#penguasaancinta #themasteryoflove

Ada kisah kuno tentang seorang laki-laki yang tidak percaya cinta. Laki-laki ini manusia biasa, seperti Anda dan saya. Tetapi apa yang membuat laki-laki ini menjadi istimewa adalah cara berpikirnya. Dia berpikir bahwa cinta itu tidak ada. Dia sudah banyak pengalaman mencoba mencari cinta. Dia telah banyak meneliti orang-orang di sekitarnya. Sebagian hidupnya digunakan hanya untuk mencari cinta, hanya untuk membuktikan bahwa cinta itu tidak ada.

Ke mana pun laki-laki ini pergi, dia selalu berkata kepada orang-orang bahwa cinta itu bukanlah apa-apa, melainkan penemuan dari puisi semata, penemuan keagamaan yang digunakan untuk memanipulasi kelemahan pikiran manusia, untuk mengontrol manusia, untuk mereka yang hanya mempercayai cinta. Dia berkata cinta itu tidak nyata dan mengapa tak ada seorang pun yang mampu menemukan cinta walaupun mereka melihatnya.

Laki-laki ini sangat cerdas dan begitu meyakinkan. Dia banyak membaca buku, dia lulusan dari suatu universitas terbaik, dia merupakan orang yang mendapat beasiswa, dan ida adalah orang yang sangat disegani. Dia mampu berbicara di depan publik, di depan berbagai macam orang, dan logikanya begitu kuat.

Dia katakan bahwa cinta sama halnya seperti alkohol. Bisa membuat Anda mabuk kepayang, tetapi menciptakan kebutuhan yang kuat. Anda akan menjadi sangat kecanduan cinta. Tetapi apa yang terjadi ketika Anda tidak menerima dosis harian akan cinta? Seperti alkohol, Anda membutuhkan dosisnya setiap hari.

Dia selalu mengatakan bahwa kebanyakan hubungan asmara layaknya seperti hubungan antara seorang pecandu alkohol dan seorang penyedia alkohol. Satu pihak akan membutuhkan lebih banyak dosisnya seperti seorang pecandu alkohol, dan satu pihak yang tidak begitu membutuhkan dosis merupakan penyedia. Pihak yang tidak begitu banyak membutuhkan dosislah yang akan mengontrol hubungan itu.

Anda bisa melihat perbandingan ini dengan begitu jelas sebab biasanya dalam setiap hubungan pasti ada pihak yang sangat mencintai dan pihak yang tidak mencintai, yang hanya mengambil kesempatan dari pihak yang menyerahkan perasaannya. Anda bisa melihat bagaimana mereka memanipulasi satu sama lain, aksi dan reaksi mereka, dan mereka layaknya seperti penyedia dan pecandu alkohol.

Pecandu adalah pihak yang membutuhkan dosis yang sangat banyak. Hidupnya selalu ada di dalam ketakutan yang mungkin tidak akan mampu mendapatkan dosis berikutnya. Pecandu akan berpikir, ”Apa yang akan saya lakukan jika dia meninggalkanku?” Ketakutan itu membuat pecandu begitu sangat posesif. “Itu bagianku,” pecandu menjadi pencemburu dan penuntut sebab ketakutan akan kehilangan dosis cintanya.

Penyedia cinta dapat mengontrol dan memanipulasi pihak yang begitu butuh akan cinta atau alkohol dengan memberi agak banyak dosisnya, dosis yang sedikit, atau tidak memberikannya sama sekali. Pihak yang begitu sangat membutuhkan akhirnya begitu pasrah dan akan melakukan apa pun hanya untuk menghindari ditinggalkan.

Laki-laki ini menerangkan kepada setiap orang mengapa cinta itu tidak ada. “Apa yang manusia sebut bcinta itu bukanlah apa-apa. Ia hanyalah ketakutan di dalam hubungan berdasarkan kontrol. Di mana rasa saling menghormatinya? Di mana cinta yang mereka akui? Tidak ada cinta!”

