Saat ini aku lebih takut pada sebuah pena,
daripada ratusan hulu ledak moncong meriam.
Tertusuk dengan kata sendiri oleh lantunan irama,
ketika pena menari dan secarik kertas ikhlas menjadi kanvas, ungkapan pun tercipta.
Lebih baik kusayat kertas dengan pena daripada robek hati dengan lidah.
Mengertilah, membencimu bagaikan tinta yang asing terhadap pena.
Ketika ingin menilai apa daya penaku habis tintanya

Iyya siap
Biarlah aku menjadi penah