Meskipun musim bunga telah berlalu, namun pencinta bunga tidak pernah mengenal kata musim. Ia tetap cinta selalu dengan bunga, karena bunga penuh dengan energi keindahan.
Masih teringat awal pandemi covid-19 yang menjadi awal masuknya musim semi “bunga” yang melanda setiap kota sampai kampung.

Perbincangan tentang bunga marak di kalangan ibu-ibu. Mulai dengan jenisnya, cara mendapatkannya, memeliharannya, sampai pada tahap dengan harganya. Hampir di setiap kegiatan baik kegiatan kantor atau rumahan tidak pernah lepas kaitannya dengan bunga. Kebiasaan ngerumpi ibu-ibu seketika hilang berganti dengan aktivitas memelihara bunga sambil.berbagi tips memelihara bungan yang baik.

Hal itu tentu saja menyehatkan dan menyenangkan, bahkan kami para pencinta bunga hafal berbagai jenis nama bunga serta cara merawatnya dari proses penanaman hingga pemupukan. Para pencinta bunga rela merogoh koceknya dengan nilai yang fantastis demi mendapatkan daun incarannya.

Adalah bunga aglonema dengan berbagai spesies memiliki daunnya yang sangat menarik. Kata orang bunga ini bisa mendatangkan rezeki sehingga dijuluki “bunga sri rezeki”.

Bagi pencinta bunga beberapa nama bunga sangat familiar, diantanya
“bunga janda bolong” sampai bunga “lidah mertua”. Inilah beberapa contoh jenis bunga yang paling populer dan paling dicari kala itu.

Namun saat ini, musim bunga tak lagi bersemi. °Rumah-rumah tak seperti saat musim semi tiba, tak ada lagi euforia tentang bunga. Kini yang tersisa hanya pot putih dengan tanah yang kering dan gersang tak terurus.

Meski tak semuanya, namun intinya bunga sudah bukan lagi topik utama dalam diskusi ibu-ibu, begitu pun juga di media sosial sudah langka postingan tentang bunga. Namun demikian, bagiku tidak ada kata musim untuk suatu keindahan. Ketika bangun tidur aku tetap menyapa agloku, hatiku sangat bahagia ketika melihatnya tumbuh subur, kuncup mekar mengeluarkan tunas-tunas baru. Di situlah letak kebahagiaan tersendiri.

Mungkin itulah bedanya ketika kita mencintai tanaman dengan hati dengan yang hanya mencintai bunga karena musim. Melihat mentari pagi bersinar tajam, serta kupu-kupu bercengkerama dengan aneka bunga di taman, membuat hati dan jiwa ini sangat Bahagia.

Teringat dengan kata ibuku, menanam bunga itu merupakan suatu hiburan. Dalam hati saya berpikir, “masa tanaman bisa jadi hiburan”. Sekarang saya merasakan hal itu benar adanya. Rasa cinta yang tak pernah mati, mencintai dengan ketulusan dan merawat keabadian.

Terima kasih kepada “bungaku” yang selalu hadir menemaniku, memberi nuansa warna-warni bagi hidupku. Meski musim bunga tak bersemi lagi cintaku padamu takkan pernah usang ditelan waktu.
(RBW Simbula, awal desemember 2021)

(Visited 398 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

One thought on “Ketika Cinta Tak Bersemi Lagi”
  1. Aku sangat cinta bunga bu tapi hanya senang memandang warna warninya menyejukkan hati tapi aku belum mampu merawatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.