Oleh : Je Osland

Riang Jingga seperti berhari raya, menari india dengan isi samudera, lagunya melengking merdu ke antariksa. Sesekali membelai ombak, mengelus manja kerang asari yang dikubur pasir.

Waktu bermain telah usai, Jingga bersiap memoles samudera agar berparas elok. Disudut sana, disamping perahu lapuk yang tak bertuan, gerombolan hutan bakau berserak tak beraturan. Jingga mendekati, menyalami kawanan bakau yang tak terawat. Jingga menyisir rambut-rambutnya, menyeka benalu di sekujur badannya. Mereka kembali berjejer kokoh, kembali kuat menahan ombak agar tak melahap daratan.

Pohon kelapa yang mati tegang dihantam petir seperti mengiba kepada Jingga. Jingga mendekati, mendekap dengan kasih tubuh semampainya, mengelus punggungnya yang sudah berjamur. Seketika daunnya mekar, buahnya menyembul sembari memercik Jingga dengan air kelapa muda sebagai wujud terima kasih.

Jingga kini adalah Jingga dengan kesederhanaan, adalah Jingga dengan kebijaksanaan, adalah Jingga dengan kematangan. Belulang delapan keratnya bersiap menyulam nusantara raya.

Haluan telah menghantarnya dipuncak tertinggi Himalaya. Remang-remang dia menatap negeri diudik sana, negeri itu berkeluh kesah, negeri itu seperti melambai seakan berteriak “Jingga!!! Rawat kami dengan dengan nadi mu, bangunkan kami dengan dentuman prakarsa mu, arungi kami hingga arafura”

Dibawah gemerlap bulan empat belas, Jingga semangat berlari mengantar asa, asa yang selama ini dibungkus rapi didalam nampan hari ini bersiap ditabur ke negeri raya. Penghuninya bersorai sembari menabuh genderang kejayaan.

Singgasana tak pernah dihuni Jingga, bahkan mahkota dibakar terbuang, jasadnya tak pernah dibaringkan di keraton megah. Jingga lebih memilih duduk bersimpuh dengan aroma para jelata, aroma yang menyayat sanubari, aroma keluguan bocah kurus kering dengan lendir menyumbat hidung, aroma ketidakputusasaan bapak tua pengangkat beban, aroma ibu-ibu ringkih dengan pikulan dipundaknya.

Diseberang jelata, ada tengkulak mengheningkan diri dari tatapan Jingga. Engku demang yang bertolak pinggang menghardik mahajana, putih telapaknya memilih pergi. Penyamun tak lagi nampak meraib harta. Pelesit “Palasik Kuduang” Yang mematai ubun-ubun balita juga enyah entah kemana.

Jingga kembali mendekat jelata, mendekap dengan kehangatan cinta. Pori-pori Jingga berujar bangga “Terpujilah Jingga, Helaian kasih yang dituang saban hari, laksana benang raya yang menyulam pijar nusantara”.(TAMAT)

“JINGGA…
Didedikasikan bagi Belulang Delapan Kerat, yang bersimbah peluh merawat negeri ini…”

Bunguih Taluak Kabuang, 21/12/21

(Visited 194 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

5 thoughts on “KALA JINGGA MENYULAM RAYA (Bag. 3 – TAMAT)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.