Pasangan muda dihadapan para perwakilan Tuhan di bumi, di depan orang tua dan teman-teman mereka, membuat berbagai macam janji satu sama lain untuk hidup bersama selamanya, untuk saling mencintai dan saling menghormati satu sama lain, untuk selalu berada di sampingnya selamanya, melalui masa-masa baik dan buruk bersama. Mereka berjanji untuk saling mencintai dan saling menghargai satu sama lain, dan berjanji dan banyak berjanji. Apa yang mengejutkan? Mereka sangat percaya akan semua janji itu. Tetapi, apa yang terjadi setelah pernikahan? Satu minggu kemudian, satu bulan, beberapa bulan kemudian, Anda bisa menyaksikan tidak ada satu pun janji mereka yang ditepati.

“Apa yang Anda saksikan hanyalah perang kontrol semata. Yang terjadi hanyalah siapa yang akan memanipulasi dan siapa yang akan dimanipulasi. Siapa yang akan menjadi penyedia dan siapa yang akan kecanduan? Anda bisa melihat beberapa bulan kemudian, rasa saling menghormati yang mereka sumpahkan untuk satu sama lain mulai hilang begitu saja. Anda bisa melihat amarah, racun emosional, bagaimana mereka saling menyakiti satu sama lain, sedikit demi sedikit, dan itu semakin tumbuh dan tumbuh, sampai mereka tidak tahu sampai kapan cinta mereka akhirnya akan menghilang. Mereka tinggal bersama sebab mereka takut hidup sendirian. Takut akan pendapat dan penghakiman orang lain, dan juga takut akan penghukuman dan pendapat mereka sendiri. Tetapi di manakah cinta itu?”

Laki-laki itu selalu mengakui bahwa dia sering melihat pasangan tua yang hidup bersama 30 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan mereka begitu bangga bisa hidup bersama dalam hitungan tahun itu. Tetapi begitu mereka bercerita tentang masalah hubungan, apa yang mereka katakan, ”Kami hanya bertahan hidup hanya untuk mempertahankan ikatan pernikahan. Artinya, salah satu pihak menyerahkan dirinya kepada pihak lain. Dalam kondisi tententu, sang istri menyerah dan memutuskan untuk menanggung atau menahan penderitaan. Pihak yang berkeinginan kuat dan sedikit kebutuhan menang dalam perang kontrol itu. Tetapi di manakah gelora yang mereka katakan cinta? Mereka memperlakukan satu sama lain seperti sebuah benda; ‘Dia itu milikku’.”

Laki-laki itu terus dan terus mencari alasan mengapa dia percaya bahwa cinta itu tidak ada. Dia mengatakan kepada orang lain, “Saya sudah mengalami semuanya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun untuk memanipulasi pikiran saya dan mengontrol kehidupan saya atas nama cinta.” Argumennya sangatlah masuk akal. Dia meyakinkan orang-orang melalui kata-katanya. Cinta itu tidak ada.

pada suatu hari, laki-laki ini sedang berjalan di suatu taman. Di bangku taman ada seorang perempuan cantik yang sedang menangis. Ketika laki-laki itu menyaksikan perempuan itu menangis, dia menjadi penasaran.

Dia duduk di sampingnya. Laki-laki itu bertanya barangkali dia bisa membantu. Laki-laki itu bertanya mengapa perempuan itu menangis. Anda bisa menduga laki-laki itu merasa begitu terkejut ketika sang perempuan mengatakan bahwa cinta itu tidak ada.

laki-laki itu berkata, “Begitu sangat mengejutkan. Seorang perempuan yang percaya bahwa cinta itu tidak ada?” Tentu saja laki-laki ini ingin lebih banyak tahu tentang perempuan itu.

“Mengapa Anda berpendapat bahwa cinta itu tidak ada?”

