekaligus mengakhiri takhta Sabalenka sebagai petenis nomor satu dunia yang telah bertahan selama 99 pekan. Keberhasilan ini juga mengantarkan petenis kalem berdarah Rusia ini menjadi perempuan ke-30 yang berhasil menduduki posisi puncak ranking dunia.
Sebelum naik podium sebagai juara US Open, ia mengoleksi dua gelar grand slam sebelumnya, yaitu Wimbledon (2022) dan Australian Open (2026). Kini, Roland Garros menjadi satu-satunya turnamen grand slam yang belum pernah ia taklukkan. Prestasi terbaiknya di lapangan tanah liat Paris ini hanyalah mencapai babak perempat final pada edisi 2021 dan 2024.
Sikap Elegan dan Berkelas
Yang jadi pembeda utama dengan pemain tenis kebanyakan adalah sikapnya yang kalem dan ekpresinya dingin di lapangan. Ia mampu pertahankan sikap elegan dan berkelas (elegant and classy) sepanjang pertandingan. Saat raketnya menghantam bola, hampir tidak ada suara dari mulutnya. Begitupun ketika memperoleh poin, ia hanya mengepalkan tangan tanpa ekspresi berlebihan.
Pukulan ace penentu di set terakhir langsung menasbihkan dirinya sebagai kampiun US Open 2026. Menariknya, selebrasi Rybakina sangat minimalis. Tanpa luapan emosi yang meledak-ledak, ia hanya menyambut kemenangan itu dengan senyuman wajar dan mengangkat kedua belah tangannya. Sikapnya yang tetap membumi di momen sekrusial itu langsung menuai decak kagum dari para pencinta tenis dunia.
Tidak hanya tenang saat menang, Rybakina juga menunjukkan sikap yang sama saat tertinggal poin atau kalah. Ia sangat lihai menyembunyikan kegundahan hatinya. Dengan wajah datar yang minim ekspresi, ia selalu tampil super tenang, dingin, dan anggun di lapangan.
Kekecewaan hanya membekas sesaat di wajahnya sebelum bergegas menuju net. Tanpa sedikit pun drama, ia memilih berdiri tegak menanti lawannya demi memberikan penghormatan terakhir. Lewat uluran tangan dan ucapan selamat yang santun, kadang dengan pelukan hangat, Rybakina menunjukkan bahwa kelas seorang juara tidak hanya diukur saat mengangkat trofi, tetapi juga melalui jiwa kesatria saat menerima kekalahan.
Meski kalah, pemain dengan julukan “Ratu Es” (Ice Queen) ini tetap menunjukkan kehangatan kepada para penggemar yang setia menunggunya. Ia masih tersenyum, menyapa, melambaikan tangan, bahkan memberikan tanda tangan. Setelah itu, ia melangkah keluar arena dengan kepala tegak.
Karakter Emosional Petenis Lain
Gaya bermain tenang ini berbeda dengan petenis pada umumnya yang kerap meledak-ledak. Banyak pemain dunia justru populer lewat jeritan khas mereka saat bertanding. Maria Sharapova (Rusia), misalnya, begitu ikonik dengan teriakan kencangnya setiap kali memukul bola.
Begitu pula dengan legenda tahun 1990an Monica Seles (Yugoslavia), serta petenis modern yaituSerena Williams (Amerika Serikat), Victoria Azarenka (Belarus), Naomi Osaka (Jepang), dan Eva Lys (Jerman) yang kerap melepaskan teriakan emosional sekaligus ekspresi kemenangan yang membakar semangat di lapangan.
Bukan hanya putri, petenis putra pun sering menunjukkan aksi emosional yang dramatis di lapangan.Publik tentu ingat bagaimana Novak Djokovic (Serbia) merobek bajunya hingga koyak di bagian dada demi merayakan gelar juara. Selain Djokovic, ekspresi intensitas tinggi juga melekat pada petenis papan atas beda generasi dari Spanyol yaitu raja tanah liat Rafael Nadal dan bintang muda Carlos Alcaraz. Ada juga sosok penuh kontroversi dari Australia, Nick Kyrgios.
Sikap ekslposif juga kadang terjadi pada pemain dalam kondisi kalah, kecewa atau stres. Wajah frustasi, aksi membanting raket, umpatan kasar, kemarahan terhadap wasit, hingga keengganan bersalaman dengan pemenang menjadi hal yang sering terjadi di lapangan.
Sejarah tenis mencatat tahun 2009 sebagai momen penuh kontroversi akibat luapan emosi para pemainnya di lapangan. Di US Open, Serena Williams melakukan aksi protes keras dengan menunjuk hakim garis menggunakan raket dan melontarkan ancaman verbal. Sementara itu di turnamen Fed Cup, petenis Italia Flavia Pennetta juga melakukan tindakan tidak sportif dengan mengacungkan jari tengah ke arah wasit.
Sejumlah petenis putri pun kerap meluapkan emosi dengan membanting raket. Mulai dari pemain seperti Miyu Kato (Jepang), Yulia Putintseva (Kazakstan), hingga Lois Boisson (Prancis) tercatat pernah melakukannya. Fenomena ini bahkan tidak jarang melanda para bintang papan atas dunia saat ini, termasuk Mirra Andreeva (Rusia), Caroline Wozniacki (Denmark), Aryna Sabalenka, dan Coco Gauff.
Di panggung tenis putra, emosi para atlet bahkan kerap meledak jauh lebih beringas. Rentetan aksi anarki di lapangan menjadi buktinya. Seperti saat David Nalbandian (Argentina) di Turnamen Queen’s Club (2012) menendang kaki hakim garis hingga terlihat mengaduh kesakitan. Lalu ada Andy Murray (Inggris) menendang bola ke arah kepala wasit di Cicinnati Masters (2016).
Dalam tiga tahun berturut-turut, dunia tenis profesional diwarnai oleh aksi emosional para pemain yang menyerang kehormatan wasit. Pada tahun 2022, Alexander Zverev (Jerman) mengawalinya dengan memukulkan raket ke kursi wasit di Mexican Open. Pola destruktif serupa ditunjukkan oleh Mikael Ymer (Swedia) di Lyon Open 2023 yang menghancurkan raketnya pada kursi pengadil. Tidak berhenti di sana, batas sportivitas kembali dilanggar pada 2024 ketika Frances Tiafoe (Amerika Serikat) melayangkan pelecehan verbal berupa umpatan kasar kepada wasit di Shanghai Masters.
Nah, si Ratu Es Rybakina lalu menunjukkan kepada dunia tenis bahwa rasa frustasi dan kekalahan adalah hal yang wajar dalam sebuah pertandingan. Ketika seseorang berani melangkah ke lapangan, ia harus siap menerima konsekuensi menang atau kalah, sekaligus menikmati segala romantika yang mewarnai jalannya laga.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Rybakina memiliki karakter yang sangat tenang. Sisi emosionalnya sebagai seorang wanita biasanya terlihat saat wawancara setelah menelan kekalahan. Dalam momen tersebut, ia kerap menumpahkan kekecewaan lewat tutur kata yang sopan dan nada bicara yang rendah. Ia mengakui kekurangan performanya, bahkan terkadang menjabarkan secara detail aspek permainan yang kurang maksimal.
Ia pantang menyalahkan orang lain saat kalah. Satu-satunya alasan yang ia bawa adalah rasa bersalah karena telah mengecewakan orang tuanya. Namun, ia selalu menutup evaluasi dirinya dengan sikap optimistis untuk bangkit dan memberikan hasil yang lebih baik di pertandingan berikutnya.
Satu hal lagi, dalam setiap sesi wawancara, ia menunjukkan respek tinggi dengan selalu membiarkan awak media menuntaskan kalimat mereka. Responsnya selalu singkat, tanpa beban, dan jujur. Keanggunan dalam kesunyian (silent elegance) ini menjadi pembeda utamanya dari mayoritas pemain, yang cenderung berbicara bertele-tele dan memberikan jawaban klise demi menyenangkan pers.
Refleksi di Kehidupan Sosial
Dalam kehidupan sosial, Elena Rybakina memadukan pembawaan yang stoik, anggun, dan berkelas. Kombinasi karakter ini membuatnya mudah masuk ke berbagai kalangan. Sebagai pribadi yang tidak mudah reaktif, ia memiliki kemampuan luar biasa dalam mengelola emosi dan pikiran saat menghadapi berbagai situasi di sekitarnya.
Dalam dunia psikologi, terdapat temperamen plegmatis yang bertumpu pada ketenangan sikap. Karakter utamanya terletak pada kemampuan menciptakan response gap. Ini adalah sebuah jeda bijak antara stimulus yang datang dengan reaksi emosional yang pergi. Kemampuan kontrol diri ini membentuk mereka menjadi pribadi yang santai, sabar, stabil secara emosi, dan selalu mencintai perdamaian.
Kendati demikian, mereka cenderung tertutup dan enggan membahas ranah pribadi. Batasan ini biasanya langsung tampam saat mereka menjawab dengan singkat, padat, dan langsung beralih ke topik lain.
Paser, Kalimantan Timur, 15 September 2026

