Oleh : Hidaya Mushlihah
Kata “Afwan“ sebagai ucapan permohonan maafku yang keluar dari lisan ini kepada bunda superku, karena telah mengusik malamnya yang sudah diperaduan dengan deringan handphone aku di jam 21.00 WITA. Kebetulan aku habis mengantar suami konsul di dokter gigi dan lewat depan rumah Bunda Rosmawati.
Mumpung lewat jalur belakang SMAN 1 Lasusua, aku pun singgah. Namun, sayang sekali pagar rumah sudah tergembok menandakan tuan rumah waktunya rehat dan tak melayani tamu lagi. Daripada pulang tanpa hasil, aku nekad juga menghubunginya sambil berdiri di depan pagar.
Alhamdulillah panggilan handphone aku tersambung dan dijawab salamku dengan suara serak-serak. Aku memulai dengan bertanya, “Maaf Bunda, apa sudah tidur?” Beliau jawab dengan nada bercanda, “Belum tidur lagi terima telpon ini ha ha ha.“
“Aku sudah di depan rumah dan hendak mengambil baju komunitas Bengkel Narasi (BN) yang ditukar sizenya,” kataku.
Akhirnya Bunda Ros membuka pintu rumahnya dan keluar menuju pagar dengan dasteran sambil menenteng baju BN lengkap dengan hangernya.
Karena pintu pagar sudah tergembok dan ribet membukanya, akhirnya serah terima baju BN lewat jeruji pagar besi. Sambil tertawa dengan guyonan candaan di malam yang semakin larut dan aku pun pamit sambil tidak lupa mengucapkan “afwan“ dan ucapan terima kasih buat bunda superku.
Tanpa kusadari ternyata aku terciduk di lensa kamera handphone bunda yang memang hobi jepret-jepret setiap momen yang tak terduga. Aku kembali ke rumah bersama suami dengan hati senang penuh rasa bahagia, karena baju BN sudah ditangan dengan size yang aku iinginkan. Wah bajunya keren banget dengan desain logo yang memukau sarat makna, membuat semangat dan moodku hadir kembali.
Sepertinya baju ini bagai charge yang mendatangkan energi baru buatku. Setiap melihatnya seakan mendorongku untuk tidak berhenti menulis dan terus berlatih menyusun aksara-aksara menjadi kata dan rangkaian kalimat yang runtun menjadi paragraf demi paragraf, hingga narasi-narasi itu menari dan berdendang bersama penaku yang nyaris tumpul.
Cerita dibalik pagar ini takkan pernah kulupa. Bunda Rosmawati adalah bunda super yang tidak pernah bosan memberi semangat dan motivasiku untuk terus menulis. Begitu juga sang Inspirator andalanku Bapak Ruslan Ismail Mage tidak henti-hentinya menyemangati selalu bernarasi. Aku ucapkan terima kasih untuk semuanya. []
