Oleh: Syaifuddin Gani
“Angin reda, menahan senggukan
Memberi jalan bagi kesenyapan
Di rumah aku terkurung, meraba-raba layar maya
Potret kota menyembul
Disergap kelengangan”
Itulah salah satu bait puisi yang akan saya baca pada sebuah agenda kesenian dari Kota Lulo,Kendari.
Puisi, sebagaimana kesenian lainnya, menjadi salah satu jembatan untuk menyuarakan pesan yang dirajut melalui benang keindahan.
Beberapa sastrawan dan seniman dari Kota Lulo sudah menyatakan kesediaannya untuk berbagi karya di ajang Ulang Tahun ke-29 Teater Sendiri, sebuah komunitas kesenian di ibu kota Sulawesi Tenggara yang berdiri sejak tahun 1992, itu.
Sebagaimana informasi yang sudah beredar di berbagai kanal media sosial, Teater Sendiri yang didirikan oleh Achmad Zain tersebut akan mengadakan kegiatan ulang tahun ke-29. Perayaan itu, bukan sekadar tiup lilin dan potong kue tar, tetapi diaksentuasikan dalam bahasa kesenian.
Sebagai salah satu bagian Teater Sendiri, kami menyiapkan beragam persembahan kesenian seperti improvisasi teater, pembacaan puisi, pembacaan cerpen, pentas teater, musikalisasi puisi, gitar akustik, pertunjukan fotografi, dan diskusi seni yang ditampilkan oleh seniman-sastrawan Bumi Anoa.
Achmad Zain akan tampil bersama beberapa personel Teater Sendiri dalam sebuah nomor improvisasi teater. Dalam jagat teater, improvisasi menjadi sebuah latihan dasar untuk mengasah potensi keaktoran. Keberhasilan sebuah lakon, kadang lahir dari kekuatan improvisatoris para aktor.
Iwan Konawe akan membacakan puisi “Memintal Waktu”, sebuah puisi yang ia tulis di dan ditujukan untuk Teater Sendiri. Katanya “telah ia sepuh segala, suka serta duka/ cita serta cinta di gedung besar sana”. Ada kesan romantik yang terbuhul dari pertemuan huruf-hurufnya.
“Arloji” sebuah cerpen yang lebih pendek lagi, dibacakan oleh penulisnya, Al Galih. Kisah ini menarasikan seorang tua yang akan mati dan meminta ke anaknya untuk dikubur bersama arloji yang masih menyala. Pesannya, kata sastrawan Raudal Tanjung Banua; manusia fana, waktu abadi!
Empat perempuan Teater Sendiri; Endi, Neneng, Vivin, dan Kiki akan pentas teater. Di tengah isu kesempatan dan kesetaraan gender, penampilan ini menarik. Suara kesenian akan berkelindan dengan peran kesetaraan itu.
Adhy Rical akan mempersembahkan sebuah puisi bertema ibu, “Tentang Perempuan”, sebuah ihwal yang universal, tetapi juga personal yang lahir dari penghayatan unikum seorang penyair. Adhy berkata, “engkaulah sungai, mengembun dalam mataku”. Dnegan bahasa yang lembut, cinta kepada ibu menjadi terasa dalam.
Puisi kadang membukakan dirinya untuk ditafsir. Maka pintu puisi terbuka agar tafsir memasukinya, dalam wahana yang lain. Musikalisasi puisi adalah sebuah laku alihwahana yang lahir dari kerja kreatif untuk sebuah tafsir sang kreator. Puisi akan terlahir kembali sebagai kesenian yang lain, buah gagasan sang musisi. Untuk hal ini, Eros Lastra ikut menyuarakan pesan kemanusiaan melalui bahasa musikal.
Puisi akan disuarakan lebih banyak pada momen ulang tahun Teater Sendiri. Sebuah puisi “Lamentum” akan dibacakan penyairnya sendiri, Astika Elfakhri. Sebuah keluh-kesah eksistensial tentang cinta yang hakiki. Katanya, /segala ungkapan cinta lewat surel adalah dusta/ seakan segala yang elektronik bukan habitat cinta sejati/ aku sungguh perempuan imbesil, tak pantas dibela/ ataukah orang-orang memang keliru menerjemahkan cinta/. Cinta di mata Astika tidka melulu terkait sesuatu yang romantis, tetapi kemajnunan bahkan tragik.
Erviana Hasan berbagi pesan cinta, sebuah persoalan manusia yang tua. Cinta itu ia buhul dalam latar Kendari. Katanya, /Di atas jembatan teluk Kendari, aku merindukanmu/ Sebab mengenangmu adalah caraku menemukanmu/ Di dingin malam yang mendekap nyala api/ Di hangatnya balut kelambu mimpi/. Cintu itu sublim sekaligus misteri, bukan?
