KENDARI, HARI PERTAMA ISOLASI

Ruko-ruko saling berpandangan
Jalan mengendus kecemasan
Sunyi sebatang kara di tikung jalan
Memeluk tiang listrik yang rindu klakson kendaraan
Bayangan corona melata di perempatan,
ekornya mengibaskan horor kematian
Jembatan Pasar Baru Kendari menanggung bebannya sendiri
Di bawahnya, Sungai Wanggu menggotong lagu kesedihan

Angin reda, menahan senggukan
Memberi jalan bagi kesenyapan
Di rumah aku terkurung, meraba-raba layar maya
Potret kota menyembul
Disergap kelengangan

Di media sosial, status-status berkabung,
layar-layar dipenuhi bahasa murung
Obat terakhir bagi dokter dan pasien bernama kematian
Tiba-tiba, Anak Krakatau kembali bangun dari tidur

Senja melepas pelukan petang
Nyanyian kecemasan terdengar samar dalam gulungan malam
Pertanyaan dan jawaban bersahutan dalam dentang patroli kota

Kendari, 10 April 2020

NARASI SESEMBAHAN

Manusia tergeragap di hadapan yang tiada
Betapa benda maha kecil merayapi semesta
Mengguncang peredaran manusia

Tatkala raga, aduhai benda, juga nyawa tersaruk-saruk
Oleh yang tak teraba indera, yang raib di pelupuk mata

Raja dan kawula mereka-reka takdir
Meramal muasal wabah yang menggiring kengerian mala
Rupa-rupa serapah bagi alamat petaka
Manusia atau margasatwa mula segala ratapan

Tangan-tangan tiba-tiba dileraikan dari genggaman
Sebab tiada yang tahu, kau atau aku yang dijalari pesan kematian
Rumah menjadi rute awal dan akhir
Bagi yang tercera-berai, yang rindukan pertemuan keluarga
Sambil menghitung ini ketetapan: bencana atau ujian

Bumi nyepi memberi jalan bagi kepergian nyawa
Ambulans mengantar sang tak berdaya ke rumah sakit
Membaringkan tubuh, dalam ritus pelayanan terakhir

Tiba-tiba manusia meraba-raba peta menuju Ilahi
Lalu sekejap bermurah hati pada sesama
Dalam ikhtiar dan dada tergetar, mata dikaluti pandangan samar
Dosa-dosa terdesak, rapal doa-doa sebagai penebus
Menuju hamba-hamba kudus

Hunian lumpuh, makhluk-makhluk reda dalam seteru
Ada yang mencari sesembahan, rubuh dalam sembahyang
O pintu langit, terbukalah, manusia berhimpun di padang penantian
Menunggu tangga keselamatan

Kendari, 10 Maret 2020

CATATAN:
1. Kedua puisi tersebut termuat pada buku puisi bersama Sesudah Zaman Tuhan, Sajak-Sajak dari Masa Covid-19, Editor: Anugrah Gio Pratama, Penerbit: Siger Publisher, Tahun 2020.

2. Kedua puisi tersebut juga dimuat di Blog Pustaka Kabanti 21 Mei 2020

(Visited 45 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Syaifuddin Gani

Syaifuddin Gani adalah penulis puisi, esai, dan penelitian sastra. Sejak tahun 1998 bergabung dengan Teater Sendiri, sebuah komunitas yang berkhidmat di dunia sastra dan teater. Tahun 2016 mendirikan dan mengelola Pustaka Kabanti, sebuah komunitas penulis. Ia juga mendirikan Penerbit Pustaka Kabanti dan mengelola Blog Pustaka Kabanti. Sejak 2006 menjadi pegawai Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara. Puisi-puisinya tersebar di berbagai buku, majalah, dan media digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.