Sudah terhitung bulan saya tidak pernah lagi posting tulisan, tetapi sebagai salah satu anggota keluarga besar Bengkel Narasi, tentu setiap hari tak pernah lalai membuka dan membaca hampir semua tulisan inspiratif teman-teman di website BN sebagai rumah jiwa kami di angkasa.

Itulah keunikan Bengkel Narasi (BN), sebagian besar anggota komunitas belum pernah ketemu fisik, tapi kami seperti saudara yang begitu erat, begitu dekat. Seakan lahir dan bertumbuh bersama dalam ikatan batin yang kuat. Kami berasal dari lintas profesi, suku, dan agama, yang disatukan satu semangat yang sama untuk belajar menulis. Yang menarik dari BN dan membedakan dengan komunitas lain, sebagaimana kata pendirinya Bang RIM bahwa, “Menulislah sambil memeluk kemanusian, menulislah sambil berbagi”.

Bengkel Narasi rumah jiwa kami di angkasa telah menembus batas dinding wilayah, kota, negara, bahkan benua. Gagasan dan pemikiran anggotanya telah meliuk-liuk mengangkasa, menukik bebatuan, pegunungan dan lembah, berselancar melewati gulungan-gulungan ombak laut antar pulau.

Bengkel Narasi telah menyirami dan membangkitkan jiwa-jiwa kami yang selama ini mengering dan terkulai lemas. Menarik tangan-tangan kaku kami untuk selalu merangkai huruf demi huruf, kata demi kata, hingga pena kami menulis kalimat penuh makna, melukiskan suara hati, mengantarkan kabar keilmuan secara berkesinambungan membangun peradaban untuk anak cucu.

Bengkel Narasi rumah jiwa kami di angkasa mengelola manajemen satu rasa. Membangkitkan hidup untuk menghidupkan kehidupan bersama, agar tercipta kedamaian dan kesejahteraan bersama, juga mewujudkan keadilan secara bekeadilan yang menjadi cita-cita bersama.

Walau cita-cita ini tidak penah terungkap secara lisan tapi tergambar dari tulisan-tulisan yang diposting para anggota. Menyuarakan kemanusiaan, menggaungkan keadilan, menarasikan persamaan tanpa sekat sebagai suatu bangsa, mengutuk kekejaman dan kezaliman, mengubur kebencian dan dendam, serta saling mengingatkan jangan melupakan sejarah.

Di Bengkel Narasi rumah jiwa kami di angkasa, kami saling menyapa. Tidak pernah membiarkan sang fajar berlalu sebelum saling menyapa mengabarkan kabar, saling mendoakan dan menginspirasi dalam menjalani kehidupan. Adalah bunda Gusnawati selalu membuka pintu BN dengan salamnya, lalu menyapa dengan kalimat afirmasi pengantar energi positif bagi seluruh anggota BN. Menyusul kemudian yang lainnya secara berantai menjawab salam. Sungguh suasana yang luar biasa, membuat hati saya selalu merindu, rindu yang tidak terbendung.

Hampir di setiap hembusan angin menerpa wajahku selalu berbisik, “Ayo buda menulislah”. Keinginan itu selalu ada, namun kesibukan dan keadaan lainnya yang membuat penaku selalu sulit bergoyang. Tetapi untuk kali ini, rindu semakin menggelora, rindu tulisan-tulisan mengudara, rinduku tak terbendung lagi. Akhirnya kurangkailah kata-kata ini untuk melepas rinduku, tidak hanya dalam bentuk membalas salam tetapi telah menjadi narasi. Maafkan diriku bila tulisan ini tidak menarik dan tidak beraturan, tulissan ini hanya sebagai pelampiasan pelepas rinduku yang menggelora.

Salam rindu untuk sang inspirator handal BN Pak RIM, Mentor handal BN Pak Iyan, Pak SDM, Pak HTB, Pak Sumardi (bapak ASN handal kita), Pak Suharman Musa, Ibu Abby, Ibu Ghinda di Hongkong, Bunda Pipit Senja (Novelis senior negeri ini), dan lain-lain yang tidak sempat tulis namanya.

Khusus anggota BN di Kolut, ayooo makin semangat, dan terima kasih telah menjadi bagian keluarga kami yang selalu saling mensupport. Entah kapan lagi tulisanku bisa mengudara lagi, namun yang pasti jiwaku tidak pernah bergeser di rumah kita diangkasa Bengkel Narasi (BN). Semoga pandemi segera berlalu, agar kita bisa bertemu langsung saling menginspirasi.

(Visited 86 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.