“Baik, ceritanya sangat panjang. Saya menikah ketika saya masih muda. Dengan segala cinta, semuanya hanyalah ilusi semata, dengan segala harapan bahwa saya akan membagi hidup dengan laki-laki itu. Kami bersumpah satu sama lain dengan segala kesungguhan, rasa saling menghormati dan penghargaan, dan kami membangun keluarga. Tetapi semuanya berubah. Saya bercerai dan mengurus anak-anak dan rumah tangga. Dia terus melanjutkan karirnya, dan kesuksesan serta image di luar rumah lebih penting untuknya daripada keluarganya. Dia kehilangan rasa saling menghormatinya kepada saya, dan saya pun tidak menghormatinya. Kami saling melukai satu sama lain, dan pada saat tertentu baru saya mengerti saya tidak mencintainya dan dia juga tidak mencintai saya.”

“Tetapi anak-anak membutuhkan seorang ayah, dan itulah alasan mengapa dia tetap tinggal dan saya melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk memberikan support kepadanya. Sekarang, anak-anak sudah besar dan mereka sudah meninggalkan rumah. Saya tidak lagi mempunyai alasan untuk tetap tinggal bersamanya. Tidak adanya saling menghormati, tidak ada kebaikan. Saya tahu jika pun saya menemukan orang lain, semua akan terjadi hal yang sama, sebab cinta itu tidak ada. Sudah tidak ada rasa lagi untuk mencari-cari sesuatu yang tidak ada, itulah mengapa saya menangis.”

Sangat mengerti, laki-laki itu merangkulnya dan berkata, “Anda benar. Cinta itu tidak ada. Ketika kita mencari cinta, dan ketika kita membuka hati, kita menjadi rentan, hanya untuk menemukan keegoisan semata. Hanya akan  menyakitkan kita walaupun kita tidak berpikir cinta itu akan menyakitkan, namun tetap saja kita akan terluka. Tidak jadi masalah berapa besar hubungan yang kita punyai, hal yang sama akan berlaku lagi dan lagi. Mengapa kita harus mencari cinta lebih lama lagi?”

Mereka berdua sangat setuju dan mereka menjadi sahabat sejati. Hubungan yang sangat indah. Mereka saling menghormati satu sama lain, dan mereka tidak pernah merendahkan satu sama lain. Dalam setiap langkah kebersamaan mereka, mereka berbahagia. Tidak ada rasa cemburu dan iri, tidak ada rasa saling mengontrol, tidak ada posesif. Hubungan terus berkembang dan berkembang. Mereka bahagia dalam kebersamaan, sebab ketika mereka bersama, begitu banyak kebahagiaan. Ketika berpisah, mereka merindukan satu sama lain.

Suatu hari, ketika laki-laki itu ada di luar kota, dia punya ide yang aneh. Dia berpikir, “Hmm, mungkin apa yang saya rasakan kepada dia adalah cinta? Tetapi ini sangat berbeda dengan apa yang telah saya alami sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan apa yang puisi katakan. Berbeda dengan apa yang religius gambarkan, sebab saya tidak bertanggung jawab kepadanya. Saya tidak mengambil apa pun dari dia; saya tidak memilikii kebutuhan baginya untuk mengurus saya; saya tidak perlu menyalahkan dia atas segala kesulitan saya atau saya bersandiwara kepadanya. Kami mempunyai saat terbaik bersama. Saya menghormati apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan. Dia tidak mempermalukan saya; dia tidak mengganggu saya sama sekali. Saya tidak merasa cemburu ketika dia bersama yang lain. Saya tidak merasa iri ketika dia ada di dalam kesuksesan. Mungkin cinta ada, tetapi bukan seperti yang setiap orang pikir tentang cinta.”

laki-laki itu sudah tidak sabar ingin segera pulang dan bercerita kepada teman perempuannya itu, supaya dia tahu tentang ide anehnya. Segera ia bercerita, “Aku tahu sesungguhnya apa yang kamu bicarakan. Aku punya ide ini sudah lama, tetapi aku tidak mau berbagi denganmu sebab yang aku tahu kamu tidak percaya akan cinta. Mungkin cinta sudah ada, tetapi tidak seperti yang kita pikirkan sebelumnya.”

