Chauvinisme sebagai paham kebangsaan sempit yang didasarkan kepada pertimbangan rasialisme atau etnosentrisme justru bertentangan dengan paham kebangsaan …
Nurkholis Madjid
Nasionalisme, patriotisme, dan heroisme berhubungan dengan perasaan atau sikap yang timbul dari dalam individu atau kelompok.
Pada dasarnya, ketiga sikap ini tak sama, karena memiliki perbedaan makna.
Apa itu nasionalisme, patriotisme, dan heroisme? Apa bedanya?
Menurut Ketut Rusmulyani dalam buku Semangat Nasionalisme dalam Bingkai Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara (2020), nasionalisme adalah paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi tiap individu ada pada suatu negara atau bangsa.
Dalam artian sempit, nasionalisme diartikan sebagai perasaan cinta berlebih terhadap bangsanya, sehingga kerap memandang rendah bangsa atau suku lainnya.
Patriotisme adalah sikap seseorang atau sekelompok orang yang rela mengorbankan apa pun yang dimilikinya demi mencapai kejayaan serta kemakmuran tanah airnya.
patriotisme adalah sikap yang bersumber dari perasaan cinta tanah air, sehingga menimbulkan kerelaan berkoban bagi bangsa dan negaranya.
Perbedaan utama nasionalisme, patriotisme, dan heroisme terletak pada makna dan cara menerapkannya.Nasionalisme merupakan sikap cinta tanah air. Bisa dilakukan dengan membeli serta menggunakan produk dalam negeri.
Sementara patriotisme adalah sikap rela berkoban. Misalnya berkorban untuk memerdekakan negara atau mempertahankan kedaulatan wilayah.
Sedangkan heroisme ialah keberanian untuk membela kebenaran. Dilakukan dengan membela hal yang memang benar dan patut, dan tidak melakukan hal yang salah. Contohnya taat membayar pajak dan merawat fasilitas publik.
Selanjutnya mari memahami paham chauvinisme, dalam Nasionalisme.