Puisi, lahir tidak dari kekosongan sosial. Ia memainkan perannya sebagai kritik. Puisi “Dasar” yang akan dibacakan sendiri penyairnya, Muamar Qadafi Muhajir, salah satu contohnya. Ia memaklumatkan sebagai, /Di tangan residivis kidal berlidah abnus/ Ia taksir seribu kacamata dan noktah kudeta/ Dimana jemari kidal itu basah dikecapnya/Terbaca geliang juntai lidah ular. Terasa ada suara tajam yang diproyeksikan melalui bahasa yang menghunjam.
Pesan keindahan dapat diorkestrasikan melalui musik tanpa lagu. Jika kata-kata adalah sebuah lambang, maka musik menjadi lambang yang lain. Getar keindahan dan sumblimasi kemanusiaan dapat menyentuh dengan cara menggetarkan melalui bunyi gitar dan perkusi. Permainan bunyi dari keduanya akan dipersembahkan oleh Saudade, sebuah grup musik yang diawaki oleh Astika Elfakhri, Abdillah Bachmid, dan Iryansyah Nasir. Mau terlibat dalam pengalaman musikal ini? Datang dong. Hehehe.
Dunia ini harus ditafsir dan dimasuki dengan banyak jalan. Bisa jalan serius, bida pula jalan “main-main”. Bukankah manusia adalah homu ludes, makhluk bermain? Putut Tedjo Saksono akan tampil berkisah dalam perspektif yang seloroh. Seloroh kata-kata.

Iwan Djibran seorang seniman Kendari, ikut menafsir ulang tahun Teater Sendiri dalam sebuah puisi “Sendiri”. Kita akan mendengarkan pemaknaan itu dalam perspektif puitik yang akan dibaca di depan pentonton. Puisi persembahan itu jamak dilakukan, tetapi sekaligus akan terasa spesial.
Salah satu ekspresi seni yang saat ini banyak digandrungi adalah fotografi. Foto banyak kita temukan, baik di media konvensional sampai di sarana digital. Sebuah momen social dan spiritual dapat diklik dan abadi dalam sebuah bingkai. Kita dapat lakukan tamasya visual dalam sebuah pameran fotografi. Tapi bagaimana jika foto dipadu dengan video, musik, dan suara? Wah, tentu akan menantang dan menarik disimak. Untuk soal ini, forografer Kendari Arif Relano Oba akan memberi sebuah tontonan tak biasa, pertunjukan fotografi.
Sahabat, besar harapan kami, pembaca yang bermukim di Kota Lulo dan sekitarnya, dapat hadir menikmati pertunjukan tersebut yang dilaksanakan Jumat, 25 Juni 2021 di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Tenggara. Lalu akan ada pula sesi berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam diskusi “Meneroka Kekaryaan Teater Sendiri” pada Jumat, 25 Juni 2021, pukul 19.30 di Galeri Masjidi.
Tema kegiatan Ulang Tahun ke-29 Teater Sendiri tersebut adalah “Berbuat adalah yang Terbaik” yang merupakan filosofi berkesenian Teater Sendiri yang berdiri sejak tahun 1992. “Berbuat” dalam konsep ini, sudah menjadi semacam sistem ide. Ideologis. Berbuat itu dimaknai sebagai karya!
Karena kegiatan ini dilaksanakan di masa pandemi akibat Covid-19, panitia menerapkan protokol kesehatan untuk kita ikuti bersama. Kami ingin memberi pesan bahwa para seniman masih dapat berkegiatan dan berkarya di dalam masa pagebluk ini, tetapi tetap mengedepankan keselamatan bersama dalam bingkai pesan kemanusiaan yang universal, dalam bahasa kesenian.
Kita hampir-hampir terkunci dalam kurungan dan ancaman pandemi. Akan tetapi, sebagai manusia yang dibekali akal dan imajinasi, terdapat beragam jalan untuk berbuat dan berkarya.
Pada ulang tahun ke-29 Teater Sendiri, perbuatan dan kekaryaan itu akan hadir untuk memaknai usia sebuah komunitas yang ikut berkontribusi bagi kotanya, Kota Lulo.Meminjam filosofi lulo, yakni tarian suku Tolaki yang bergerak melingkar, kami berharap ada lingkaran pesan keindahan, pesan kekaryaan, dan pesan kemanusiaan yang lebih bermakna. Semoga.
Kendari, 11—13 Juni 2021
Penulis adalah anggota Teater Sendiri, pengelola Pustaka Kabanti, bekerja sebagai peneliti Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara, dan Ketua Hiski Komisariat Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara.
