Oleh : Gusnawati Lukman
Aku memulai hari dengan perasaan hati yang agak dongkol. Bagaimana tidak, muncul pemberitahuan bahwa Facebook, WhatsApp, dan Instagram lagi bermasalah,down, error. Hal yang pertama muncul dalam bayangan dan pikiran aku itu bagaimana caranya memberikan materi saat pembelajaran daring nanti. Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan anak didikku yang kebetulan hari ini semua belajar daring karena adanya pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum di sekolah yang diselenggarakan selama dua hari, dan hari ini adalah hari terakhir. Aku khawatir sekali. Aku benar-benar sangat tergantung dengan moda belajar daring terutama via WhatsApp. Untunglah down atau errornya ketiga moda media sosial itu tidak berlangsung lama. Aku langsung bergairah lagi.
Hari ini juga aku mendapatkan suatu hal yang sangat berharga. Salah seorang teman mengirimi aku gambar dirinya disertai kata-kata bijak yang membuat aku berpikir keras dan berusaha untuk mencerna maknanya.Sangat menarik untuk ditelisik lebih dalam. Keningku berkerut. Aku analisis kalimat demi kalimat.
Oh iya, kalimatnya seperti ini “ Berkarya dengan hati akan membuat hati jatuh cinta berkali kali “. (RIM)
Aku berusaha menyamakan persepsi dengan sahabatku yang selama ini selalu aku ajak ngobrol santai tentang berbagai hal. Dia mengatakan bahwa selama ini sudah banyak hal yang dia lakukan dengan hati dan sebagian lagi belum. Ok, kita jabarkan berkarya dengan hati itu dalam masalah hidup dan kehidupan. Mungkin terlalu luas cakupannya, namun kita juga bisa memaknainya bahwa apakah yang selama ini yang kita lakukan semuanya sudah dilakukan dengan ikhlas, dengan ketulusan hati, ataukah kita melakukannya hanya untuk mendapatkan puji-pujian dari sesama?
Ketika kita bersedekah, beramal ataupun menolong sesama, apakah hati kita ikhlas, tulus sehingga membuat kita selalu ingin melakukan itu terus menerus karena mencintainya. Dalam hal pekerjaan, apakah kita mencintai pekerjaan itu?
Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan untuk membimbing, menuntun dan mengarahkan anak-anakku. Aku memotivasi dan menginspirasi mereka untuk selalu melakukan yang terbaik. Selalu menjadi yang terbaik dan bermanfaat dalam kehidupan sosial mereka. Dengan sepenuh hati aku berusaha menggerakkan diri sendiri dan rekan-rekan sejawat untuk selalu menggali semua potensi yang dimiliki. Membuat karya yang dapat ditunjukkan ke masyarakat luas serta mengembangkan diri seluas-luasnya. Dan semua itu bukan untuk mendapatkan pujian, tapi adalah bukti kecintaan pada sebuah profesi.
Dan sebagai seorang yang mencintai dunia tulis menulis,aku selalu berprinsip bahwa berkarya itu dengan hati, yang di dalamnya melibatkan improvisasi, eksplorasi, eksperimen, pendalaman, penghargaan dan rasa cinta. Aku mencintai duniaku itu. Aku ingin memuaskan mereka dengan segala karya-karyaku. Walaupun tak bisa dipungkiri terkadang muncul juga rasa atau keinginan untuk dipuji dan disanjung orang atas karya-karya kita. Namun itu adalah suatu hal yang lumrah, logis saja kita miliki sebagai manusia biasa. Hanya saja jangan sampai terbersit dalam diri kita rasa sombong, tinggi hati atas semua prestasi, pujian dan pencapaian yang sudah kita dapatkan.
Sahabat, ladang untuk berkarya itu amatlah luas. Mari hidup dengan menjaga kebersihan hati, niscaya hidup ini akan menjadi indah dan penuh makna.
Ingat selalu bahwa ketika kita mencintai atau mengerjakan sesuatu dengan cinta, hidup akan menjadi indah. Dan ketika kita melakukannya dengan hati, maka kita akan jatuh cinta berkali-kali.
Watansoppeng, 5 Oktober 2021
