Oleh: Imam Abdullah El-Rashied
Bagian 8 dari 10
Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-
Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.
“Lho, koq masuk ke ruang keluarga?”, tanyaku penuh heran kepada Abdullah. “Yah yang ngajak dinner suami isteri, mau gimana lagi?”, dengan sigap Abdul menjawab. Di meja makan sudah ada orang paruh baya yang menunggu kami, mereka adalah pasutri. Setelah kami mengucapkan salam, kami dipersilahkan untuk duduk. Sebelum duduk Abdul mencium tangan kedua pasutri itu. Aku hanya mencium tangan yang laik-laki, sedangkan yang perempuan aku hanya menyalaminya dengan isyarat dari jauh sambil menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirku. Nampaknya aku pernah melihat kedua pasutri di hadapanku ini, tapi entah kapan dan di mana aku tak mengingatnya hingga akhirnya Abdul memperkenalkan mereka berdua kepadaku.
Abdul: “Bang, kenalin ini Abah sama Ummi”.
Aku: “Salam kenal Abah, Ummi, saya Imam temannya Abdul di asrama”.
Oh pantas saja aku seperti pernah melihat mereka. Sejak 5 tahun terakhir pertemananku dengan Abdul di FB, Abdul sering mengirimkan foto keluarganya saat travelling ke luar negeri atau sedang umroh. Abah sama Umminya memiliki usaha Travel Haji Umroh. Hanya saja baru 1,5 tahun ini aku benar-benar dekat dengan Abdul lantaran kami kuliah di tempat yang sama bahkan tinggal satu kamar di asrama. Sedangkan dahulu hanya sekedar chat saja karena posisinya di Bogor dan aku di Cirebon.
Sejak dahulu Abdul banyak cerita tentang keluarganya kepadaku. Dia dan keluarganya Al-Hamdulillah kesemuanya hafal Al-Qur’an. Mereka adalah orang betawi yang tinggal di perumahan elit di kawasan Cibinong – Bogor. Sejak kami tinggal satu kamar, kami semakin akrab. Bahkan Abdul sudah tak anggap sebagai adik sendiri malah.
Abah: “Jadi ini yang namanya Imam yang sering diceritain Abdul”.
Aku hanya menyunggingkan senyum di bibirku seraya menatap wajah Abah Abdul yang berwibawa dan penuh karisma.
Abah: “Salam kenal nak Imam, saya Fauzan dan ini istri saya Fauziyah”.
Ummi Abdul terlihat begitu ramah menatapku dari seberang meja, aku hanya menganggukkan kepalaku.
Ummi: “Nak Imam jauh lebih ganteng ya dari yang ada di foto…”
Dengan disambut sedikit tawa, suasana kekeluargaan makin akrab mengikat kami.
Perkenalan dan obrolan ringan berjalan lancar. Oh ternyata mereka baru saja pulang Umroh sekalian mampir ke Yaman. Mereka udah 2 hari di Yaman. Sejak 2 hari yang lalu, mamangnya Abdul yang kuliah S2 di Al-Ahgaff menemani mereka berkiling Tarim, Seiwun dan ‘Inat. Pantas saja saat kutanya ke Abdul kenapa mamangnya gak jemput kita dia jawab lagi ada urusan di luar kota. Oh, ternyata si mamang sedang menemani Abah dan Umminya Abdul, ok lah kalau begitu.
Obrolan ringan terus mengalir di antara kami, sedangkan Abdul malam ini tak seperti biasanya hanya menjadi pendengar setia dari awal hingga akhir. Aku sudah biasa bergaul dengan lawan biacara yang usianya jauh di atasku sejak mondok di Cirebon. Bahkan sebagian kenalan akrabku adalah pengusaha-pengusaha besar di Cirebon, baik pemilik rumah makan, show room mobil, peternak ayam dll.
Sebelum mengangkat tema pembicaraan yang agak lebih serius, Abah menanyakan mau mesen apa kepadaku. Aku hanya memilih Nasi Briyani, Fahm Dajaj [Ayam Bakar] dan Ashir Avocado [Jus Alpukat]. Abdul mesen Nasi Putih, Brust Dajaj [Fried Chiken] dan Ashir Musyakkal [Mixed Juice]. Sedangkan Abah dan Ummi Abdul hanya memesan Nasi Bukhari, Lahm Mandi [Daging Kambing Muda yang dioven], 2 Ashir Lim [Lemon Juice] dan satu Ashir Farawalah [Strawbery Juice].
Setelah selesai memesan, dengan memasang mimik sedikit serius Abah mengajukan beberapa pertanyaan padaku: “Nak Imam kapan wisuda?”
Aku: “Insya Allah setahun lagi Bah”, ucapku dengan mantap.
Abah: “Nanti kalo udah wisuda mau lanjut ke mana?”
Aku: “Kalo diizini insya Allah mau ngambil S2 di Maroko terus S3 di Turki Bah, mohon do’anya”.
Abah: “Kalo do’a Abah selalu siap Nak. Oh ya, gimana belajarnya selama ini?
Aku: “Hmm, Al-Hamdulillah belajarnya lancar-lancar aja Bah”.
Abah: “Oh ya, Abah dan Ummi pembaca setia artikel-artikel nak Imam lho, khususnya setahun terakhir ini. Tulisannya bagus dan berbobot, nampaknya nak Imam ini suka sejarah ya?”
Aku: “Soal suka sejarah, Al-Hamdulillah sejak SD Imam sangat menyukai pelajaran sejarah hingga saat ini. Bahkan Imam juga sempat minta dikirim beberapa buku sejarah dari Indonesia ke Yaman untuk mengisi waktu luang setelah suntuk bergulat dengan kitab-kitab, he”. Jawabku kepada Abah sambil menatapnya dengan senyuman.
Abah: “Kalo dilihat dari tulisan-tulisannya, kayaknya Nak Imam ini sudah menulis sejak SMP ya?”
Aku: “Eh… gimana yah Bah, Imam baru nulis sejak kuliah di Yaman, yah baru 3 tahun yang lalu saat awal-awal kami di Tarim Bah…”
Abah: “Oh… Ternyata masih baru ya… tak kira sudah lama jadi penulis…”
Aku hanya mengiyakan tanggapan Abah sambil menganggukkan kepalaku sedikit seraya berkata: “Yah Al-Hamdulillah Bah, semenjak ke Tarim kami bisa belajar menulis di tengah kondisi perang Yaman yang baru dimulai awal 2015 lalu. Yah sampai saat ini masih terus belajar dan belajar untuk memperbaiki tulisan. Imam termotivasi dari kata-kata Bang Haq salah seorang motivator dan pengusaha sukses Cirebon, beliau berpesan: “Mas Imam, teruslah tulis kebaikan hingga kebaikan itu menuliskanmu”. Sejak saat itu Imam berazam untuk terus menulis menyampaikan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan dan menjadikan sebagai jalan dakwah masa kini, yah semoga dicatat sebagai amal Sholeh oleh Allah swt, Aamiin”.
Semua yang ada di meja makan turut mengaminkan do’aku yang satu ini. Setelah itu Abah bertanya kepadaku tentang hal yang lebih serius lagi.
Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 9
