Oleh: Sumardi, S.E., Ak., M.Si., CA.*
Hari ini Kamis (29/4/2021) entah untuk yang ke berapa kalinya perjalanan dinasku ke luar kota mengelilingi bumi pertiwi. Sungguh sebuah kebahagiaan ketika diberikan kesempatan menjalin silaturahmi dengan sauadara-saudaraku tercinta sebangsa setanah air Indonesia. Rasa syukur tidak pernah berhenti kupanjatkan ke hadapan Allah Swt penguasa alam raya atas semua kemurahan-Nya.
Aku tidak lagi sanggup menghitungnya. Bagiku tidaklah terlalu penting mencatat atau sekadar menuliskannya. Bahkan mungkin saja aku sudah mulai mengidap penyakit lupa. Tugas melakukan pengawasan Tata Kelola Aparatur Sipil Negara mengharuskanku berkelana.
Pertemuanku dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Gorontalo Utara hari ini menjadi agenda yang terasa sangat penting untuk segera diselesaikan demi kondusifnya birokrasi. Satu demi satu masalah dianalisis, dipetakan, dan diklarifikasi demi sebuah solusi. Begitu juga dengan pihak sebelah yang berbeda pendapat, kucoba untuk melakukan langkah yang sama agar diperoleh potret masalah yang tidak saja utuh dan seimbang, namun juga dapat ditarik makna dari sebuah hakikat.
Pembicaraan terus berjalan dengan asyiknya. Tidak terasa sudah dua jam lebih. Adzan Zuhur pun memanggil merdu tanda kami harus segera berhenti untuk menunaikan kewajiban kepada Iliahi Robbi. Seiring dengan itu, sebuah gambaran langkah rekomendasi penyelesaian seakan lewat berkelebat menari di depan mataku.
Sholat Dzuhur sudah kutunaikan. Tugas kantor telah selesai kujalankan. Tibalah saatnya berpamitan kepada si empunya rumah. Namun, sebelum benar-benar kami pamitan, kami saling bertukar nomor ponsel untuk terus menjaga silaturahmi. Sontak aku teringat pesan mentorku, sang inspirator Pak Ruslan Ismail Mage (RIM) bahwa sudah saatnya memberikan “kartu nama” dalam bentuk “buku” kepada rekan yang kita kenal.
Tidak perlu berpikir panjang, tepat kiranya jenderalnya ASN di Kabupaten Gorontalo Utara ini kuberi kartu nama berupa buku karya pertamaku sebagai seorang birokrat dengan judul “Jabatan Pimpinan Tinggi”. Terasa aneh memang. Tetapi perasaanku berkata bahwa kartu nama berupa buku akan lebih dikenang, lebih bermakna, dan lebih mempunyai value dari sekadar kartu nama biasa.
“Luar biasa!” gumamku. Aku pun semakin terinspirasi oleh mentorku Pak RIM untuk menuntaskan naskah buku kedua. Tidak banyak yang diucapkan oleh Pak Sekda yang lugas ini. Dengan wajah gembira dan penuh rasa terima kasih beliau menyampaikan, “Pak Sumardi, saya akan saya baca buku ini sampai tuntas. Nampaknya buku ini istimewa, sulit mendapatkannya di toko buku.”
Kami pun lantas berpamitan menuju Kota Gorontalo. Dalam perjalanan, teringat kembali pesan pak RIM, “Birokrat biasa membagikan kartu nama, birokrat luar biasa membagikan buku.” []
*Asisten Komisioner KASN RI
