Oleh : Imam Abdullah El Rashied

Kubakar tumpukan dupa aksara, manakala rindu mendekap jiwa. Berharap bisa menghirup rasa, menikmati aroma cinta.

Namun, yang merebak justru kepulan asap nestapa, karena jumpa yang tertunda, dan jarak yang enggan dimanja. Pun, rindu yang mendera, sukar diajak berdamai dengan rasa.

Dupa berhenti menyala, menyisakan abu kecewa. Puing-puing kenangan lama menyeruak, mengisahkan awal pertemuan dan harapan yang mendepak. Jus stroberi dan sebuah pembicaraan dalam taksi. Dan, rindu yang tak lagi sebuah fiksi.

Peternak Rindu.
Mukalla, 6 Oktober 2021.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.