Oleh: Andi Risna

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski napasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Itulah sepenggal lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah” karya monumental Ebiet G. Ade yang selalu membuatku rindu ayah bunda.

Ayahku hanyalah seorang petani yang mengurus kebun dari pagi hingga sore. Tidak peduli hujan mengguyur tubuh dan teriknya matahari membakar kulit demi menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun ayah tidak berpendidikan tinggi, tetapi sangat mengerti pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. Menurutnya warisan terbaik yang tidak ternilai harganya untuk anak-anak adalah pendidikan.

Ayahku bukan sosok yang humoris, tetapi dia tahu kapan waktunya harus tegas, kapan harus bercanda ke anak-anaknya. Bagi kami anak-anaknya, tentu ayahku adalah ayah terbaik yang ada di dunia ini. Ia menghabiskan masa kuatnya banting tulang demi pendidikan anak-anaknya.

Ayah yang mengajarkanku tentang arti hidup yang harus diperjuangkan. Mengajarkan arti kehidupan yang harus saling menghargai, menghormati, dan tolong menolong sesama. Sejak kecil kami diajarkan untuk mandiri dan tidak boleh cengeng dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Setelah tamat sekolah dasar, ayah menyekolahkanku di salah satu sekolah terbaik di kota Makassar hingga ke tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari situlah aku mulai belajar hidup mandiri di kota dengan banyak suka dukanya jauh dari orang tua. Hidup berjarak dengan orang tua di saat memasuki usia remaja membuatku harus belajar berhemat.

Lulus SMA adalah saat yang kunanti-nantikan untuk melanjutkan pendidikan tinggi sesuai harapan ayah bundaku. Namun bersamaan kelulusanku, ayah jatuh sakit lumayan lama. Kondisi ini secara otomatis membuat tulang punggung keluarga menjadi teraendat.

Biaya perawatan ayahku yang tidak sedikit membuatku ikhlas memutuskan untuk sementara tidak melanjutkan cita-cataku kuliah. Sebagai anak sulung dari tujuh bersaudara, aku tidak sanggup rasanya berjauhan dengan ayah. Aku hanya ingin di sampingnya dan merawatnya. Alhamdulillah, perlahan bisa melihat ayah sembuh, dan ini adalah karunia terbesar yang kudapatkan dalam hidupku melihat ayahku bisa sembuh dan sehat lagi.

Meskipun ayahku seorang petani, tetapi sanggup menyekolahkan anak- anaknya hingga ke perguruan tinggi. Ya Allah ya Rabb, terima kasih Engkau telah memberi ayah terbaik yang telah mewariskan dua hal terpenting dalam hidup kami. Pertama, pendidikan tinggi sebagai modal menata hidup. Kedua, semangat dan kerja keras sebagai modal dalam menaklukkan gelombang kehidupan.

Alhamdulillah, kami sangat bersyukur sampai kini ayah dan bunda (pintu surgaku) masih di berikan kesehatan. Walau ayahku kini sudah mulai menuai, tetapi semangat perjuangannya untuk anak-anaknya tidak akan pernah pudar termakan waktu. Meskipun tidak lagi tinggal bersama, tetapi setiap saat aku bisa mengunjunginya. Rasanya selalu ingin melihat keduanya selalu tersenyum bahagia di sisa-sisa usianya. []

(Visited 441 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.