Setiap peristiwa menyadarkan banyak hal. Saat ini kita masih bergelut dengan yang sifatnya duniawi, esok atau lusa bisa jadi semuanya akan berakhir. Kemarin kita masih bersama menikmati deru ombak di pantai pasir putih meluapkan segala kepenatan jiwa. Bercanda dan tertawa bersama sambil meresapi keindahan alam ciptaan Tuhan.

Suka duka melebur dalam kebersamaan kita saat itu sesuai agenda yang telah disepakati, sebelum menikmati ikan bakar dan sinole plus pocco makanan wajib di setiap acara di pasir putih. Setelah itu kita duduk melantai beralaskan pasir putih berbagi motivasi dari beberapa buku karya sang inspirator Ruslan ismail Mage yang biasa disapa bang RIM. Sebuah sapaan yang terasa akrab di BN Indonesia, khususnya BN Kolaka Utara.

Ada beberapa titipan nasehat dari bang RIM yang harus aku sampaikan mewakili ketua komunitas Bengkel Narasi (BN) Kolut bunda Islamiati yang tidak sempat hadir.

Bang RIM menitipkan pesan untuk selalu memupuk kebersamaan dan tetap menjadi manusia-manusia pembelajar yang rendah hati. Pesan bijaknya, “Titiplah selalu hatimu di bumi sebelum terbang mengangkasa menggapai impiannya”.

Setelah menyampaikan pesan dan harapan dari bang RIM, agenda berikutnya menyampaikan apresiasi dari buku “Sumpah Pena” karya terbaru bang RIM berkolaborasi dengan kang Iyan. Apresiasi itu diwakili Fitriani Kadir dari kelas G UMK Kendari. Saat itu Fitriani Kadir sangat berterimah kasih pada bang RIM yang sudah menerimanya bergabung di BN indonesia dan telah membimbingnya menjadi penulis.

Setelah makan siang bersama akupun pamit terlebih dahulu, karena ada agenda lain. Saya diantar pulang naik motor Fitriani Kadir. Sambil memeluk pinggangnya yang ramping, sesekali kami bercanda di sepanjang jalan. Dengan spontan dia berkata, “Aduh ibu, saya itu siswanya waktu di SMP dan sempat nginap di rumah ketika ikut lomba olimpiade sains ketika itu.

Kembali aku melirik wajahnya, tenryata betul aku pernah menjadi guru fisika di kelasnya dan fitriani merupakan siswa yang cerdas. Siapa sangka ternyata itulah pertemuan terakhirku dengannya.
Hari ini aku hanya bisa memandang pusaranya yang baru saja tertimbun tanah basah sebasah mataku yang semakin sembab sejak berita duka ini Jumat 27 Agustus 2021.

Setelah tiada baru terasa. Meski kehadirannya di BN begitu singkat, namun sungguh semua keluarga besar BN merasa sangat kehilangan. Selamat jalan adikku sayang. Terimah kasih telah meninggalkan kenangan indah di BN dan di hatiku yang terdalam. Alfatihah tiada akhir untukmu

(Visited 270 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.