Sejarah Singkat Chauvinisme
Tahun 1960 ada istilah yang mulai dikenal dan populer, yakni chauvinisme. Sikap chauvinisme masih ada dalam sebagian pemahaman masyarakat dan ini sebaiknya dihilangkan atau dihindari. membahas.asal muasal
Seorang tentara yang setia pada Napoleon Banoparte, yakni Nicolas Chauvin yang pertama kali mencetuskan istilah chauvinisme.
Chauvin tetap setia dan sangat loyalitas pada Napoleon, meskipun Napoleon telah kalah dan bahkan dibuang di pulau St. Helena.
auvinisme atau sovinisme (bahasa Inggris: chauvinism) adalah ajaran atau paham mengenai cinta tanah air dan bangsa (patriotisme) yang berlebihan.
Makna ini kemudian diperluas hingga mencakup fanatisme ekstrem dan tak berdasar terhadap suatu kelompok yang diikuti.sikap chauvinisme adalah sikap berkebangsaan yang terlalu berlebihan.
Chauvinisme adalah suatu kesetiaan kepada pihak atau keyakinan tanpa mau mempertimbangkan pandangan lain sebagai alternatif.
Ekstremisme secara harfiah artinya “kualitas atau keadaan yang menjadi ekstrem” atau “advokasi ukuran atau pandangan ekstrem”.
Seringkali dikatakan bahwa dalam berinteraksi antara manusia satu dengan manusia lain yang harusnya dijadikan pijakan adalah kemanusiaan atau humanisme, dengan slogannya liberte, egalite, fraternite. Semboyan Revolusi Perancis adalah liberté, egalite, fraternité, yang artinya kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan ( kompas. com).
Manusia, berdasarkan pada humanisme yang menurunkan Ham (Hak Manusia/Human Rights), adalah sama rata, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Humanisme tentunya melampaui semua suku dan negara (internasional; nation, dalam arti bangsa dan juga negara) dan nampaknya mampun untuk menyatukan seluruh manusia untuk menyikapi sesuatu atas dasar kemanusiaan.
Dampak Chauvinisme :
A. Dampak Negatif
Paham atau ideologi chauvinisme yang secara ekstrim pada diri individu akan mengakibatkan dampak yang buruk. Adapun dampak negatif dari chauvinisme antara lain adalah sebagai berikut:
1). Mengubah kepribadian individu atau komunitas ke arah yang buruk, yakni menjadi pola pikir yang konservatif. Selain itu, ia menjadi tertutup atau antisosial, sombong, kejam, keras kepala, dan menghina pihak yang lain.
2). Dalam konteks negara dan bangsa, chauvinisme ini akan melahirkan atau menyebabkan racun dalam perdamaian dunia yang berujung pada pertikaian, perpecahan, bahkan pemicu peperangan antarnegara yag menimbulkan banyak kerugian antar kedua belah pihak.
3). Individu, kelompok, ataupun komunitas yang berpegang pada chauvinisme, pasti melupakan pada Tuhan yang maha kuasa atas penciptaan dan seluruh alam ini.
4). Perasaan yang tertutup, mencurigai, dan tidak percaya pada negara atau pihak lain akan mengganggu dalam proses. Terjadi kemandekkan yang disebabkan tidak menerima pandangan dari pihak lain.
5). Menjauhi diri dari pihak atau bangsa yang lain, dengan kata lain enggan untuk bersahabat dengan pihak tertentu.
6). Tertanam dalam pikirannya terkait hal-hal yang negatif atas kebaikan dari pihak atau negara yang lain bagi pihaknya.
7). Bagi pemimpin dengan paham chauvinisme ini, tanpa ragu-ragu dengan ambisius yang kuat demi mendapatkan kekuasaan akan menyerang pihak atau negara yang lain.
B. Dampak Positif
Selanjutnya, dampak positif dari paham chauvinisme, secara faktual paham atau ideologi:
1). mampu memperat atau lebih mengintimkan kesatuan masyarakat supaya patuh atau tunduk pada pemerintahannya. Oleh karena, hal ini sesuai dengan sejarah lahirnya istilah chauvinisme dari tindakan yang dilakukan oleh Nicolas Chauvins.
2). Mempersatukan warga negaranya agar tunduk terhadap pemerintahan
3). Daya juang masyarakat tinggi untuk membela bangsa dan negara
4). Mempermudah pemerintah untuk mengarahkan arah gerak negara;
5). Membuat warga negara memiliki tujuan yang satu, entah itu untuk mengalahkan negara lain atau melampauinya. (tirto.id – dsk/ale)
Kesimpulan:
a). paham ini analogi adalah pedang bermata dua. meski mengajarkan kesetiaan pada negara, tetapi pada praktiknya wujud rasa cinta negara tersebut berlebihan dan justru mengakibatkan perpecahan.
b). Secara keseluruhan, chauvinisme lebih dominan berdampak pada hal yang negatif.
c). Dampak negatif lebih banyak cenderung menimbulkan kontra yang sungguh kontroversial diikuti dengan pandangan yang buruk pada negara atau bangsa yang lain terhadap negara atau bangsa sendiri daripada dampak positifnya.
Menyikapi pembakaran bendera, merupakan dampak dari doktrin chauvinisme.
Demikian penjelasan singkat mengenai sikap, paham chauvinisme, Agar bisa menghindari sikap tersebut maka harus memupuk jiwa nasionalisme dan patriotisme .
Dr.Sudirman, S. Pd., M. Si.
Pemateri Wawasan Kebangsaan|Alumni PMP |Dosen PPKn FKIP UPRI Makassar|

Sumber suntingan :

Sangat baik materinya pak , singkat padat , dan jelas.
Terima kasih pak.
Sangat bermanfaat, singkat dan jelas
Menambah wawasan Terima kasih pak