Mereka memutuskan menikah, dan ini sangat menakjubkan. Segalanya tidak berubah. Mereka masih saling menghormati satu sama lain, mereka masih tetap saling dukung, dan cinta semakin tumbuh dan tumbuh. Walaupun sesederhana apa pun yang terjadi, membuat hati mereka bernyanyi dengan cinta sebab mereka begitu bahagia.

Hati laki-laki itu penuh dengan segala cinta. Itu merupakan sebuah keajaiban terbesar. Dia mencari bintang dan dia menemukan yang terindah. Cintanya begitu besar sehingga bintang mulai turun dari langit dan segera bintang itu ada ditangannya. Dan keajaiban kedua terjadi, jiwanya bergabung bersama bintang itu. Dia merasa sangat berbahagia, dan dia sudah tidak sabar menemui pasangannya dan meletakkan bintang itu ditangannya untuk membuktikan cinta.

Segera dia meletakkan bintang itu ditangan pasangannya,. Perempuan itu pun merasa ragu. Cinta ini begitu luar biasa, dan pada saat itu juga, bintang itu terjatuh dari tangannya dan hancur berkeping-keping.

Sekarang ada seorang laki-laki tua berjalan ke seluruh dunia bersumpah bahwa cinta itu tidak ada. Dan ada seorang perempuan tua cantik di rumah menanti, menumpahkan air mata untuk surga yang pernah dia miliki di tangannya. Hanya karena keraguannya, dia membiarkan itu pergi. Itulah cerita tentang laki-laki yang tidak percaya akan cinta.

Siapa yang berbuat kesalahan? Apakah Anda ingin menebak apanya yang salah? Kesalahan ada pada pihak laki-laki yang berpikir dia bisa memberi perempuan itu kebahagiaannya. Bintang adalah kebahagiaannya, dan kesalahannya adalah menyimpan kebahagiaannya di tangan pasangannya.

Kebahagiaan tidak pernah datang dari luar diri kita. Laki-laki itu bahagia sebab cinta datang dari dirinya; perempuan itu bahagia sebab cinta datang dari dirinya. Tetapi ketika laki-laki itu membuat pasangannya bertanggung jawab terhadap kebahagiaan, perempuan itu memecahkan bintang tersebut krena dia tidak dapat mempertanggungjawabkan kebahagiaan laki-laki itu.

Tidak jadi masalah seberapa besar cinta perempuan itu kepada laki-laki tadi, dia itu tidak akan pernah bisa membuat laki-laki itu bahagia sebab dia tidak akan pernah tahu apa yang laki-laki itu inginkan didalam pikirannya. Dia tidak akan pernah tahu apa yang diharapkan laki-laki itu sebab dia itu tidak pernah tahu apa mimpi laki-laki itu.

Jika Anda mengambil kebahagiaan Anda dan meletakkan di tangan orang lain, lama-kelamaan dia akan menghancurkannya. Jika Anda memberikan kebahagiaan kepada orang lain, dia selalu bisa mengambilnya.

Don Miguel Ruiz

Ketika kebahagiaan hanya dapat keluar dari dalam dirimu dan hasilnya adalah cintamu, Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda. Kita tidak akan pernah bisa membuat seseorang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Tetapi kita saling bertukar cincin. Kita meletakkan bintang kita di tangan masing-masing, berharap bahwa dia akan membuat dirimu bahagia, dan Anda berusaha membuat pasangan Anda berbahagia. Tidak jadi masalah seberapa besar Anda mencintainya, Anda tidak akan pernah menjadi siapa pun seperti apa yang dia inginkan.

Itulah kesalahan terbesar yang kita buat dari awal. Meletakkan kebahagiaan kita pada pasangan, dan itu tidak akan pernah berlaku. Kita bersumpah yang tidak bisa kita pegang, dan kita mendesain diri kita untuk gagal. []

(Visited 29 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

One thought on “Laki-Laki yang Tidak Percaya Cinta”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.