Kerudung untuk Ibu
Seketika itu aku ingat kutipan yang dibagikan oleh Bang RIM melalui akun media sosialnya kemarin. "Penuhi kebutuhan orang tua. Biar Tuhan yang penuhi kebutuhan kita."
Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi.
Seketika itu aku ingat kutipan yang dibagikan oleh Bang RIM melalui akun media sosialnya kemarin. "Penuhi kebutuhan orang tua. Biar Tuhan yang penuhi kebutuhan kita."
"Yach, nggak ada yang warnanya merah maroon ya, Bu?" tanyaku pada ibu pemilik toko.
Di sisimu kutemukan damaiDi pelukanmu kurasakan kasih sayangCintamu tulus tanpa pamrihBuatku mampu bertahan hingga kini Terkadang ada luka yang kuberiTapi tak kau hiraukanTerkadang ada sakit yang membekasTapi dapat kau sembunyi…
Secara psikologis, hampir semua orang memiliki tokoh idola dalam menjalani hidup dan kehidupan. Bahkan selalu mengidentifikasikan dirinya dengan sang idola yang dikaguminya. Terlebih kalau tokoh kekagumannya itu mampu mengalirkan energi…
Entah setiap mendengar dan menulis kata IBU dan AYAH, pancaindraku selalu bergetar dan penaku terguncang.
Ibu tangguh hanya memberi dan tak mengharap kembali. Kasihnya tulus dari hati dan selamanya akan berarti.
Ayah yang mengajarkanku tentang arti hidup yang harus diperjuangkan. Mengajarkan arti kehidupan yang harus saling menghargai, menghormati, dan tolong menolong sesama. Sejak kecil kami diajarkan untuk mandiri dan tidak boleh…
Orang tua adalah pembuat dan pembawa amanah. Sebuah amanah bila disia-siakan, maka jangan berharap akan ada kebaikan padanya. Anak terkadang jadi musuh dan terkadang jadi teman yang menyenangkan. Percaya itu.
Kita terkadang tidak mengetahui begitu lelahnya, tidak peduli apa kesusahannya. Dia lelaki yang tidak pernah mengeluh, walau gelombang kebutuhan terkadang menghantam tidak pernah kasihan.