BAGIAN PERTAMA. Malam belum lagi larut, mentari baru saja masuk peraduan, namun kesunyian sudah membekap Lalebbata. Ketegangan merajai suasana. Senyap tercipta bukan karena kurangnya manusia, justru sebaliknya, pusat kerajaan yang terletak di sebelah timur semenanjung selatan pulau Sulawesi itu dihuni begitu banyak orang yang bersiaga. Seluruh penghuni kompleks pusat kerajaan Salampé menahan suara, bahkan desah nafas pun dibuat sehalus mungkin.

     Di ruang utama Saoraja, Arung Salampé, Puatta La Tenribali duduk bersila dengan muka membesi, sebilah badik tergeletak melintang tepat di depannya. Di sekelilingnya duduk melingkar para pejabat kerajaan dengan tangan kiri menggengam warangka badik yang masih berisi. Mereka berjaga bersiap menyambut sesuatu yang asing, malam ini. Malam kala purnama mereguk kesempurnaannya, dan binar cahayanya menerangi mayapada.

     Dua hari yang lewat, kala mentari masih malu menampakkan diri, warga Lalebbata dihebohkan oleh peristiwa terbunuhnya kuda Puatta La Tenribali. Kuda putihnya yang dia gelari La Kapasaq tergeletak mati dalam istal di belakang Saoraja, lehernya hampir terpisah dari badan. Pasukan pengawal yang berjaga di sekeliling Saoraja sepanjang malam, tak tahu menahu apa yang terjadi, sepertinya mereka terkena ilmu sirep.

     Namun yang paling membuat gempar, di sisi badan La Kapasaq sebelah kanan, sisi yang menghadap ke atas, tertulis pesan dengan tinta darah.

MALAM PURNAMA BULAN INI / SAATNYA MENGIMPASKAN UTANG / DARI 4 TAHUN LALU //

     Di bawahnya terlihat simbol kupu-kupu berwarna hijau. Siapa gerangan yang berani menagih janji pada Arung Salampé? Utang apa pula itu? Semua hanya mengumbar prasangka, tanpa ada yang tahu kebenarannya.

     Akan halnya dengan Arung Salampé, sejak peristiwa tersebut, Arung yang baru memasuki usia dua puluh tujuh tahun itu lebih banyak mengurung diri di ruang khususnya, biliknya bila ingin menyendiri. Istrinya, Wé Toddang Toja pun tak dihiraukan. Hanya panglima perangnya, seorang pemuda tangguh berusia jelang tiga puluhan yang bergelar Petta Ponggawaé, yang boleh menemuinya. 

     “Bersiaplah Pasau, kita akan menghadapi lawan yang tangguh.” Bisik Arung Salampé lirih.

     “Iya, Puang. Saya sudah perintahkan pasukan untuk memperketat penjagaan.”

     “Bagus.” Arung Salampé menepuk pundak bawahannya. 

     “Mohon maaf, Puang. Kalau boleh saya bertanya, siapakah gerangan yang menjadi lawan kita?” Seru La Pasau tertahan.

     “Mmmmm…” Arung Salampé menghela nafas panjang sebelum melanjutkan, “Entahlah, Pasau. Tapi sepertinya dia bukan orang yang asing bagiku.” 

     Ingatan La Tenribali menerawang jauh, mencoba menerka siapa gerangan pemilik simbol kupu-kupu berwarna hijau itu.

*     *     *

     “Anakku Tenribali, tadi pagi orang suruhan petta-mu tiba dari Pattiro. Sepertinya kau harus pulang, sudah saatnya kau membantunya menjalankan akkarungeng.” Ujar seorang lelaki tua dengan janggut yang menjuntai hingga ke dada.

     “Iya Kajao, sepertinya demikian. Tapi sungguh berat rasa di hati bila harus meninggalkan tempat ini. Pompanua sudah seperti kampungku sendiri.” Timpal La Tenribali pada lelaki yang disapanya Kajao.

     “Saya mengerti perasaanmu, Nak. Namun amanah yang melekat padamu sebagai anak pattola, tidak bisa kau abaikan.”

     “Pemimpin itu adalah pangulu, Nak. Seperti gagang badik, pemimpin harus menjadi tempat berpegang bagi rakyat agar tak goyah, pemberi arah biar tak sesat, dan tempat bersandar di kala oleng.” Terangnya.

     “Iya, Kajao.”

     “Nak, ingatlah, badik yang selalu tersampir di pinggang kita, bukanlah alasan untuk menjadi sombong dan mencari-cari musuh. Badik itu pemberi ketenangan dan menawar kegundahan. Pun demikian dengan pemimpin. Camkan itu.”

     Panjang lebar Kajao Walanaé memaparkan filosofi kepemimpinan pada muridnya, La Tenribali.

     “Apakah kita tak boleh menghunus badik untuk membela diri, Kajao?” Tanya La Tenribali.

     “Boleh, tapi yang kau boleh bela bukan dirimu pribadi, tapi dirimu yang kehadirannya menjadi harapan rakyatmu. Bukan untuk membela kekuasaanmu, tapi untuk menghalau kezaliman dan menegakkan keadilan di negerimu.” Terang Kajao Walanaé.

     “Terima kasih, Kajao.”

     “Iya, sekarang istilahatlah, ini sore terakhirmu di sini. Aku sudah menyiapkan keberangkatmu besok pagi.” 

     Maka demikianlah, saat mentari mulai mendekati peraduan, sepasang manusia dengan gejolak jiwa muda yang membadai, duduk di atas dermaga kayu mungil di tepi sungai Walanaé, di hadapan mereka tertambat sebuah sampan bercadik dan kain layar imut. Perahu bergerak statis naik turun mengikut gelombang air sungai yang dibelai angin semilir. Pantulan cahaya mentari di riak air seperti kilauan berlian. Sore yang terlalu indah untuk hanya dilewatkan dalam bisu.

     Diam cukup lama membekap mereka, lelaki muda berambut sebahu mengenakan baju warna hijau muda dari kain satin, celana hitam sebatas lutut menjadi bawahannya. Si gadis, memakai baju berwarna senada, rambutnya disanggul mungil, ditahan dengan tusuk konde dari gading bersepuh biru langit. Keduanya menatap ke seberang sungai, jauh ke ujung terjauh pandang yang dipenuhi jejeran pohon kelapa.

     “Daéng jadi ke selatan, besok?” Tanya perempuan itu lirih.

     “Iya, aku tak mungkin menolak panggilan Petta-ku.” Jawab pemuda itu yang tak lain adalah La Tenribali. Perempuan di sampingnya adalah Cora Walié, adik seperguruan sekaligus putri tunggal Kajao Walanaé, gurunya sendiri. 

     “Jadi….” Seru Cora Walié tertahan.

     “Jadi apa maksudmu, adikku?”

     “Ah… Tidak… Lupakanlah… Sepertinya tak ada hal yang perlu Daeng kenang selama di sini.” Cora Walié menekuk kepalanya.

     Hening kembali meraja, hanya desah nafas Cowa Walié yang terdengar memburu.

     “Kau menangis, adikku?” Seru La Tenribali memegang bahu Cora Walié lalu mencoba menegakkannya. Saat mukanya terangkat, terlihat ulir air bening bergulir di kedua belah pipinya. Perlahan isaknya mulai terdengar, lirih.

     “Pergilah Daéng…”

     “Tentu adikku, aku tak mungkin menolak panggilan Petta-ku. Tapi….” La Tenribali jeda sejenak, lalu melanjutkan.

     “Tapi aku ingin kau ikut bersamaku.”

     “Itu yang saya khawatirkan, Daéng. Tak mungkin aku meninggalkan Kajao sendiri di sini.”

     “Kalau begitu, aku juga akan membawanya.”

     “Itu lebih tak mungkin, Daéng. Kajao tak akan rela meninggal sao mappabbati, padepokan tempatnya mengajar.”

     “Hmmm…” La Tenribali mendesah…

     “Daéng jangan jadikan saya dan Kajao menjadi penghambat kepulangan ke Salampé.”

     “Lalu bagaimana dengan hubungan kita, apa harus berakhir begitu saja?”

     “Kalau kita berjodoh, tentu Déwata akan mempertemukan kita lagi, Daéng. Pulanglah…”

     “Apa tak ada cara lain?”

     “Jangan memikirkan hal yang tak bisa kita kendalikan, Daéng. Hanya akan menambah derita hati.”

     “Baiklah, kalau begitu aku akan pergi, tapi pegang janjiku, aku akan menjemputmu nanti.”

     “Jangan berjanji, Daéng.”

     “Tidak! Aku serius, dalam dua tahun aku akan menjemputmu, tunggulah!”

     Perlahan mentari hilang di balik ufuk, Cora Walié dan La Tenribali beranjak menjauh dari dermaga mungil di bantaran sungai Walanaé. Tak mereka sadari, sepasang mata Kajao Walanaé, menatap mereka dengan pandangan sayu. Di sudut matanya, terlihat bulir air bening yang berusaha dibendung. Kajao Walanaé seakan menahan rusuh yang bergolak di dadanya sekaitan masa depan hubungan murid kesayangan dan puterinya.

     “Mamuaré Déq Watang Séuwwaé Tiroangngi Décéng. Semoga Tuhan memberi petunjuk terbaik.” Gumamnya.

Bersambung ke BAGIAN KEDUA

(Visited 197 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

One thought on “La Maraupeq: Elegi di Tepi Walanaé”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.