Oleh: Fitriani Kadir
Suara langkah kaki selalu bergemuruh memulai awal kehidupan. Hanya saja, tidak jarang langkah yang menurut kita sudah baik malah bertolak belakang dari harapan. Berawal dari sebuah kesalahan yang terkadang membuat hati ini bertanya-tanya, kenapa dan mengapa? Kata mengapa selalu muncul menghantui alam pikiran. Mengapa harus aku yang melakukan kesalahan, mengapa bukan orang lain saja?
Sungguh sangat mengiris hati jika suatu kesalahan belum bisa diterima. Padahal, itu merupakan proses dalam menjalani suatu kehidupan. Bukankah orang bijak mengatakan, “Hanya orang yang berani salah yang akan menjadi pemenang”?
Awalnya hati dan pikiran selalu tenang dan siap siaga menyambut dan membangun masa depan cerah. Memimpikan kehidupan yang layak sebagaimana dialami oleh orang lain. Namun, hampir setiap kaki hendak melangkah, kesalahan masa lalu selalu muncul mengusik pikiran. Nyali pun mulai surut lagi. mimpi indah pun mulai kabur lagi. Kondisi ini tentu membuat hati dan jiwa perlahan rapuh lagi.
Begitu rapuhnya hati ini belum bisa keluar dari jebakan kesalahan masa lalu. Begitu lemahnya jiwa ini belum mampu melewati rintangan yang sesungguhnya telah ditakarkan oleh Sang Pencipta kalau ujian tidak akan melewati batas kemampuan hamba-Nya.
Namun harapan itu selalu melambai di depanku. Sambil hati kecil ini berbisik menguatkan batin, “Jangan biarkan kesalahan masa silammu menghentikan langkah masa depanmu. Hadapi dan buktikan bahwa kamu bisa dan bisa melewatinya. Anggap cemohan dan perkataan orang yang membencimu sebagai penyemangatmu untuk bisa hidup dan berkarya lebih baik lagi.”
Alhamdulillah, benih harapan itu mulai kembali tersemai di lahan jiwaku. Setelah Sabtu 25 Juli 2021 aku hadir pada kegiatan “Kelas Inspirasi” yang diadakan oleh salah seorang teman dengan menghadirkan Koordinator gerakan literasi “Kado Buku untuk Sahabat” sekaligus penggiat “Bengkel Narasi” Bunda Rosmawati, yang juga Kabid di Dinas Perpustakaan Kolaka Utara.
Mendengar kalimat-kalimat inspiratif dari Bunda Rosmawati, “Ayo, kalian harus muncul ke permukaan. Menulislah apa yang ada di pikiranmu, maka sesuatu yang membebanimu akan berkurang, bahkan hilang setelah engkau tuangkan ke dalam kertas.”
Sambil membuka sebuah buku berjudul “21 Hukum Kesuksesan Sejati” yang terletak di atas meja, hari ini jiwaku terasa tersuntik vaksin antivirus belenggu masa lalu. Rekanku Ibu Besse Risma merasa terharu melihat semangat hidupku kembali berlipat-lipat lebih besar dari kemarin.
Sepulang ke rumah, kuambil penaku dan kutarik secarik kertas putih kosong. Kududuk sambil mengayunkan penaku ke kiri, ke kanan, maju, dan mundur laksana goyang poco-poco merangkai kata batinku yang selama ini menggerogoti relung jiwa.
Kehidupanku yang selalu dibayangi oleh kesalahan kesalahan di masa lalu, kini seperti terlahir kembali. Terima kasih Bunda Rosmawati atas kalimat-kalimat inspiratifnya penggugah jiwa. Tulisan perdanaku ini terasa telah membuang ratusan ton beban dalam pikiranku. []

Selamat bergabung bu fitri, senang bisa buat senang
Tulisan yg luar biasa… Selamat bergabung bu guru.. Bunda fitri ditunggu tulisan2nya yaaa