Sesungguhnya antara akademisi dan jurnalis memiliki banyak persamaan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, keduanya memiliki suara yang sama dalam menyuarakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Kedua, masing-masing menjaga netralitas tidak berpihak kepada kelompok tertentu. Akademisi melakukan riset, berkarya, memberdayakan, mencerdaskan, dan membagi ilmu itu semata untuk kepentingan rakyat dan bangsa. Itulah dalam dunia akademik dikenal istilah pengabdian masyarakat.

Begitu pula pekerja jurnalistik, semua karyanya harus didedikasikan untuk kepentingan rakyat. Itulah dalam dunia jurnalis dikenal istilah “Satu-satunya majikan yang harus dilayani adalah rakyat”. Hal ini mendapat pembenaran dari konsep demokrasi yang mengatakan bahwa rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi.

Dengan demikian, ketika seorang akademisi menulis atau mengkritisi pers, tentu memiliki nilai lebih yang menarik dijadikan acuan. Begitulah buku ini, pertama kali membaca judulnya, saya langsung teringat buku best seller internasional karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt berjudul “How Democracies Die (Bagaimana Demokrasi Mati)”. Masing-masing penulis buku ini memiliki napas dan kekhawatiran yang sama tentang masa depan demokrasi di negaranya.

Dalam buku “How Democracies Die”, penulis melihat bahwa pascaperang dingin demokrasi mati bukan disebabkan oleh jenderal dan serdadu, melainkan pemerintahan hasil pemilu dengan jalan mengendalikan lembaga-lembaga demokrasi. Bagaimana di Indonesia?

Buku karya saudara Ruslan Ismail Mage ini mencoba menjawabnya. Apa yang terjadi di Indonesia kurang lebih sama di ngera-negara lain, yaitu lembaga-lembaga demokrasi terlena dengan hodenisme kekuasaan.

Menariknya buku ini karena lebih fokus melihat dan membedah salah satu penyebab kemerosotan demokrasi di Indonesia, yaitu karena pers sebagai kekuatan keempat demokrasi terbuai rayuan menjadi partisan. ini ditandai dengan masuknya hampir semua pemilik media besar menjadi tim sukses kandidat presiden. Akibatnya, pers secara otomatis akan mengikuti kehendak pemiliknya. Sebagaimana yang dikemukakan ahli komunikasi massa Denis McQuail yang dikutip dalam buku ini, “Isi media selalu mencerminkan kepentingan pemberi dana.” Inilah kemudian yang disebut buku ini “Pers berproses menjadi racun demokrasi”.

Salut kepada penulis buku ini, satu di antara sedikit buku yang secara lugas menjelaskan kapan pers bisa menjadi racun demokrasi. Tentu diksi pers racun demokrasi telah menghentak kita. Semoga lahirnya buku ini bisa menjadi spirit kembalinya pers sebagai kekuatan keempat demokrasi. Semoga buku ini akan menjadi “madu” penambah energi gerak lahirnya jurnalis pejuang dan pengawal demokrasi bangsa.

Selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2022.

Prof. Dr. Alfitri, M.Si.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya

(Visited 23 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: