Setelah kepergian putra pertamaku Agung, aku ikut suamiku ngontrak tidak jauh dari Lippo Karawaci Tangerang dengan alasan irit ongkos. Pendapatan pas-pasan, sementara kontrakan harus tetap bayar. Atas kebaikan enyak aku boleh mengisi salah satu kamar di Perumnas 1 Tangerang.
“Luh isi aje Fah, barangkali luh tinggal di situ rezekinya lancar.” Saran enyak mungkin mendengar keadaan ekonomiku. Aku mulai bersihin kamar itu suapaya nyaman di tempati karena bekas yang ngontrak.
Nampaknya suamiku kurang suka, tapi apa daya daripada aku harus bayar kontrakan tiap bulan.Di situ aku sambil kerja juga di Cv enyak, Qc (Quality Control) tugasku merapikan dan memperbaiki Sweater yang rusak.
Nampaknya harapan untuk mempunyai anak segera terwujud aku positif hamil, tetapi…..tetap keluar flek. Aku berobat ke rumah sakit Sari Asih, tempat iparku bekerja. Aku ditangani dokter spesialis kandungan, lalu di beri obat, “OBIMIN”.
“Ini bu obatnya, harganya tujuh setengah.” Langsung aku sodorkan uang kertas 10ribuan, petugas apotik langsung menatapku seraya berkata.”Tujuh puluh lima ribu rupiah,” haha malunya langsung aku sodorkan uang 100 ribu, cuma itu yang aku punya.
Aktivitas sehari-hari selesai masak aku pergi bekerja, pulang sore menjelang malam. Aku lakukan setiap hari walau dalam keadaan hamil. Suamiku keseringan nganggur, otomatis aku harus menanggung beban ini sendirian.
Mungkin karena banyak bergerak, dibawa bekerja, tidak terasa sudah hamil tua. Tanggal 26-04-1997 tepat di hari sabtu biasanya kami gajian, dari daerah Jati Tangerang, aku langsung dibawa jalan-jalan ke Lippo Karawaci, kami di sana sampai jam 23.00.
Di saat aku mau wudlu untuk shalat subuh. Tiba-tiba perutku mules, dilihat Cd-ku ada bercak darah, aku gak jadi wudlu, langsung masuk kamar lagi sambil mengambil buntelan yang sudah aku persiapkan.
“Mungkin aku mau melahirkan sekarang,” kataku pada suami dan adikku, Koyah. Langsung kami bergegas ke rumah bidan yang letaknya tidak terlalu jauh.
Sebelum membuka pintu keluar kami berpapasan dengan mertua yang sengaja mau menengok cucunya yang diperkirakan lahir akhir bulan.
Aku berusaha untuk jalan-jalan di depan rumah bidan, untuk menahan rasa sakit. Semakin lama perutku kesakitan, mules persis kayak orang mau buang hajat. Perawatnya rada sedikit judes dan bengis. Rasa sakit aku tahan-tahan karena gak boleh mengeluarkan suara,.
“Oeee , oeee tepat jam 07.45 Putri keduaku lahir, ku beri nama Nur Apriliani Fadilla Prihatini . Sempurna sudah rasanya aku sebagai perempuan bisa mengandung dan melahirkan.
Tidak ada selamatan kelahiran bayi seperti orang-orang di sekitar kami umumnya. Boro-boro untuk merayakan kelahiran putriku, untuk makanpun kami kesulitan.
Putri kecilku lahir, total suamiku gak kerja. Aku bingung seolah-olah tak berdaya.Tok tok tok…Ada yang mengetuk pintu saat aku lagi tiduran dengan bayiku, Dilla. Di sampingku ada suamiku.
“Jo, siorok ibu bawa aje ya ke Perum 3 ngeri gue mah gak bisa makan, “kata enyak seraya membuka pintu. Aku hanya diam terpaku.”
“Iya bu, gak apa-apa,” jawab suamiku datar. Setelah kepergian enyak dari kamar kami, aku didamprat suamiku.
“Kalau kamu mau pergi, pergi aje sono”. Bla bla bla, entah apa lagi umpatan , segala kesalahan ditujukan kepadaku semua. Terkadang aku menganggap dia orang gila, jika memarahi aku bisa berjam-jam. Tapi setelah itu dia minta maaf.
Dia tidak pernah memukulku saat marah, tetapi membanting barang-barang yang ada di hadapannya itu biasa. Lempar batu sembunyi tangan mungkin itu yang terbiasa dia lakukan sama aku, seharusnya dia yang lebih bertanggung jawab dalam mencari nafkah.
Untuk sekedar menyambung hidup, adikku membawa pekerjaan ke rumah enyak yang aku tempati. Sambil disambi masak, menyusui aku bekerja. Jika sudah selesai aku mendapatkan upah, Alhamdulillah bisa untuk sekedar membeli beras.
Sebenarnya aku malu, minder dengan keluargaku, tetangga sekitar punya suami pengangguran. Ya kerja sebagai supir itupun kalau ada angkotnya (mobil orang).
Satu hal sifat suamiku terkenal dengan pemalas. Pernah suatu hari di saat mau lebaran, aku menunggu dia bisa mencarikan aku ongkos untuk mudik, hanya janji dan janji.
Tiba waktunya pulang, ongkos belum ada. Dia malah ngamuk-ngamuk bahkan tidak puasa setelah subuh dia makan, aku jengkel langsung aku balik bersama putriku Dilla dengan ongkos seadanya.
Alasan krisis moneter aku memilih pulang ke rumah ummiku di Bogor. Lama-lama hidup menumpang di orang tuaku gak betah. Tanpa sepengetahuan dia aku ke rumah mertuaku di Pangandaran.
Dengan harapan ada solusi aku punya rumah sendiri. Dia pun menyusul kami, tidak jelas pekerjaan dia apa dia bolak balik Bogor-Pangandaran.
Kesibukanku di rumah mertua mencuci, memasak dan bersih-bersih rumah aku lakukan sendiri. Mertuaku bagian ngasuh putriku, saat dia di rumah. Lama-lama aku putus asa, ke sini aku berharap ada solusi punya rumah sendiri. 9 Bulan lamanya di rumah mertua, tidak ada tanda-tanda aku punya rumah. Aku harus cari cara supaya aku punya rumah.

A, idzinkan aku bekerja ke Brunei, aku mau ikut calo yang suka membawa TKW ke tempat sponsor,” aku utarakan saat dia rebahan di sampingku.”
“Ya gak apa-apa,” sahutnya. Biasanya berkali-kali aku minta idzin dia gak selalu keberatan.Hari pertama puasa aku berangkat ke rumah sponsor di Purwokerto. Saat aku tinggalkan dia masih tertidur lelap, “Cantik”, itu panggilan kesayangan untuk putri semata wayangku.
“Maafkan mamah nak, sakit hati ini harus meninggalkanmu, berat hati ini harus menyapihmu yang masih membutuhkan Asi.” Tak sanggup rasanya aku harus pergi jauh dalam waktu yang lama.
Tetapi aku sudah bulat dengan keputusanku. Masih teringat saat aku meninggalkan Dilla di waktu subuh masih terlelap.
Bermodalkan gelang yang aku jual, lalu dipakai menebus gelang mertua dan menjualnya, aku berangkat ke Purwokerto. Yang rencananya aku ke Brunei ternyata melesat, karena ke Brunei harus pakai duit, mau tidak mau aku berangkat ke Singapura, 6 Bulan kemudian suamiku merantau ke Malaysia.
Tidak fokus dengan tujuan awal, tidak bisa menej keuangan, akhirnya aku di Singapura 5 tahun, dan rumah yang aku inginkan sudah ada walau tetap masih cicilan.
Alhamdulillah aku bisa berkumpul dengan putriku, dia pindah sekolah yang dekat dengan perumahan kami. Putriku sudah fasih ngaji, kegiatanku mengajar ngaji anak-anak di sekitar rumah, dibantu Dilla.
Dari kecil jiwa sosial Dilla sudah nampak. Lengkap sudah kebahagiaanku 6 bulan kemudian suamiku pulang dari Malaysia. Hidup tak selamanya mulus, walau keinginannya aku turuti dia pingin punya rumah di Perum, tetap saja kalau malas tidak bisa hidup di sana. akhirnya aku hengkang lagi ke Hongkong.
“Pletaaak ” tiba-tba aku memukul kepala Dilla, itulah pertama dan terakhir aku memukul putriku. Menyesal itu sudah pasti. Dilla meminta uang jajan, dia pingin seperti teman-temannya membeli sesuatu di pasar kaget yang ada di sekitar perumahan kami.
Jengkel, menyesal sudah memukul putriku, akhirnya aku hanya bisa menangis. Putriku Dilla lagi-lagi aku titipkan ke mertua, sementara Ghina aku titipkan ke keluargaku di Bogor.
Lulus SD putriku masuk MTsN Pangandaran dilanjut ke pondok pesantren Umul Quro Bogor.
“Cantik, kalau berani jatuh hati, harus siap untuk patah hati.” Begitu kira-kira ultimatum yang aku katakan sama putriku dia sudah mulai beranjak baligh.
Dia anak yang cantik, cerdas, nilai-nilainya tak mengecewakan. Prinsipku dia harus punya pendidikan agama, itu penting bagiku dalam mendidik anak-anakku.
Tidak salah aku memasukkan putriku ke Pondok ini. Tidak takut putriku salah gaul atau pacaran, karena santriawan dan santriwati dipisah, jika ada yang melanggar sangsinya dikeluarkan dari Pondok.
4 tahun berlalu, kini putriku masuk Perguruan tinggi La Roiba, sempat oleng sering minta berhenti kuliah, tetapi tidak aku turutin.
“Mah aku pingin kuliah sambil kerja.”
“Mah aku pingin kuliah sambil ngabdi di Pondok.”
“Mah aku pingin berhenti kuliah, aku gak mau jadi beban mamah terus.” Semua rengekan dia aku abaikan, dia faham jika aku dah tutup telepon tanpa kalimat penutup, seandainya aku tidak sreg dengan semua yang dia sampaikan.
“Cantik, jika sudah ada laki-laki yang Lha suka, mamah dukung untuk menikah muda, apakah sudah ada tambatan hati?”. Tanyaku pada suatu hari, ya kami berdua komitmen untuk tidak pacaran.
“Mamah cariin aje calonnya”, dengan entengnya dia menjawab pertanyaanku. Sungguh tugas yang paling berat, lebih berat dari mencari nafkah untuk kedua putriku , yaitu mencari calon menantu.
Tidak neko-neko kriteria yang calon mantu yang aku inginkan yaitu “taat ibadah, fasih ngaji, mau bekerja dan mau tinggal bersamaku.”
Aku hubungi guru- guruku, teman-temanku, untuk mencari info calon menantu, hingga aku mencari di group ta’aruf online. Semua nihil.”
“Mah ada seorang laki-laki yang siap menerima Lha dan keluraga kita apa adanya,” begitulah kira-kira pesan yang masuk di WhatsAppku.
Setelah panjang kali lebar kali tinggi aku cari informasi tentang laki-laki yang di maksud, dukungan penuh dari keluargaku, tidak ada kata untuk menolak aku merestuinya.
“Pak, Lha mau menikah, mohon restu dan menjadi wali nikah.” Itu permintaan putriku melalui via telepon, bukan tidak beradab minta restu lewat hp tetapi pandemi yang tak kunjung reda.
“Bapak tidak punya duit,” itu yang terlontar dari bapak kandungnya sendiri. Ya Allah itu jawaban seorang bapak, padahal putriku tidak meminta duit.
“Mbak, abaikan semua perkataan bapakmu, haqul yakin mamah mampu untuk membiayai Lha menikah,” aku memberinya semangat.
Dia pergi ke tukang rias sendiri, mencari souvenir sendiri, mengurus dan menyiapkan surat-surat untuk persiapan ke KUA sendiri.
Alhamdulillah, walau dalam keadaan duka, ummiku sakit keras beberapa bulan, 2 hari menjelang kepulanganku dia meninggal dunia. Otomatis keluragapun sibuk dengan prosesi acara kepergian almarhumah.
Malam rabu baru beres 7 harinya, disambung malam Jum’at acara tahlilan ummiku, baru hari Jum’at keluarga bisa fokus ke persiapan pernikahan putriku. Alhamdulillah persiapan dua hari acara berjalan dengan lancar walau banyak schedule yang tidak sesuai.
Tibalah hari yang di nanti 29 November 2020. Lumayan membuat deg-degan karena bapaknya sebagai wali termasuk lambat datang. Seharusnya sejam sebelum mulai harus berada di tempat.
Alternatif jika dia tidak datang kita pakai wali hakim, itulah pesan dari guru Liqaku yang kebetulan menginap di rumahku. Walau mepet Alhamdulillah, akhirnya dia datang juga, proses akad nikah berjalan dengan lancar.
“Fah baju-baju emak mau di titip bapaknya Dilla, biar emak gak keberatan,” itu yang mertuaku katakan semalam.
“Gak apa-apa Mak, aku fikir emak mau tinggal di sini, sampai Dilla bisa belajar bebenah dan masak,” sahutku, tetapi aku gak bisa memaksanya.
Apa yang terjadi sodara? Dia pulang saat masih ada besan tanpa bilang sama mertuaku. Mertuaku menangis, putriku juga menangis, bahkan di sini aku menjadi tertuduh putriku dan keluargaku, mereka mengira mertuaku menangis karena aku yang marahin.
Duh gustiiiiii, cobaan apa ini? Di saat banyak tamu, mereka menangis. Untuk menghibur mertuaku, Ponakanku yang seharusnya jadi MC dan penanggung jawab megang keuangan hari itu, mengantarkan tas berisi baju mertuaku.
Beberapa hari setelahnya, baru kami ketahui, istri barunya datang ke Bogor, cuma nginep di hotel, hebohlah di kampungnya, bahwa dia sangat baik mau datang ke pernikahan putriku. Dari kejadian ini aku ambil kesimpulan, kedua putriku tidak mungkin mendapatkan kasih sayang dari bapaknya.
Di hari yang sakralpun dia tidak mau berada dengan anaknya, apalagi harus menafkahinya. Tetapi aku tetap menyemangati putriku untuk tetap hormat kepada bapak dan ibu sambungnya.
Doaku Semesta merespon, cita-cita putriku dapat ijazah plus ijab sah Engkau qabul. Kini saatnya aku menantikan lahirnya cucuku.
Doa manah yang terbaik untukmu sayang, sakinah mawadah warahmah sampai ke jannah-Nya, Mamah sayang Lha .


Fotonya gak muncul di depan ya? Coba minta bantuan Aa Iyan
Kategorinya juga harus edit, ini termasuk Kisah Inspiratif.